Logika sangat penting dalam kehidupan ita sehari-hari, tentu saja ini berhubungan dengan kemampuan kita untuk bernalar. Beruntunglah kita sebagai manusia diberikan kemampuan penalaran. Jadi pada dasarnya, semua manusia itu secara tidak sadar pasti menggunakan logikanya dalam menjalani kehidupan.

Istilah logika secara etimologis berasal dari kata Yunani logos yang digunakan dengan beberapa arti, seperti ucapan, bahasa, kata, pengertian, pikiran, akal budi, ilmu. Dari kata logos kemudian diturunkan kata sifat logis yang sudah sangat sering terdengar dalam percakapan sehar-hari.

Ilmu logika juga sering disebut sebagai jembatan penghubung antara filsafat dan ilmu, yang artinya teori tentang penyimpulan yang sah. Logika juga bisa didefinisikan sebagai teori peyimpulan yang berlandaskan pada suatu konsep.

Dapat disimpulkan bahwa logiga merupakan ilmu yang mengajarkan aktivitas akal atau berpikir sebagai objek material, sedangkan bentuk dan hukum berpikir merupakan objek formal dari logika.

Manfaat dari ilmu logika, di antaranya untuk membuat daya berpikir lebih tajam dan berkembang melalui latihan-latihan berpikir. Oleh karena itu akan mampu menganalisis serta mengungkap permasalahan secara runtut dan ilmiah.

Pada awal abad pertengahan hingga tahun 1141 M, perkembangan logika masih berkisar pada konsep logikanya Aristoteles, terutama predikasi dan logika proposisi. Dua karya tersebut ditambah karya Booethius dan Pophyries sering kali disebut dengan logika lama.

Sesudah tahun 1141 M, empat karya Aristoteles yang lain lebih dikenal sebagai logika baru. Logila lama dan logika baru diberi nama logika antiq, yang dibedakan dengan logika modern atau logika suposisi yang dikembangkan para filsuf Arab.

Para filsuf Arab menekankan pentingnya pendalaman logika Suposisi untuk menerangkan kesesatan logis. Suposisi dalam hal ini merupakan arti fungsional di dalam proposisi tertentu.

Pada abad ke-7 Masehi berkembanglah agama Islam di jazirah Arab dan pada abad ke-8, agama ini telah dipeluk secara meluas ke Barat sampai perbatasan Prancis sampai Thian Shan.

Di zaman kekuasaan khalifah Abbasiyyah, sedemikian banyak karya-karya ilmiah Yunani dan lainnya diterjemahkan ke dalam bahasa, sehingga ada suatu masa dalam sejarah Islam yang dijuluki dengan Abad Terjemahan. Logika karya Aristoteles juga diterjemahkan dan diberi nama dengan Ilmu Mantiq.

Tokoh logika paling fenomenal pada zaman Islam adalah Al-Farabi yang terkenal mahir dalam bahasa Grik Tua atau Yunani Kuno, menyalin seluruh karya tulis Aristoteles dalam berbagai bidang ilmu dan karya tulis ahli-ahli piki Grik lainnya. Al-Farabi menyalin serta memberi komentar atas karya-karya Aristoteles yang diterjemahkannya.

Al-Farabi belajar ilmu-ilmu Islam dan musik di Bukhara, dan tinggal di Kazakhstan sampai umur 50. Ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di sana selama 20 tahun.

Setelah kurang lebih 10 tahun tinggal di Baghdad, yaitu kira-kira pada tahun 920 M, Al-Farabi kemudian mengembara di kota Harran yang terletak di utara Syria. Saat itu kota Harran adalah pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil. Ia kemudian belajar filsafat dari Yunaha bin Jilad.

Tahun 940 M, Al-Farabi melanjutkan pengembaraan ke Damaskus dan bertemu dengan Sayf Al-Dawla al-Hamdanid, Kepada daerah Aleppo, yang dikenal sebagai simpatisan para Imam Syi’ah.

Kemudian Al-Farabi wafat di kota damaskus pada usia 80 tahun, pada bulan Rajab 339 H/ Desember 950 M, di masa pemerintahan Khalifah Al Muthi’ yaitu pada masa dinasti Abbasiyyah.

Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang ulung di dunia Islam. Ia begitu mengenal pemikiran filsuf Yunani seperti Plato, Aristoteles, dan Plotinus dengan baik.

Al-Farabi dikenal dengan sebutan guru kedua setelah Aristoteles, karena kemampuannya memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Ia filsuf pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti didalam konteks agama-agama wahyu.

Karya Al-Farabi tentang logika menyangkut bagian-bagian berbeda dari karya Aristoteles Organon, baik dalam bentuk komentar maupun ulasan panjang. Kebanyakan tulisan ini masih berupa naskah, dan sebagian besar naskah-naskah ini belum ditemukan.

Sedangkan karya dalam kelompok kedua menyangkut berbagai cabang pengetahuan filsafat, fisika, matematika, dan politik. Kebanyakan pemikiran yang dikembangkan oleh Al-Farabi sangat berhubungan dengan sistem pemikiran Hellenik berdasarkan Plato dan Aristoteles.

Tokoh lain cendekiawan muslim yang terkenal mendalami, menerjemahkan, dan mengarang di bidang ilmu Mantiq adalah Abdullah bin Muqaffa’, Ya’kub Ishaq Al-Kindi, Abu Nasr Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Al-Qurthubi dan banyak lagi yang lain.

Logika pada masa perkembangannya kemudian sempat mengalami masa kemunduran yang panjang. Logika bahkan dianggap sudah tidak bernilai dan dangkal sekali.

Barulah pada abad ke XIII sampai dengan abad XV tampil beberapa tokoh lain seperti Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus Lullus dan Wilhelm Ocham yang mencoba mengangkat kembali ilmu logika sebagai salah satu ilmu yang penting untuk disejajarakan dengan ilmu-ilmu penting lainnya.