Sejarah dan ilmu sejarah merupakan narasi yang ditulis oleh manusia. Manusia ini bisa saja siapa pun. Namun berbeda halnya jika sejarah dan ilmu sejarah yang dimaksud adalah yang diresmikan pemerintah, diajarkan di sekolah-sekolah, dan dianggap sebagai kebenaran di masyarakat luas. Narasi besar sejarah tersebut tidak serta merta terlepas dari segala motif dan nilai yang melekat pada penulisnya (mengingat bahwa sejarah ditulis oleh manusia). Sejarah tidak bisa menulis dirinya sendiri, maka, dapat disepakati bahwa tulisan sejarah merupakan tulisan dengan nilai, motif, dan berbagai kepentingan.

Kepentingan yang dimaksud tidak selalu merupakan kepentingan individual atau kelompok tertentu. Ilmu sejarah merupakan hasil telaah ilmiah yang memang bertujuan demi ilmu pengetahuan. Maka tetap ada kemungkinan bahwa ilmu sejarah juga narasi besar yang tertulis bertujuan murni demi ilmu. Tetapi bukan berarti kepentingan individual atau kelompok tidak bisa mewarnai hasil penulisan narasi besar sejarah. Campur tangan pemerintah dalam hal ini tidak mungkin nihil.

Pemerintah tentu saja bisa memilih sejarahwan mana yang dia inginkan untuk menulis suatu narasi. Hasil tulisan ini dijadikan kurikulum di sekolah ataupun kisah yang mengandung kebenaran, yang pada akhirnya menjadi kebenaran di masyarakat pada umumnya. Pemerintah juga bisa memilih suatu karya tulisan sejarah yang dengan berbagai pertimbangan dianggap layak disebarluaskan. 

Maka, bisa dikritisi betapa rentan suatu tulisan sejarah dari kepentingan dan motif tertentu. Kepentingan dan motif itu bisa saja mengandung unsur nilai-nilai tertentu yang ingin ditanamkan sebagai pengetahuan kepada pembaca luas. Dalam tahap ini, orang boleh khawatir dengan anggapan bahwa yang tertulis berarti kebenaran (dengan berbagai resikonya). Dengan demikian, yang benar tentu diterima.

Salah satu kepentingan yang paling bisa merasuki suatu narasi sejarah adalah kepentingan untuk berkuasa atau mempertahankan kekuasaan. Pemerintah dalam hal ini memiliki kemunkinan sebagai pemilik tujuan. Suatu narasi berisi kisah tertentu yang di dalamnya tertanam moralitas tertentu. Kisah seperti kepahlawanan misalnya, tentu saja memiliki nilai moral yang ingin dijelaskan dan akhirnya diketahui oleh masyarakat luas. 

Namun permasalahan muncul ketika moralitas yang ingin ditanamkan agar dimiliki oleh masyarakat suatu bangsa tersebut tidak benar-benar berasal dari fakta atau kejadian yang sesungguhnya. Dengan demikian, nilai moral yang dihasilkan pun akan berbahaya bagi kehidupan masyarakat.

Seorang filsuf memiliki pandangan kritis mengenai sejarah. Frederich Nietzche beranggapan bahwa sejarah tidak bisa menjadi pengendali kehidupan manusia. Kehidupan manusia tidak boleh tunduk pada sejarah. Dengan demikian, manusia bebas melaksanakan hasratnya dan tidak bergantung pada masa lalu. Beliau juga beranggapan bahwa manusia bisa saja mengotak-atik fakta sejarah sesuai imajinasi atau mimpi-mimpinya agar menjadi sebuah jalan yang mempermudahnya mencapai hasratnya (bagi Nietzche, hasrat itu adalah untuk berkuasa). Berkuasa dalam hal ini berarti manusia bebas dan menjadi tuan atas dirinya sendiri. 

Manusia tidak boleh terjebak dalam suatu sistem. Sistem moral pun termasuk suatu hal yang memiliki kemungkinan menjebak manusia dalam pengambilan keputusan di kehidupannya. Baik dan buruk berasal dari pilihan bebas manusia, bukan dari sejarah tertentu dan sentimen-sentimen yang dihasilkannya. Jika yang mempunyai kepentingan itu adalah pemerintahan, memang tidak salah jika sejarah yang dipilih sebagai kebenaran itu hanya kedok untuk berkuasa. Namun menjadi masalah ketika tindakan tersebut malah mengakibatkan manusia lain (masyarakatnya) terjebak dalam suatu sistem moralitas tertentu.

Suatu narasi besar sejarah bisa mengakibatkan perpecahan dan kehancuran. Perpecahan dan kehancuran itu dihasilkan dari pilihan-pilihan tindakan moral tentang baik dan buruk yang keliru karena didasarkan dari narasi sejarah yang keliru. 

Dalam hal ini, masyarakat menjadi korban pilihan moral pemerintah dan menjadi budak moralitas tertentu, dan pemerintah menjadi tuan moralitas tertentu. Moralitas yang harusnya berasal dari pilihan bebas manusia yang berkuasa atas dirinya pun menjadi hanya sebuah omong kosong. Masyarakat dikendalikan moralitasnya demi melanggengkan suatu rezim untuk tetap berkuasa.

Nietzche merupakan seorang filsuf yang sangat menghindari suatu sistem. Dalam tulisan ini, sistem yang tampak adalah bangunan moralitas hasil karya pemerintah untuk kepentingannya. Bagi Nietzche, masyarakat yang terbawa sistem moralitas ini bukanlah seorang yang bebas, sebaliknya, bagi beliau, mereka ini adalah budak. 

Seorang yang bebas seharusnya merefleksikan dan mencari nilai yang ada di balik suatu sistem. Nilai-nilai yang ditemukan oleh mereka yang menjadi tuan atas dirinya sendiri ini akan membawanya pada kehidupan nyata, bukan kepalsuan yang mirip kenyataan. 

Manusia yang mengetahui nilai-nilai ini dengan menjadi tuan atas dirinya akan terbebas dari kedok-kedok. Manusia harus menghadapi kehidupannya, bukan lari dari kenyataan dengan bersembunyi di balik kedok.