Salah satu mata pencaharian utama masyarakat Jambi adalah perkebunan karet. Terlihat dari statistik BPS tahun 2018, luas kebun karet di Jambi mencapai 667.114 ha. Jauh lebih lebih luas dari perkebunan sawit yang hanya 506.462 ha yang juga mata pencaharian utama di Jambi.

Namun, sayang sekali, sejak tahun 2013, harga karet tidak kunjung membaik. Harga karet pabrik terpuruk di kisaran 10.000 hingga 15.000 rupiah/kg. Sedangkan harga karet basah yang biasa dikumpulkan masyarakat perminggu hanya berada di kisaran 5.000 dan sangat jarang sekali bisa mencapai 10.000 rupiah/kg.

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, tidak heran jika luas perkebunan karet menurun setiap tahunnya. Perkebunan itu diganti menjadi perkebunan sawit yang memiliki harga yang lebih stabil.

Di dalam sejarah, petani karet Jambi pernah mengalami kejayaannya sehingga zaman itu diingat sebagai masa hujan emas oleh masyarakat Jambi. Zaman itu terjadi pada masa kolonial Hindia Belanda.

Perkebunan karet pertama kali dibuka di Jambi pada tahun 1907 oleh residen pertama Jambi, O.L. Helfrich. Kala itu dia menanam 30.000 pohon karet lalu diberikan kepada rakyat Jambi secara percuma. Selain itu, rakyat juga diwajibkan untuk menanam karet masing-masing 500 batang perorang.

Sejak itu perkebunan karet meningkat pesat di Jambi. Sehingga pada tahun 1912 saja pohon karet di Jambi sudah terdapat 885.516 pohon. Meningkatnya jumlah pohon karet di Jambi serta-merta menyerap ribuan pekerja yang terdiri dari orang Jambi asli dan juga pendatang sepeti orang Minangkabau dan Palembang.

Kejayaan karet terjadi sekitar tahun 1924 hingga depresi ekonomi pada tahun 1928. Harga karet saat itu bisa mencapai 20 gulden hingga 55 gulden perseratus kilogram. Umumnya penyadap mampu menghasilkan karet sebesar 15 hingga 30 kilogram perhari. Jika dihitung perbulan, maka pemilik kebun dapat menerima 90 hingga 180  gulden perbulan. Hasil tersebut kemudian dibagi ½ atau 2/3 dengan dua bagian untuk tenaga penyadap.

Fakta tersebut membuat sebagian besar orang Jambi kaya mendadak. Rata-rata penghasilan masyarakat Jambi di antara tahun 1923 hingga 1928 berkisar 114 hingga 118 gulden per bulan. Sedangkan tenaga penyadap bergaji 70 hingga 100 gulden per bulan. Bandingkan dengan gaji agen polisi pribumi yang hanya 15 gulden per bulan. Atau, gaji guru muda SI sebesar 40 gulden seperti yang diceritakan Tan Malaka dalam bukunya Semarang dan Onderwijs, 1922.

Keadaan ini membuat Jambi mejadi kota yang sangat mahal. Rakyat Jambi kebanyakan hanya mau makan beras impor yang berkualitas bagus. Keperluan lainnya juga banyak didatangkan dari daerah lain. 

Pada tahun 1925, beras segantang bisa mencapai 0,50 gulden dan harga ayam berkisar 2 gulden perekor. Sedangkan harga sewa rumah bisa mencapai 7,50 hingga 12,50 gulden per bulan. Jadi untuk mendapatkan hidup yang layak di Jambi dibutuhkan uang sebesar 20 hingga 30 gulden per bulan.

Sebagai perbandingan 1 gulden pada tahun 1920 dapat membeli gula premium seberat 7 kg. Jika dikonversi ke harga gula premium sekarang, harga gula premium seperti Gulaku sebesar 15.000/kg. Jika dikalikan 7, maka 1 gulden saat itu sama dengan 105.000 rupiah di masa sekarang. Bayangkan betapa mahalnya harga ayam atau sewa tempat tinggal di Jambi saat itu.

Kejayaan karet sempat menurun beriringan dengan terjadinya derpresi ekonomi tahun 1928 hingga diterapkan peraturan retribusi tahun 1935. Penerapan retribusi tahun 1935 diingat sebagai zaman kopon (kupon) oleh rakyat Jambi. Dan, merupakan hujan emas kedua bagi petani karet.

Zaman kopon merujuk kepada penerapan sistim kupon terhadap petani karet di seluruh kekuasaan Hindia Belanda. Setiap perkebunan hanya dibolehkan menghasilkan karet dalam jumlah tertentu. Izin tersebut berbentuk kupon yang dikeluarkan sekali dalam satu triwulan.

Penerapan sistem ini berhasil mengangkat kembali harga karet seperti pada periode hujan emas sebelumnya. Harga karet per kilo bisa mencapai 22 hingga 37 sen/kg pada tahun 1937. Jika dalam seminggu petani dapat menghasilkan seratus kilo, maka penghasilan rata-rata bisa mencapai 22 hingga 37 gulden per minggu. Sehingga sangat wajar jika untuk sekali lagi kehidupan rakyat Jambi kembali menjadi mahal.

Orang Jambi kembali membeli barang-barang mahal. Barang-barang impor seperti radio, sepeda dan sepatu kulit laku keras di Jambi. Dalam sebuah surat kabar Nieuwsblad voor Residentie Palembang, Djambi en Bangka tanggal 13 April 1937 diceritakan:

“Suatu kejadian di suatu pelabuhan: pada waktu kapal K.P.M. akan berangkat, datanglah seorang Jambi yang menanyakan ‘apakah masih ada kesempatan untuk membawa sebuah mobil’. Setelah mendapat persetujuan, orang Jambi itu mendatangi sebuah mobil sewaan. 

Sopir yang juga pemilik mobil menawarkan mobilnya seharga f 600, suatu penawaran yang tinggi karena harga mobil sebenarnya tidak sampai separuh dari harga yang ditawarkan. Tetapi orang Jambi itu tanpa menawar langsung membayar mobil seharga f 600 dengan enam lembar uang kertas yang per lembarnya f 100.....”

Demikianlah sejarah bom karet di Jambi. Sebenarnya bom karet terjadi di seluruh petani karet di Hindia Belanda. Hanya saja saya sengaja mengangkat Jambi sebagai contoh salah satu daerah di Hindia Belanda. Di samping pada beberapa kasus harga karet di Jambi jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga karet di daerah lainnya.

Sehingga uang sangat mudah dicari saat itu. Membeli mobil saja sudah seperti membeli mainan di pinggir jalan saja. Bahkan orang akan menawar kalau mau membeli mainan di pinggir jalan.

(Seluruh isi artikel ini bersumber dari tesis Lindayanti yang berjudul Perkebunan Karet Rakyat di Jambi Pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1904-1940 di UI kecuali tentang perbandingan nilai mata uang yang saya kutip dari desranov.blogspot.com)