Hoaks selalu mengingatkan saya pada ungkapan George Bernard Shaw: "Beware of false knowledge; it is more dangerous than ignorance." Bahwa hoaks sangat berbahaya melebihi kebodohan, tampaknya itu cukup mewakili keadaan sekarang.

Hoaks "Corona Ladang Bisnis" telah dipercaya oleh beberapa warga Indonesia. Sehingga dampaknya, ketidakpercayaan masyarakat kepada tenaga medis sudah begitu besarnya. Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: Kenapa orang mudah ‘memakan’ hoaks dan ‘termakan’ hoaks? Jawaban yang saya dapat cukup beragam.

Ada yang berpendapat bahwa hoaks lebih dipercaya oleh masyarakat disebabkan faktor rendahnya kualitas pendidikan seseorang. Pendapat ini bagi saya masih terdapat celah, karena fakta di masyarakat, justru mereka yang berpendidikan tinggi banyak yang menjadi pengonsumsi dan penyebar hoaks.

Sebagian yang lain berpendapat bahwa hoaks bisa menyebar cepat dan diterima oleh masyarakat karena faktor "The Death of Expertise" (Matinya Kepakaran) yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang BUKAN AHLI untuk memengaruhi orang-orang di media sosial.

Pendapat kedua ini sama rapuhnya dengan pendapat pertama. Saya lebih sependapat dengan pendapat yang mengatakan bahwa itu omong kosong saja. Jika memang kepakaran telah mati, kenapa para ilmuwan tidak bersumbangsih meramaikan media sosial dengan teori keilmuan mereka dengan bahasa yang mudah dipahami agar kepakaran itu tidak mati?

Saya justru tertarik dalam sudut pandang yang berbeda mengenai ini. Jangan-jangan kita sudah terbiasa menjumpai hoaks semenjak kecil. Artinya, lingkungan keluarga dan sekolah sudah ikut andil dalam menanamkan hoaks sejak dini, sehingga kita mudah percaya terhadap segala informasi.

***

Sewaktu kecil, saat saya batuk, orang tua saya langsung mengatakan: "Es... Teross... Es... Teros..."

Awalnya saya percaya saja bahwa es bisa menyebabkan batuk. Tapi lama-lama timbul keraguan dalam benak saya. Iseng-iseng saya melihat situs-situs kesehatan, ternyata tidak ada yang menyebutkan es bisa menyebabkan batuk.

Lantas apa relevansinya "Es...teros..." dengan batuk yang saya alami? Bolehkah memaklumi kabar bohong untuk sebuah metode mendidik anak-anak agar nurut kepada kita, misalnya? Apakah metode seperti ini dibenarkan?

Metode mendidik anak dengan hoaks seakan sudah mentradisi turun-temurun. Pernahkah kita mendengar orang tua kita mengatakan bahwa doyan makan brutu nanti jadi bodoh dan pelupa? Masih ingat tidak orang tua sering mengatakan kalau makan harus habis, nanti makanannya nangis?

“Gak boleh duduk di atas bantal nanti bisulan.” “Kalau nyapu harus bersih, kalau nggak nanti jodohnya brewokan.” “Gak sengaja nunjuk kuburan jarinya harus diemut.” Hehe.. dan masih banyak lagi hoaks-hoaxks yang pernah orang tua tanamkan sejak dini.

“Tapi ini, kan, untuk mendidik anak agar menjadi anak yang disiplin dan sehat.”

Jadi, sekali lagi, boleh tidak memaklumi didikan hoaks untuk kebaikan anak? Okelah para ilmuwan dengan segala teorinya di atas mengatakan ini-itu. Tapi apakah benar tidak ada dampak sama sekali soal didikan orang tua kepada anak-anak mengenai hoaks?

Kita sudah diajari sejak kecil untuk memercayai segala informasi tanpa harus mengkroscek informasi itu benar atau salah. Kita sudah terbiasa hidup dengan PERCAYAI saja segala informasi, BUKAN meragukan informasi. Kita menerima kenyataan pahit, bahwa mendidik dengan hoaks bisa dimaklumi demi kebaikan anak. Benarkah semua itu tidak membawa dampak pada anak?

Cobalah kita melihat lebih jauh. Di lingkungan sekolah kita misalnya, guru dilambangkan sebagai sosok yang tidak boleh dikritik, seakan apa pun yang dikatakan guru pasti benar.

Saya masih ingat saat guru saya mengatakan bahwa bunglon mengubah warna karena untuk menghindari pemangsa dengan kemampuan penyamaran (kamuflase). Saat itu saya hanya manggut-manggut saja, ketika mendengar kabar itu. Tetapi ternyata itu hanyalah hoaks.

Dilansir dari Wired bahwa bunglon mengubah warna bukan untuk kamuflase, melainkan untuk mengatur suhu tubuh yang baik agar sesuai dengan lingkungannya. Bunglon yang dingin akan menjadi gelap untuk menyerap lebih banyak panas, sedangkan bunglon yang lebih panas bisa menjadi pucat untuk memantulkan panas matahari. Salah satu faktornya juga, perubahan warna itu sebagai cara untuk berkomunikasi dengan bunglon lainnya.

Bukan hanya contoh ini saja, ada contoh hoaks yang lain yang diajarkan di lingkungan sekolah entah mungkin hingga sekarang. Saya yakin beberapa orang masih ingat tentang cerita guru kita soal apel jatuh di atas kepala Newton, yang konon katanya, karena kejatuhan apel itulah yang menyebabkan Newton menyadari akan teori gravitasi. Padahal ini cerita yang ditambahkan, artinya, cerita ini hoaks.

Cerita yang benar adalah apel tidak jatuh di atas kepala Newton, tetapi dia hanya melihat apel jatuh lalu dia bertanya-tanya kenapa tidak jatuh ke samping atau ke atas. Dari kejadian itu, Newton mulai berteori mengenai gravitasi.

Saya yakin guru sudah memahami bahwa setiap mata pelajaran, pada dasarnya, merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau dari buku-buku saja, melainkan bagaimana mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis.

Ya, berpikir kritis. Dengan cara sederhana saja, mengajak siswa mencari referensi lain sebagai pembanding dengan referensi yang ada di buku ajar. Pernahkah guru mempraktikkan itu kepada siswa?  

***

Selesai dari mengajar saya pulang ke rumah. Saat itu Kakak perempuan saya sedang menggendong anaknya karena rewel tidak mau tidur, sambil menyanyikan lagu yang familiar saya jumpai sebagai pengantar tidur anak-anak.

"Nina bobok... oh nina bobok... Kalau tidak bobok digigit nyamuk." Begitu nyanyinya dengan suara lirih.

Nyanyian itu diulang-ulang berkali-kali oleh kakak, sedang keponakan tertidur pulas tak memikirkan lirik nyanyian itu. Saya dalam hati tiba-tiba memikirkan lirik lagu itu yang menurut saya tidak benar, "Kalau tidak bobok digigit nyamuk." Kesimpulan yang bisa diambil, nyamuk akan berhenti menggigit saat keponakan tidur, benarkah seperti itu?

Ach, tak penting memikirkan lirik itu, ini kan cuma nyanyian, tidak perlu dikritisi, karena nyanyian itu cukup ampuh dalam menidurkan anak-anak. Lupakan saja HOAKS. Dimaklumi saja. Begitu, bukan?