• Seira dan Tongkat Lumimuut
  • Anastasye Natanel
  • Gramedia Pustaka Utama, 2018.


Siapa yang tak kenal Malin Kundang dari Sumatra Barat? Sangkuriang dan Tangkuban Perahu dari Jawa Barat? Atau Legenda terbentuknya Danau Toba di Sumatra Utara?

Cerita yang sudah sangat akrab di keseharian kita. Namun seberapa banyak dari kita yang tahu tentang Siow Kurur, Toar, dan Lumimuut?

Sebuah cerita dari daerah Minahasa. Saya rasa masih sangat jarang yang tahu, karena juga asing bagi saya. Nah, cerita yang masih asing bagi kita inilah yang lalu dibalut menjadi sebuah fiksi fantasi di buku ini.

Saya bukan maniak cerita fantasi, jadi ya, terus terang, agak pilih-pilih untuk masuk ke dalam sebuah cerita. Namun saya mengakui, di buku ini, Kak Naztaa mampu menarik saya sampai benar-benar tidak ingin berhenti membacanya sebelum tamat.

Plotnya rapi dan padat, benar-benar tidak memberi ruang buat napas. Oke, saya hiperbolis. Intinya, buku ini akan lebih nikmat jika dibaca dalam sekali duduk supaya keseruan dan rasa deg-degannya tidak nanggung. 

Cerita berawal dari gambaran mimpi Seira.

Seira seorang gadis biasa, mahasiswi baru, penyakitan sejak kecil, tinggal hanya bersama dengan ayahnya, punya teman cuma satu bernama Gideon (biasa dipanggilnya Giddy) yang sudah dikenalnya sejak kecil. Di ulang tahunnya yang ke-18, Seira memilih merayakan ulang tahunnya dengan sebuah pendakian ke Gunung Soputan bersama dengan Giddy dan tim pecinta alamnya. 

Sepulang dari situ, Seira merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, awalnya dia merasa mungkin hanya letih pengaruh dari pendakian yang memang belum pernah dilakukannya itu sampai akhirnya dia mulai bermimpi tentang seorang wanita yang masuk ke dalam tubuhnya.

Tiga hari setelah itu, saat mulai merasa badannya pulih, Seira merasa ada yang janggal. Mendadak dia merasa tak membutuhkan kacamata, badannya juga jauh lebih fit dari biasanya. 

Lalu dia bertemu gadis kembar di kampus, Mikaela dan Manasye. Anehnya, mereka sangat ingin bersahabat dengan Seira, sedangkan selama ini semua orang tahu Seira adalah gadis tanpa teman. 

Muncul pula seorang lelaki aneh yang bisa membaca pikiran bernama Siow Kurur yang mengaku sebagai pelindung Seira. Pelindung atas apa? Melindungi dari apa? Bermacam keganjilan hadir satu per satu sampai akhirnya Seira tahu bahwa dia adalah titisan Lumimuut.

Siapa pula Lumimuut ini?

Lumimuut dan Toar adalah legenda dari daerah Minahasa. Keberanian Kak Naztaa untuk mengambil legenda ini menjadi latar belakang ceritanya harus diapresiasi, apalagi dia mengemasnya dalam balutan kehidupan modern. 

Siow Kurur yang mengendarai motor gede, Lokon dan Warereh yang tergila-gila pada drone, cukup bikin senyum-senyum. Belum lagi keahlian mendadak Seira yang bisa berkomunikasi dengan para roh Opo di pikirannya. Jangan kira para roh ini kuno dan ortodoks, mereka bahkan jauh lebih gaul daripada Seira.

Adegan yang mengiris-iris mungkin adalah saat Seira tahu ayahnya menyimpan sebuah rahasia besar yang menjadi bumerang sendiri untuknya. Belum bisa menerima kenyataan pahit, Seira juga harus rela kehilangan orang yang paling dia sayang.

Apa Seira bisa menerima kondisi ini? Apa Seira akan menggunakan kekuatannya untuk membalas semua yang sudah terjadi?

Sayang sekali tongkat Lumimuut yang dijadikan judul buku malah kurang di-eksplore. Padahal saya penasaran sekali.

Juga di beberapa bab sebelum ending entah kenapa penulis terasa seperti ingin buru-buru menuntaskan. Dan sangat terasa di bab paling akhir, seperti anti-klimaks jadinya. Padahal sejak prolog konfliknya sudah rapi sekali. Twist di akhir cerita sebenarnya bisa tertebak jika kita teliti dalam membaca sejak awal, karena Kak Naztaa memang meninggalkan kisi-kisi di beberapa adegan.

Banyak yang bilang cerita ini meniru beberapa cerita dari negeri ginseng, Korea. Saya bukan penggemar apa pun dari Korea, jadi tentu saja saya tidak paham. Tapi secara keseluruhan, keberanian Kak Naztaa mengangkat sebuah legenda sangat saya sukai. 

Sebagai sebuah cerita fantasi tentu saja saya berharap endingnya akan lebih wah. Agak kecewa dengan kesan terburu-buru selesai ini. Apakah ini sebuah trik dari penulis agar cerita menjadi tidak terlalu berat dan menggiring pembaca untuk berpikir bahwa akan ada lanjutan dari buku ini?

Bila merunut dari endingnya, saya rasa memang buku ini akan ada lanjutannya. Apakah iya?