Blogger
4 hari lalu · 447 view · 9 min baca · Cerpen 54958_36652.jpg
The root: Obama

Sehari Sama Pacar Saya, Sasha Obama

Saya adalah laki-laki Papua. Berasal juga dari tanah Papua. Lahir dan besar di lingkaran tukang demonstrasi. Berdemo untuk melawan diri sendiri, setan dunia dan setan buatan dari negara (rentetan masalah-masalah HAM di halaman rumah saya), di mana saya berlayar, kapalnya negara Indonesia.

Berjalannya waktu, saya mengandaikan seseorang jadi pacar saya. Dia adalah anak kedua dari  presiden Amerika yang ke-44, Barack Hussein Obama - Sasha Obama. Hanya untuk mencoba melupakan kejadian-kejadian setan setan di atas.

Tidak bisa disalahkan, cinta itu pertama dan terutama memproduksikan dari mata manusia. Kemudian jatuh ke hati. Itulah yang terjadi ketika saya dan Sasha berdemo besar-besaran dan bersama-sama di monumen Lincoln Memorial di Washington, D.C, Jakartanya AS ini tentang larangan orang Muslim masuk ke AS - tindakan presiden Donald Trump.  

Saya dapat dia dari massa tersebut, sudah jadi - jatuh cinta. Tapi kami punya cara berpacaran adalah bentuk compassionate love (intimasi dan komitmen untuk tetap baku jaga ada, tapi untuk berbuat, tidak). Bentuk cinta ini adalah pilihan terbaik saya dan Sasha dalam percintaan kami selagi di lingkaran dunia kencan. Kira-kira itu.

Ketika dia jadi pacar saya, saya memberi pelajaran, pemahaman sejarah, mengingatkan ketidaktahuan keluarga Obama di Indonesia tentang Papua ke Sasha. Tentunya, saya bisa kasih tahu perspektif saya. Saya yang dari Papua.

Saya sebagai pacarnya Sasha, saya cari tahu waktu yang tepat untuk jalan keluar sama-sama. Musim panas, holiday adalah liburan jitu untuk kami berdua.

Di akhir pekan, seperti biasa, pikiran pertema selalu keluar adalah pergi bertamasyah di tempat-tempat andalan untuk dikunjungi.

Saya, pagi-pagi ber-styling seperti bapaknya. Saya pakai baju kemeja lengan panjang, tapi dilipat sampai di siku tangan saya agar kelihatan cool. Sama hal yang digunakan oleh Jokowi dalam pemakaian baju kemeja putih.

Saya cuma mengenakan gelang bintang kejora (GBK) di tanganku; satu untuk dia. Kemudian saya pergi menanti Sasha di luar pagar gedung putih.

Saya menunggu dia di pintu keluar gedung putih, tapi pintu keluar yang di sayap kiri. Pintu yang biasanya Sasha keluar masuk dari sekolah.

Bodyguardnya Sasha pas untuk satu orang saja. Tidak usah banyak-banyak. Dia pikir dia tidak selevel bapaknya. 

Pas dia keluar dari gedung putih, Dia tanya, “kemana kita pergi?” Saya bilang langsung to the point, “bagaimana kalau kita ke pulau Papua Barat?” (nanti kalau saya bilang Papua saja, dia pikir, itu termasuk PNG, kasihan dia bingung). Sayangnya, Sasha menolak permintaan saya.

Dia tidak menolak begitu permanen, tidak. Dia tolak karena kakaknya Malia mau berkuliah di Harvard. Jadi, Sasha mau mengantarkan kakaknya ke Harvard. 

Kemudian. Sasha kasih tahu, “kalau kamu mau ikut, kamu bisa jadi ekor kami.” Setuju saja lalu kami mengantarkan Malia ke Harvard bersama dua bodyguard.

Pergi tidak pakai air force one - pesawat milik POTUS (president of the United states), tapi pesawat jet pribadi Bapaknya, presiden Obama.

Tanggal 17 Agustus 2017 adalah hari perjalanan kami dari DC ke Harvard - negara bagian Massachusetts. Kami transit di JFK, New York kira-kira 6 jam dan lumayan lama. Soalnya, Malia mau beli perlengkapan kuliahnya - school equipment.

Setelah beli alat-alat kuliah, kami langsung saja ke Perpustakaan John D. Rockefeller, Jr. Disanalah, kakaknya pacar saya mengoleksi buku-buku kesukaannya. 

Karena perpus itu terkenal dan dinamakan atas nama keluarga terkaya di New York, Rockefeller, Malia cari buku yang berkaitan dengan kehidupan keluarga Rockefeller.

Malia ingin tahu, kenapa pamili Rockefeller bisa menjadi keluarga terkaya di kota julukan Big Apple? Atau apakah famili Rockefeller memang tidak ada rintangan dalam hidup mereka dan kisah menyedihkan?

Malia tinggalkan pertanyaan seperti di atas karena keluarganya itu berlapis kesuksesan dalam berbisnis dan dunia politik. Apalagi, dari silsilah keluarga Rockefeller, Nelson Rockefeller pernah menjadi mantan wapres AS (ke-41 dari 1974-1977, dan sebelumnya sebagai gubernur ke-49 New York dari tahun 1959-1973).

Malia cari buku tentang mereka di setiap rak buku. Buku-bukunya banyak tentang mereka. Tapi saya sedikit tahu kisah keluarganya Rockefeller melalui buku yang saya pernah baca, saya merekomendasikan Malia tuk booking buku yang berjudul: Rockefeller & the Demise of Ibu Pertiwi, subjudul; when Australia and Indonesia again go to war - karya , Kerry B Collison.

Saya menyarankan Malia beli buku novel bergenre fiksi sejarah itu sejak Michael Rockefeller anaknya wapres AS, Nelson ini hilang jejak di tanah Papua dan dituliskan ceritanya di Novel tersebut.

Katanya, kisah kehilangan nyawa Michael C. Rockefeller, tidak bisa dipastikan apakah dia tenggelam atau diserang oleh buaya atau air deras. Atau karena kanibalisme di wilayah Asmat pada tahun 1961. Yang jelas dia hilang di Papua. Itu saja.

Anak perempuan pertama presiden Obama ini sangat senang dengan buku itu ketika saya menjelaskannya sedikit tentang kehilangan anak wapres AS itu. Karena siapa tahu Malia dan Sasha juga anak presiden, berhati-hati dalam berpetualang sendiri berjauhan seperti Mikael.

Sebelumnya, saya berasumsi Malia mau beli buku bacaan level self-growth, tapi dia juga suka membaca buku-buku bersifat horor dan mengerikan mirip bapak dan mamanya yang kepala baca buku tentang tulisan-tulisan rasial diskriminasi dan perbudakan di Amerika.

Bacaan-bacaan itu menjadi fondasi bagi mereka dalam pencalonan presiden pertama orang kulit hitam, Barack Obama dan FLOTUS (first lady of the united state), Michelle Obama. Itu membuat mereka bisa duduk di rumah nomor satu di dunia - gedung putih, AS. Semua orang tidak dipandang latar belakang dipersilahkan datang ke AS di bawah kepemimipnan Obama selama 8 tahun (2009-2017)

Untuk itu, Malia punya pertanyaan di atas tentang famili Rockefeller adalah mungkin baik-baik saja dan mereka tidak ada rintangan karena mereka berasal dari kaya-raya. Itu tidak begitu juga. Setelah dia baca deskripsi dari buku novel itu, dia tahu mereka juga kehilangan anak Mikael di Papua dari keluarga hartawan.

Malia baru tahu pesan ini;  mereka juga manusia. Kehidupan baik atau buruk dihadapi oleh manusia di bumi, tidak pandang bulu.

Selanjutnya, karena hari itu adalah HUT Indonesia. Saya mengajak pacarku Sasha dan kakaknya mengikuti upacara di kantor KJRI (konsulat jenderal RI) di New York. Tapi karena upacara sudah selesai, kami hanya masuk makan-makan saja.

Sasha dan Malia dipersilahkan duduk di VIP saat makan bersama makanan-makanan khas indonesia. Saya dan bodyguard makan di satu meja dan saya menghindari ketahuan kalau saya lagi berkencan sama Sasha.

Pacar saya Sasha SMS ke saya, “oh ini makanan sate, bakso dan soto?” Soalnya di rumah, “bapakku selalu menceritakan ke kami saat lagi duduk makan bersama.”

Obama rakus makan bakso di Menteng Dalam, Jakarta. Sasha ceritakan ke semua yang ada di tempat itu, apa yang diceritakan oleh bapaknya kepada kedua perempuan ini.

Setelah itu, kami langsung ke mabes PBB. Pacarku Sasha pengen lihat bendera-bendera setiap negara yang berkibar di halaman bangunan PBB.

“Sai?” (panggilan pendek dari Sayang), buang suara tertuju ke saya oleh Sasha. “So, kamu ini kelihatannya sama seperti saya sedangkan orang yang di KJRI tadi berbeda dengan kulitmu. Kenapa bisa begitu?" Katanya.

“My lov”, jawab balik dari saya, “kami di Indonesia itu bersatu meskipun kami ada perbedaan suku, ras, budaya, bahasa. Itu seperti di AS, kamu juga biasa disebut - melting pot (tempat di mana orang-orang dari berbagai ras, negara, atau kelas sosial datang untuk tinggal bersama, baku berbaur menjadi satu hati dan satu tujuan). Kami juga punya simbol negara, satu dalam perbedaan tapi kami menyebutnya dengan, Bhineka Tunggal Ika (BTI).”  saya menjelaskan kemiripan antara melting pot dan BTI.

“Saya tidak persoalkan itu, hani?” lanjut dia. Dia mau tahu status saya yang sebenarnya karena dia juga sedikit tahu tentang Indonesia karena Bapaknya, Obama juga pernah bersekolah di Jakarta. Bapak pernah cerita, dia sendiri kelihatan berbeda di kelas SD saat dia di Jakarta.

“Kenapa kamu jadi orang Indonesia?” dia lagi.

“Oh, perempuan kurang ajar ini! tanya-tanya banyak sampai akar-akar. Ko intel kah?” Marah ke pacarku dalam hati saya saja.

“Ok, kalau Sasha mau tahu, saya hanya kasih tahu satu bagian saja kenapa saya bisa menjadi orang Indonesia.”

“Begini Sai, setelah satu bulan Michael Rockefeller hilang jejaknya pada November 19, 1961, di Rawa Asmat, Papua Barat, nasionalisme Indonesia yang menginginkan wilayah Papua (tanah saya) masuk ke dalam bagian NKRI mencapai puncaknya saat presiden kedua Indonesia, Soekarno mengumandangkan Trikora (Tri Komando Rakyat) pada 19 Desember 1961. Dia dan serdadunya menganeksasi saya dan tanah mama. Mama saya kemudian menjadi di bawah Ibu Pertiwi gara-gara pencaplokan secara paksa. That’s way who am i, now.”

“Jadi begitu Sai.” saya bilang ke dia.

Karena dia belum paham sedikit, saya terangkan bagaimana AS kerja sama dengan Indonesia dalam perebutan Tanah Papua. Kira-kira supaya dia bisa paham tentang dosa-dosa AS di negara lain.

“Sebenarnya, Indonesia tidak akan sebegitu kuat datang merampok tanah dan membunuh orang Papua di bawah penyerangan Trikora, tapi ko pu negara ini kurang ajar betul. Amerika membantu alat-alat penyerangan ke prajurit di Indonesia.” jelas saya.

“Sai, jadi bagi orang Papua Barat, peristiwa ini dipandang sebagai awal mula aneksasi (they forced us to be Indonesian. We (Papuans) did not want to tie with Indonesia at that time ) Indonesia atas Papua Barat. Kemudian, perjanjian yang dilakukan dari kota ini yang terkenal: New York Agreement pada tanggal 15 Agustus 1962 membuat orang Papua jadi orang Indonesia permanen di Indonesia. Disitu juga terlihat, CIA ambil alih dan menendang orang-orang yang kerja di PBB.” Begitu sayang.

“Ko pu negara ini paling terlalu g*bl*k sudah.” dalam pikiranku saja.

"Begitu Sasha, kejadiannya itu; kemudian, saya jadi orang Indonesia. “Kok, kamu punya bapak tidak memberitahu itu?” Tanya ke Sasah.

“Oh? Okay, okay, jadi Sai! kamu sudah jadi Indonesia karena itu?” Jawab pacarku Sasha.

“Ah, iya, jangan bicara banyak, stop it, Sasha, please?” menegur Sasha secara gentleman.

Sekarang tinggal beberapa menit saja tuk terbang ke Harvard dan hampir terlambat. Sasha; namun demikian, mempunyai ekspresinya terlihat bahwa dia ingin mau dengar lebih lanjut tentang status Papua dan perbincangan tentang sejarah Papua tadi.

Bodyguard dan Malia lagi memanggil kami masuk ke mobil sementara kami lagi bicara basa basi tentang cerita aneksasi tadi di depan kantor PBB. Takut terlambat. Dan Kami mulai menuju ke airport JFK.

Setelah dengar cerita singkat di atas tentang pemaksaan dan penyerangan Trikora terhadap orang Papua untuk masuk ke pangkuan NKRI, Sasha pegang tangan saya kuat-kuat.

Selama perjalanan di dalam mobil dan di pesawat - udara, dia menyandarkan badannya ke saya. Dia punya rasa kasihan kepada saya terlihat waktu itu.

Disitulah, waktu yang pas untuk saya memberikan gelang bintang kejora (GBK) sebagai tanda cinta kami berdua. Dia juga berjanji akan kasih saya pernak-pernik asal Hawai setelah tiba di gedung putih.

Kami mengantarkan Malia dengan selamat di Harvard. Senangnya, kamar Malia berdekatan dengan kamarnya Bill Gates, Mark Zuckerberg dan bapaknya Obama dalam satu bangunan asrama.

Saya, pacar saya Sasha dan bodyguardnya Sasha angkat kaki kembali ke DC.

“Selamat jalan, have a safe flight.” 

“Sasha,” kata kakanya berbisik ke telinga Sasha, “kamu rugi jika kamu tidak berpacaran dengan sih laki-laki dari Papua ini.” Pesan dan kata-kata goodbye dari Malia.

Kami sudah tiba di rumah dengan selamat dan Sasha tidak mengingkari janjinya, dia memberikan saya kalung sama seperti yang Moana pake di lehernya - Moana - Heart of Te Fiti Necklace.

Sambil dia menyerahkan kalung itu, dia memeluk saya berlama-lama dengan harapannya untuk melihat Tanah Papua yang saya sudah berjanji tentang ber-traveling ke Papua tadi. Tapi tidak jadi karena mengantarkan kakak perempuannya ke Harvard.

Seperti di awal, saya dan Sasha bercinta bersifat compassionate love saja, salah satu teori hubungan cinta yang dikembangkan oleh psikolog Robert Sternberg yakni: triangular theory of love, teori cinta segitiga. Kami jatuh cinta tapi kami tidak merasa ketertarikan pada orgasme dan baku berbuat.

Artikel Terkait