Siapa sih arkeolog itu? Apa sih yang dipelajari seorang arkeolog? Apa sih yang diteliti oleh seorang arkeolog?

Begitu mungkin pertanyaan yang sering berkelebat di kepala kita, ketika kita bertemu dengan orang yang berkecimpung dengan "dunia arkeologi". Dari beberapa sumber mengatakan bahwa arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. 

Jadi, mungkin kita bisa menarik kesimpulan tentang Arkeolog. Arkeolog adalah seorang yang seseorang yang mempelajari "masalah masalah masa lampau" melalui benda purbakala sehingga ia bisa disebut ahli arkeologi.

"Benda, atau bangunan yang berumur lebih dari 50 tahun sudah dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang langka, namun harus memenuhi syarat tertentu yang misalnya, bernilai budaya dan menunjukkan kepribadian bangsa."

Begitu kata bapak Yusuf Naim, dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Barat yang wilayah kerjanya mencakup Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Utara, di areal pekuburan Ondongan, kompleks makam Raja-raja Hadat Banggae Mandar, Majene, Sulawesi Barat. 

Kali ini aku kesini yang kedua kalinya untuk menemui dan menemani seorang sahabat, Ana, sebelumnya ia menelponku yang sedang mengambil data makam kuno. Dulu, aku dan Ana pernah bersama ketika kuliah di Jogja. Kami saat itu sekontrakan dan sekampus. Bedanya, ia mengambil jurusan Arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya. 

Sedang aku, mengambil konsentrasi agama dan budaya. Kini, ia telah menikah, memiliki dua anak, dan menjadi dosen Arkeologi pada sebuah kampus negeri di Sulawesi Selatan.

Ketika Ana dan suami sedang asyik meneliti lumut yang tumbuh di makam kuno, mengarsir lontar yang terpahat di makam untuk mendapatkan keterangan, sampai pada mengukur makam dan lain sebagainya. 

Aku sendiri dan adik Ammoz, yang menemani sedang mendengar penjelasan pak Yusuf Naim, beliau mengklaim Islam hadir di Mandar sejak sekitar abad ke 13-14 ditandai dengan adanya makam bercorak ukir Barongsai yang dipercaya adalah makam milik orang Cina. 

Selain makam kami juga mendapat pengetahuan baru jika arsitektur  atau ragam hias makam kuno etnis Mandar adalah dicirikan dengan nisan bentuk mahkota dan keris. Dari penjelasan pak Naim, aku penasaran, kemudian berfoto-foto di makam yang disebutkan oleh beliau.

Hari menjelang siang, aku malah terus menyelusuri  makam sampai ke pojok areal pemakaman Ondongan itu. Ana sebagai peneliti mengingatkanku agar jangan lupa mattabe-tabe, meminta izin, permisi ketika melewati makam tadi karena banyak cerita mistis yang beredar.

Namun, ketika baru sampai di pojokan Ondongan tempat biasanya orang melihat yang aneh-aneh. Ana tiba-tiba menelpon, ia mengatakan; kesini ki dulu makan siang. 

Akhirnya, foto-foto batal. Kami kemudian makan siang dengan menu makanan ala Mandar; ikan masak ala Mandar atau bahasa lokalnya, bau peapi bau oyo. Ikan besar dipotong dan dimasak dengan bumbu rempah seperti bawang Mandar, Minyak Mandar, lombok besar, garam sampai asam mangga kering yang digunakan asli milik suku Mandar.

Ada juga Penja tumis, yang merupakan ikan yang dipercaya cuma hidup di Mandar, Sulawesi Barat bentuknya sangat mungil  hampir seperi ebi udang tapi rasanya khas dan enak. Ada ikan bakar bumbu jeruk nipis, sayur nangka santan, sampai Jepa atau pizza ala Mandar yang terbuat dari sagu yang dipanggang, sampai pepaya sebagai penutup.

Ketika kami selesai makan, teman kami yang juga barengan hidup di Jogja datang. Ia adalah Mila seorang anak Pesantren di Jakal, Jogja yang kini jadi guru pengaji yang membawa Jalang kote bikinannya yang sangat enak. Akhirnya, kami makan Jalang kote dengan airnya (sambaelnya) dan pisang Barane yang membuat kami sangat kenyang.

Lalu, kami melanjutkan memfoto –foto dan bercerita kembali tentang makam. Jika di sekitar makam ada vandalisme, banyak sekali tulusan-tulisan di batu nisan. Mereka, si orang-orang yang tak bertanggung jawab terkadang menduduki sambil memfoto di makan yang dapat merusak makam.

Mereka tidak menghargai "rumah" leluhur, apalagi mau menjaga bagian dari sejarah masa lalu itu. Aku dan Ana pun berdiskusi, apa yang seharusnya kita lakukan untuk menjaga makam kuno? 

Kata Ana, jangan sampai mengambil foto yang bisa merusak makam seperti  menginjak dan mendudukinya. Dari Balai pelestarian sendiri salah satu cara menjaga makam biasanya ada proses pembersihan makam seperti memberikan semacam obat, formula untuk melambatkan tumbuhnya lumut, rumput, dan sebagainya yang dapat merusak batu nisan.

Pulangnya, kami kembali singgah di rumah Ani, di Tinambung, ia juga seperti saudara ketika kami berkuliah di jogja, kami juga sekontrakan dan sekampus. 

Suami Ana, Odang, yang concern di  museum Mandala Majapahit (Manma) Unhas, yang merupakan wadah untuk menggali dan menyebarluaskan pengetahuan tentang Majapahit di wilayah Timur Indonesia. Ia mencari sumber-sumber tentang sejarah kerajaan Majapahit, yang biasa kami sebut, Manjopai yang ada di Mandar, Sulawesi Barat. 

Nah, Ayah Ani banyak  memberikan masukan dan memberikan nama tokoh yang bisa dijadikan sumber, referensi untuk wawancara tentang informasi tersebut.

Hari Kedua, Bukan Makam tapi Makan

Hari kedua bersama Ana. Kami belum ke makam lagi tetapi menemui teman Ana dan Odang, bapak Yassin seorang kepala bagian Pengembangan Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Selain temu kangen dengan Ana dan Odang, beliau mengajak kami makan di sebuah tempat makan yang terkenal di Pamboang, Majene, yaitu; Dapur Mandar Pamboang. Dapur Mandar  mengusung masakan lokal Mandar selera Nusantara ini milik keluarga dari bapak  Yassin.

Di sana sebelum kami makan, kami asyik mendengar cerita-cerita dari bapak Yassin tentang kebudayaan, dan pengembangan kota Majene ke depan. 

Sebelum pesanan ikan bakar datang, aku ingat, jika aku berteman di IG dengan anak sang pemilik Warung makan ini, Atria. Atria seorang bookstagram, blogger, dari Sulawesi Barat. 

Kami kemudian bertemu dan mengobrol banyak hal, ia yang suka menulis jurnal, catatan harian. Ia juga memberikan masukan masalah penerbitan dan sebagainya. 

Wah, perempuan yang keren sekali, dibalik kesibukannya sebagai pegawai pemerintah, ibu dua anak, ia masih sempat membaca buku dan membuat webinar sebagai nara sumber masalah penulisan.

Pulang dari Dapur Mandar, kami kemudian singgah di BMKG Majene untuk meminta data statistik cuaca, semuanya berhubungan dengan makam. Karena untuk mengetahui kondisi makam seberapa lama ia terpapar matahari, kena hujan, dan sebagainya. 

Saat itu kami ditemani pak Idham lagi yang sangat berdedikasi pada tugas-tugasnya sebagai Koordinator juru pelihara Kompleks Makam Raja-raja dan Hadat Banggae di Ondongan yang kemarin juga menemani kami di areal pemakaman. 

Ah, manusia aja bisa rapuh kena hujan-badai, dan kulitnya rusak bila terus-menerus terpapar  sinar matahari.

Dari sana, kami singgah ke rumah Mila yang sudah membuat pisang ijo untuk kami. Ia memang perempuan yang jago masak namun masih sempat mengajar anak-anak kecil mengaji yang berjumlah sekitar 60 orang.

Senangnya aku dua hari ini menemani arkeolog, siapa tahu besok bisa jadi arkeolog beneran?