Penulis
3 bulan lalu · 44 view · 3 menit baca · Wisata 25483_97259.jpg
Dok. Pribadi

Sehangat Pasir Sumenep

Science and technology revolutionize our lives, but memory, tradition, and myth frame our response. (Arthur M. Schlesinger -- American Historian)

Nanti kalian, saya bawa ke alam kubur. Kami dengar kalimat teman lokal ini tidak main-main. Ziarah alam baka. Ulangnya tanpa raut muka berkelakar. Tempat sakral dan sering terjadi kejadian aneh. Mungkin kalian akan mengalami hal-hal magis. Saya kira, beberapa teman termasuk saya langsung deg-degan. 

Kami bertolak bersama pemburu waktu lainnya di jembatan terpanjang di Indonesia; 5.4 kilometer: Jembatan Suramadu. Memecah siang dalam buai angin langit yang terik. Olle ollang paraona alajara, olle ollang alajara ka Madura (berlayarlah perahu, berlayar ke Madura). Hanya kurang 30 menit untuk tiba di tanah Bangkalan.

Tapi kami tak berhenti di sana. Mobil berkelok menuju Sampang, lalu Pamekasan, dan melesat ke ujung timur; Sumenep. Memakan waktu hampir empat jam. Sepanjang jalan yang ada hanya kemarau, udara panas tak penah tuntas. Cemara dan randu ranggas melukis bayang pada talangan; ladang-ladang garam yang tengah mengering. 

Sebagai bagian dari Pulau Madura, masyarakat Kabupaten Sumenep sedikit banyak terikat dengan konstruksi stereotype. Pelbagai literatur menyebut etnis Madura identik dengan keras, kaku, sangat ekspresif, bahkan menakutkan. Van der Elst bilang banyak sekali perbedaan orang Madura dengan gambaran orang Timur pada umumnya.

Lebih dari itu, sesungguhnya masyarakat Madura memiliki karakter tegas, mandiri, pantang bergantung pada orang lain. Tidak sedikit warga Madura merantau ke banyak kota kemudian membentuk koloni. Pada koloni-koloni ini umumnya mereka berperan sebagai “penguasa”. Di sektor informal misalnya; tukang rombengan (barang bekas).

Tak banyak penginapan di Sumenep. Hanya ada satu dua. Dan saya ingat di lobi sebuah hotel terdapat etalase memampang pelbagai ramuan khas Madura; minyak urut, bubuk galian, empot-empot super, hingga tongkat ajimat. Madura selain dikenal dengan carok dan baju sakerah, karapan sapi atau tradisi nahdliyin juga adalah serbuk nikmat surgawi.

Langit Sumenep dikuasi warna pagi. Kami menyeruput teh hangat ditemani surabi yang warga menyebutnya apem. Beberapa saat kemudian, kami ke menuju pantai utara mengarah ke Ambunten hingga Pantai Slopeng di Kecamatan Dasuk. Pantai sepanjang 6 km itu lengang. Hanya satu dua duduk di bale bengong yang dirimbuni pohon cemara. Di tepi pantai gundukan pasir rimbun membatasi jalan raya dengan debur air yang tenang.

Seperti namanya Sumenep adalah lembah atau cekungan yang tenang. Berasal dari Bahasa Jawa Kuno/Kawi, Songènèb di mana sung berarti cekungan dan ènèb adalah tenang. Selain pantai yang indah, Sumenep menyimpan tradisi kehidupan masyarakatnya yang unik. Salah satunya di Desa Legung yang dikenal sebagai kampung kasur pasir.

Hari beranjak sore saat kami tiba di itu. Tampak di pekarangan beberapa perempuan duduk bercengkerama. Tidak di atas kursi, tapi bersimpuh di hamparan pasir. Masyarakat Desa Legung populer sebagai “manusia pasir”. Tak hanya sebagai tempat duduk, pasir adalah alas tidur siang malam. Bukan tak mampu membeli kasur, melainkan ini tradisi leluhur.

Tak ada yang lebih menyatu dengan pasir daripada masyarakat Legung. Pasir teman berbisik, wanginya dicium hingga mimpi. Mengingatkan manusia diciptakan dari bumi dan akan kembali ke bumi. Begitu Furkon, teman lokal menjelaskan. Langit ditinggikan, gunung-gunung ditegakkan, dan bumi dihamparkan. Semuanya mengandung peringatan. Lanjutnya memaksa kami senyap.

Sumenep memang kaya akan budaya tinggi. Kota ini telah adalah jiwa dari kebudayaan Madura sejak 700-an tahun silam. Satu buktinya adalah Keraton Sumenep di timur plaza kota. Arsitek Keraton Sumenep perpaduan Eropa, Arab, dan China. Tampak dari pilar-pilar dan lekuk ornamen ukiran burung hong. Di sudut keraton terdapat kolam Taman Sare. Diyakini air di kolam membuat anti-aging sehingga enteng jodoh.

Melangkah ke sebelah barat alun-alun terdapat Masjid Agung Sumenep. Serupa dengan keraton, konstruksi masjid menggambarkan hibridasi unsur budaya Cina, Eropa, Jawa, dan Madura. Konon desainernya adalah warga Tionghoa; Lauw Piango. Bukti harmonisnya hubungan Tionghoa-Sumenep.

Karena hidup adalah ziarah. Mari kita rayakan dengan mengunjungi kompleks pemakaman Raja-Raja Sumenep di area Pemakaman Asta Tinggi. Lokasi Pemakaman Asta Tinggi terletak di Bukit Kebonagung sebelah barat pusat Kota Sumenep.

Kompleks pemakaman ini memiliki dua gerbang, yaitu Barat dan Timur. Sebelum masuk area pemakaman kami disarankan membeli bunga tabur yang dicampur irisan daun pandan. Ketika memasuki area pemakaman alas kaki atau sepatu harus dilepas. Saya serahkan bunga tabur ke teman yang biasa memegang kamera.

Kami memasuki satu per satu gerbang pemakaman. Di samping kiri kanan tertegun pusara-pusara dengan ubin warna-warna muda. Suasana sejuk. Semua terlempar ke alam lain yang serba hening. Aroma semboja bersilir. Setelah mengisi buku tamu dan menyisihkan sejumlah uang, teman masuk mendekati kuburan besar bersungkup kain untuk menaburkan bunga. Saya bersiap dengan kamera. Tapi apa terjadi? Kamera mati. Seketika tombolnya tidak berfungsi.