Kontestasi wacana dengan mengusung spirit post-truth menciptakan konstruksi perubahan yang memengaruhi praktik jurnalisme. Hal ini membuka jurang pemisah atau segregasi yang melahirkan pertarungan kubu dalam dunia jurnalisme, yaitu jurnalisme data dan jurnalisme viral.

Nicholas dalam The Death of Expertise (2017) menguraikan bahwa standar penilaian ilmiah telah mengalami keruntuhan. Euforia jurnalisme viral ditunjukkan oleh ketidakmampuan masyarakat dalam membedakan pemberitaan yang informatif dengan spekulatif; proporsional dengan berlebihan.

Sementara itu, dalam gelombang kebudayaan, masyarakat kian terhegemoni arus informasi yang cepat memberikan kemudahan dalam segala akses. Kondisi ini membuat dilema praktik jurnalisme. Beberapa media akhirnya mengaplikasikan jurnalisme viral yang mengutamakan kecepatan dibandingkan ketepatan.

Praktik Jurnalisme Viral di Indonesia

Ada beberapa tren yang mewarnai jurnalisme viral di Indonesia. Pertama, mengutamakan kecepatan dibandingkan ketepatan. Kedua, kecenderungan sensasionalitas sebagai menu utama. Ketiga, memelintir suatu isu. Keempat, media abal-abal yang tidak berbadan hukum, terbit dalam waktu temporer, dan penggunaan bahasa yang memenuhi kaidah jurnalistik.

Jurnalisme viral berarti jurnalisme yang tidak lagi memosisikan dirinya sebagai watchdog. Artinya, praktik jurnalisme tidak mengupayakan kontrol sosial-moral dengan menyajikan informasi kepada masyarakat, melainkan menjadi arena yang sarat konflik kepentingan berbagai pihak.

Informasi dan arus media sosial menggugah suatu media untuk menjadi agregator berita yang pertama. Verifikasi dan konfirmasi ditiadakan, sedangkan unggahan-unggahan viral yang spekulatif justru diungkapkan sehingga rentan menimbulkan kepanikan dan kegamangan. 

Fenomena jurnalisme viral merupakan jurnalisme desas-desus yang menyajikan model pemberitaan dengan berorientasi pada viral. Dengan kata lain, kehadiran jurnalisme viral ini merupakan fenomena abal-abalisme yang orientasi utamanya adalah pasar dan kapitalisasi daripada standar dan etika jurnalistik.

Bentuk lain dari jurnalisme viral adalah wartawan abal-abal yang tidak memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman jurnalistik. Mereka mendirikan perusahaan pers tanpa badan hukum atau media abal-abal serupa. Mereka cenderung tidak beretika, spekulatif, dan tidak mempertimbangkan sumber.

Jurnalisme Data: Sebuah Penawar dalam Era Kontestasi Wacana?

Jurnalisme data memiliki posibilitas sebagai model pemberitaan baru yang menceritakan kompleksitas peristiwa melalui data infografis. Jurnalisme data meliputi: mengumpulkan, menyaring, dan memvisualisasikan data dari suatu peristiwa merupakan serangkaian kerja yang ditawarkan oleh jurnalisme data ini.

Jurnalisme perlu melihat data tidak hanya sebagai sebuah kepentingan, melainkan juga kesempatan. Melalui data, seorang jurnalis atau wartawan dan media dapat menyajikan suatu perkara yang abstrak menjadi mudah dipahami oleh mitra media melalui transformasi dan penggunaan data.

Jurnalisme ini mengubah pola jurnalisme yang lebih profesional melalui penggalian data. Ketika dunia jurnalisme dan ruang redaksi mengalami penurunan dan dinamika di masyarakat, jurnalisme data merupakan gagasan baru yang futuristik bagi eksistensi jurnalisme di Indonesia.

Jika dikomparasikan dengan jurnalisme viral, jurnalisme data merupakan payung berpikir dengan serangkaian alat, teknik, dan pendekatan cerita. Sebab, tujuan utama dari jurnalisme ini tidak lain adalah menyediakan informasi dan membantu mitra media dalam menginformasikan isu penting dalam keseharian dan rutinitas.

Meskipun kontestasi wacana beserta era digital membawa limbah informasi yang kadang bermuatan negatif, posisi jurnalisme data tidak berarti menafikan perkembangan era digital. Jurnalisme ini justru memvisualisasikan sumber data lantas melakukan pendekatan terhadap kemajuan era digital tersebut.

Pada faktanya, pertalian antara data dan jurnalisme tumbuh makin besar. Jurnalisme data menempati kepentingan praksis untuk menyediakan konten, kejernihan, dan kebenaran sebuah berita, melalui verifikasi, analisis, dan sintesis data, untuk selanjutnya dapat menyediakan konsumsi publik berupa berita.

Lantas, pada akhirnya, kita menyadari bahwa kehidupan kita sejatinya adalah data. Jurnalisme data memang berat, sebab jurnalisme yang bagus juga berat. 

Proses penggalian, pemahaman, analisis dan sintesis, lantas visualisasi data adalah ikhtiar teknis untuk menempatkan jurnalisme sebagai moda ketahanan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat.

Kebudayaan dan Masa Depan Jurnalisme Kita

Manusia, media, dan kebudayaan senantiasa berjalan beriringan. Era kontestasi wacana telah membawa masyarakat dalam ruang-ruang postmodernisme. Hal ini turut didukung oleh spirit digitalisasi yang telah membawa babak baru dalam dunia jurnalisme. 

Babak itu adalah terciptanya gelanggang pertarungan antara jurnalisme viral dan jurnalisme data.

Segregasi atau pemisahan menciptakan perubahan-perubahan transformatif yang menghadapkan jurnalisme pada dua sisi: idealisme dan pragmatisme. Jurnalisme bisa memegang teguh nilai-nilai dan kode etik jurnalistik sebagai muruah agregator berita, penyampai informasi, dan media bagi masyarakat.

Namun, media dapat pula mengakomodasi dirinya dengan mengobral viral sehingga menjadi konsumsi publik yang seolah-olah tidak memiliki hayat kecuali demi keuntungan finansial dan barangkali berakibat pada pemahaman yang fatal.

Masa depan kita perlu disambut dengan menempatkan jurnalisme data sebagai instrumen baru untuk menempatkan jurnalisme pada posisi strategis di masyarakat. Kehadiran jurnalisme data merupakan momentum dan ruang reflektif untuk mempertanyakan kondisi dan posisi media dan jurnalisme di tengah masyarakat.

Napoleon Bonaparte pernah mengatakan, “Saya lebih takut pada pena wartawan daripada seribu moncong meriam.”

Sebab, bagaimana tidak, wartawan menggali informasi sedalam dan sekomprehensif mungkin tentang sebuah masalah lantas dilaporkan pada publik. Sehingga, wartawan bukan hanya penyaji berita, melainkan pengawas, penguasa, dan guru bangsa.

Pada akhirnya, jurnalisme data adalah fajar esok yang lebih cerah bagi dunia jurnalisme kita. Fajar itu menawarkan kualitas yang bersanding dengan integritas; untuk mengemas tinta pada kertas menjadi harapan publik yang bernas. Dengan nurani, berita menjadi sajian pantas tanpa perlu suara keras dan hawa panas. 

Semoga, dengan memandang realitas dan lapangan jurnalistik yang mahaluas dengan problematika yang berutas-utas, jurnalisme kita masih melahirkan produk-produk berita yang berkilas sembari menawarkan harapan yang kelak bertunas.