Pintu besi tua itu terasa berat berderit ketika Safira mendorongnya dari luar. Mungkin karena engselnya yang sudah rapuh atau karena jarang diolesi minyak. Namun pintu besi berumur nyaris seabad itu masih terbilang kokoh. Begitu pula bangunan rumah tua yang ada di baliknya. 

Di masa kejayaannya dulu, pagar rumah itu masih berbentuk tembok tinggi. Seperti pada umumnya rumah-rumah besar di kota Solo yang pagarnya mirip bangunan benteng jaman Belanda.

Tapi setelah Safira menempati rumah peninggalan eyangnya itu, ia mengubah pagar temboknya menjadi pintu lipat memanjang, yang setiap siang dibuka untuk rumah makan masakan khas Jawa Tengah. Ia masih mempertahankan pintu besi sebagai jalan masuk lewat samping.   

Dari pintu besi itulah Safira memasuki bagian rumah yang dulunya adalah pekarangan yang ditanami pohon anggur. Dulu daun-daunnya yang hijau merambat menghiasi bagian atas pekarangan, dengan buah anggur ungu yang bergelantungan. Kebahagiaan masa kecilnya ketika memetik anggur dari atas loteng masih terekam jelas dalam ingatannya.

Kini pekarangan di bagian depan rumah itu telah dibangun menjadi sebuah rumah makan. Dindingnya disekat oleh gebyok berukiran khas Jawa tengah untuk menampakkan nuansa tradisional pada ruangan itu.     

Safira berjalan menuju dapur dan meletakkan belanjaannya di atas meja untuk diserahkan pada mbak Nunung yang sedari tadi sudah sibuk memasak. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah induk.

Ia melewati kamar Bagas yang dulunya adalah kamar eyang kakung, buyutnya Bagas. Suasana sepi, rupanya anak sulungnya itu sudah berangkat ke kampus. Pintu kamarnya terbuka lebar.

Safira tiba-tiba berhenti dan berdiri tercengang memandang ke dalam kamar. Ia baru sadar bahwa ia tengah berada persis di tempat di mana ia berdiri 40 tahun silam. 

Gadis berusia 5 tahun  itu menatap lurus ke arah pintu kamar yang terbuka. Ia melihat eyangnya sedang duduk di depan meja kerjanya, menghadap ke pintu.

Merasa diamati oleh bola mata bening cucunya, Eyang Dahlan pun melambaikan tangan, menyuruhnya masuk.

Safira kecil mulai melangkah dengan ragu, karena ia merasa amat jarang berinteraksi dengan Eyangnya. Lalu Eyang Dahlan kembali melambaikan tangan.

 "Sini!" ajaknya lagi.

Sebetulnya Safira tak pernah merasa takut pada Eyang Dahlan, meskipun kebanyakan orang, termasuk istri, anak dan menantunya sendiri merasa segan pada lelaki yang selalu berekspresi datar itu. Mulai dari pelayan, karyawan, sahabat, kerabat dan relasi bisnis, semuanya menaruh hormat pada sosok Eyang Dahlan.

Lincah Safira memasuki kamar dengan rambut ekor kudanya yang berkibar kesana-kemari. Langkah-langkah kecilnya berhenti tepat dihadapan meja kerja eyangnya.      

Eyang Dahlan membuka laci meja dan memasukkan tangannya ke dalam laci. Lalu ia mengeluarkan segepok uang warna-warni yang sangat tebal.

Pengusaha batik yang terbilang sukses di Solo itu, menyodorkan gepokan uangnya ke arah Safira kecil. Gadis itu hanya mengamati Eyang Dahlan dengan tatapan mata polosnya. Sungguh ia tak tahu apa maksud eyangnya itu.

"Ini nanti buat Fira," kata Eyang Dahlan sambil tersenyum bangga dan mengangguk-angguk. Seolah seluruh harga dirinya sedang ia pamerkan lewat uang itu.   

Namun gadis mungil berkulit putih itu hanya melongo. Eyang Dahlan memasukkan kembali uangnya ke dalam laci. Safira pun segera melesat pergi.

Sejak itu, segepok uang warna-warni selalu menjadi tanda tanya bagi Safira. "Mengapa Eyang ingin memberikannya untukku? Kapan ia akan memberikannya untukku?"

Di dalam benak Safira kecil, eyang kakungnya adalah sosok yang mewakili imajinasinya tentang Tuhan. Yaitu sosok tinggi besar yang wibawanya membuat semua orang tunduk di hadapannya, memakai kain sarung, baju koko dan peci yang semuanya serba putih, dengan untaian tasbih di tangannya

Suatu ketika saat sedang makan siang, seperti biasa Eyang Dahlan duduk di ujung meja makan. Sedangkan eyang putri, bapak, ibu dan Safira duduk di sisi kiri dan kanan meja makan.

Eyang Dahlan, dengan sikapnya yang kharismatik menyodorkan sebuah gelang emas pada cucu kesayangannya. Gadis itu menatap ke arah ibunya meminta persetujuan. Ibunya pun mengangguk. Safira kembali menatap eyangnya, lalu menerima gelang emas yang mungil itu.

Apakah ini yang dimaksud eyang ketika ia menjanjikan segepok uang warna-warni? Apakah ia memberikannya dalam bentuk gelang emas? Safira kecil ragu akan jawaban atas pertanyaan itu dan ia pun segera melupakannya.

Teringat akan tugasnya di rumah makan, Safira bergegas kembali ke dapur untuk membantu mbak Nunung melayani pengunjung yang datang untuk sarapan.   

Dua bulan yang lalu, Mbak Nunung, asisten rumah tangga yang sudah merawat Safira sejak kecil itu begitu gembira mendengar khabar bahwa momongannya akan pindah dari Bandung ke Solo, meskipun ia sangat sedih mendengar khabar perceraian perempuan yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu.

Belasan tahun ia mengasuh Safira kecil sampai akhirnya mbak Nunung kembali pulang ke kampungnya untuk menikah. Untung saja kedua anak mbak Nunung kini sudah dewasa dan bekerja di luar kota, sehingga ia bisa memenuhi permintaan Safira untuk tinggal bersamanya dan membantunya mengelola rumah makan.

"Mbak Nung senang mbak Fira sekarang tinggal di Solo. Jadi mbak Nung bisa meladeni mbak Fira lagi," kata mbak Nunung sambil mencuci piring.

"Mau tak mau tujuanku cuma Solo, mbak Nung. Setelah cerai dari Papanya anak-anak, aku nggak pengen lagi hidup di Bandung," jawab Fira.

"Lagipula ini kan rumah mbak Fira juga," jawab mbak Nunung.

"Eyang, Bapak, Ibu... semuanya sudah gak ada. Siapa lagi yang nempati rumah ini kalau bukan mbak Fira. Apalagi rumah sebesar ini sudah lama kosong mbak, sayang kalau ndak ditempati," lanjutnya sambil menggoreng tempe dan tahu bacem.

Perceraian telah membuat Safira berpikir untuk pulang kembali ke tanah leluhurnya. Ia ingin merintis bisnis kuliner di situ. Dan ketika Bagas diterima di Universitas Sebelas Maret, Safira menganggapnya sebagai tanda bahwa Tuhan memang menghendaki Safira kembali ke Solo bersama ketiga anaknya untuk memulai hidup baru.

Kadang Safira berpikir, mungkin bukan gelang emas yang dimaksud eyang ketika ia menjanjikan segepok uang pada Safira Kecil.  

Rumah kuno yang bahkan sudah dibangun sebelum Indonesia merdeka itu sudah diwariskan turun temurun dari Eyang Dahlan, lalu ke Pak Santoso, dan kini jatuh kepada Safira.

Mungkinkah janji eyangnya itu diberikannya dalam bentuk rumah warisan? Bisa jadi begitu. Namun entah mengapa Safira masih tetap belum yakin akan jawabannya sendiri.

Tak banyak kenangan bersama Eyang Dahlan yang Fira miliki. Namun Pak santosa punya banyak rekaman kenangan tentang Eyang Dahlan yang tak pernah bosan ia ceritakan pada putrinya.

"Awalnya dulu Eyang itu seorang guru agama dari desa kecil di pelosok Klaten. Tapi rupanya dia punya bakat berdagang. Apalagi Eyang memang suka sekali sama uang." Safira menyimak cerita bapaknya sambil duduk bersila di atas sofa. Sementara itu Pak Santoso duduk di hadapan putri remajanya, sambil menikmati pisang goreng yang disediakan istrinya. 

"Pantas uangnya banyak ya Pak." Pak Santoso mengangguk.

"Eyang itu anak pertama dari lima bersaudara. Dia jadi tumpuan keluarganya."

"Sejak muda Eyang sudah jadi pedagang batik yang sukses." Pak Santoso berhenti sejenak untuk menyeruput teh dari gelas termosnya.

"Dia menikahi seorang gadis dari keluarga bangsawan, Eyang Putrimu itu," jelas Pak Santoso.

"Bisnisnya terus berkembang sampai akhirnya punya pabrik batik sendiri."     

"Kenapa Bapak nggak mau meneruskan bisnis Eyang?"   

"Bapak dulu nggak pernah mau disuruh bantu Eyang berdagang."

"Hahahahah,"

"Bapak lebih suka baca buku dan nulis, makanya Bapak senangnya belajar dan mengajar," jelas Pak Santoso.

"Apa Eyang nggak kecewa Pak?"

"Waaaahh... kecewa sekali. Sangaaaaat kecewa. Tapi di sisi lain, Eyang juga bangga pada prestasi akademis Bapak.

Dua Minggu sebelum Eyang Dahlan wafat, daun-daun pada pohon anggur mulai kering. Lalu berguguran sampai nyaris gundul. Saat itu Eyang Dahlan sedang sakit komplikasi karena diabet. Eyang Dahlan berpulang tepat di masa puncak kejayaan bisnisnya. Bersamaan dengan itu, pohon anggur yang ditanamnya di pekarangan pun ikut mati.

Ia tahu bahwa putra mahkota semata wayangnya tidak ditakdirkan untuk mewarisi tahta di kerajaan bisnis yang telah dibangunnya dari nol. Eyang Dahlan dengan kebesaran hatinya telah memberikan restu bagi calon penerusnya yang memilih untuk menjadi seorang akademisi dan mendaki perjalanan karirnya sendiri, walaupun pada akhirnya, usia tak memberinya kesempatan untuk menyaksikan keberhasilan putranya mencapai puncak karir sebagai seorang Guru Besar dan Rektor di sebuah Universitas swasta di Bandung.

Pintu besi tua yang berderit menyadarkan Safira dari lamunannya tentang Eyang Dahlan. Bagas masuk ke garasi dengan sepeda motornya yang menderu pelan-pelan. Laras adiknya yang masih bocah SD, duduk di boncengan belakang. Ia segera melompat dan menghambur ke pelukan mamanya. Sedangkan Bagas berjalan dengan kalem.

"Maaf pulang telat ma, aku tadi ajak Laras mampir ke Gramedia dulu,"  kata Bagas seraya menggantikan Ayu, adiknya yang sedang bertugas di meja kasir. Mereka berdua sudah menyusun jadwal piket yang telah mereka bahas. Adiknya yang masih SMP itu segera beranjak kegirangan karena tugasnya sudah selesai. 

Grand Opening baru dilaksanakan dua minggu yang lalu. Tapi rumah makan sudah sangat ramai dikunjungi orang. Safira merasa beruntung karena letak rumahnya yang sangat strategis. Di depan jalan raya, di seberang Rumah Sakit Islam dan di sebelah Masjid besar.

Rumah Makan itu hanya melayani sarapan dan makan siang. Tepat ketika adzan Ashar berkumandang dari masjid, mereka pun segera menutup rumah makan untuk beres-beres dan istirahat.

Seperti biasanya Safira membersihkan meja-meja makan, sementara mbak Nunung membereskan dapur di bantu oleh Ayu dan Laras.

"Ma!" seru Bagas dari tempat duduknya di meja kasir.  

Rupanya Bagas telah selesai menghitung uang dari mesin kasir. Safira menoleh ke arah Bagas.

"Ini sudah Bagas catat semua jumlah uangnya," kata Bagas sambil menyodorkan segepok uang warna-warni yang ia kumpulkan dari mesin kasir.

Safira terperanjat dan jatuh terduduk di salah satu kursi makan.

"Kenapa Ma?" tanya Bagas kaget melihat reaksi mamanya yang aneh.

Dari posisi di mana Safira terduduk, wajah Bagas tampak begitu mirip dengan wajah eyang buyutnya. Dan ketika ia menyodorkan segepok uang warna-warni, Safira bagaikan melihat hantu yang tiba-tiba muncul dari masa silam.       

Biasanya Safira sendiri yang menghitung uang setelah kasir ditutup. Baru kali itu Bagas melakukannya dan menyodorkannya pada mamanya.

Beberapa detik setelah kesadarannya hadir kembali, Safira segera menghampiri meja kasir dan menerima uang yang disodorkan Bagas dengan takjub. Ia merasa baru saja terbangun dari tidur selama 40 tahun.

"Ternyata ini!" seru Safira dalam hati sambil matanya terpaku pada uang yang ada di genggaman tangannya. Ia telah mengerti sekarang.

Eyang sudah memenuhi janjinya! Bukan hanya segepok saja. Bahkan setiap hari Safira menerima segepok uang warna-warni yang dijanjikan eyangnya sejak 40 tahun yang lalu.

Surakarta, 26 Mei 2022