Namanya Aldi, usianya 20 tahun. Sehari-hari ia bekerja tidak menentu, mulai dari pekerja bangunan, buruh tani, kuli panggul, semua ia kerjakan demi membiayai adik-adiknya. Memang ia kini tulang punggung keluarga semenjak kepergian ayah dan ibunya lima tahun silam. Ia memiliki tiga orang adik perempuan, yang satu duduk di bangku kelas 2 SMA, yang kedua duduk di bangku kelas 2 SMP, yang ketiga duduk di bangku kelas 5 SD.

Kondisi pandemi Covid-19 makin memperburuk keadaan ekonomi Aldi, belum lagi pembelajaran online yang membutuhkan gadget. Hal ini tentu sangat menyulitkan bagi Aldi, mengingat ia hanya punya satu gadget itupun bekas. Alahasil ketiga adik Aldi bergantian untuk keperluan belajar online yang mau tidak mau harus menggunakan gadget. Belum lagi perihal kuota, untuk makan sesuap saja begitu sulit.

Perihal bantuan bansos, tidak usah diharapkan lagi. Mereka yang membutuhkan malah tidak mendapatkan. Sementara itu keluarga kepala desa, keluarga RT, keluarga RW, keluarga perangkat desa mendapatkannya. Memang benar adanya, kalau korupsi, kolusi, nepotisme telaga mendarah daging dalam bangsa ini, sulit untuk dihilangkan.

"Kamu tahu nggak, perihal korupsi bansos yang dilakukan oleh Menteri Sosial Juliari Batubara," ujar Tomi kepada Aldi di pagi hari, saat mereka berdua di perjalanan menuju sawah hendak mencangkul.

"Saya kan tidak punya TV, tapi nggak heran sih, orang di dekat kita aja masih banyak terjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme," ujar Aldi.

"Setuju sih, kemarin aja yah, Pak RT meminta satu kilogram kepada orang yang mendapatkan beras dari pemerintah," kata Tomi.

"Gimana Indonesia mau maju, mereka para pemangku kekuasaan selalu menindas rakyat, membuat kebijakan seenaknya sendiri," ungkap Aldi.

Mereka pun sampai di sawah yang dituju, Aldi dan Tomi pun segera turun ke sawah untuk mencangkul. Mereka berdua begitu semangat, meskipun tersirat guratan lelah di wajah mereka. Semata-mata mereka melakukan hal demikian agar keluarga tidak kelaparan.

Jam 11 mereka selesai melakukan pekerjaannya, karena sawah yang mereka cangkul tidak begitu luas, pemilik sawah pun datang ke situ. Nampak Aldi dan Tomi begitu bahagia, karena akan mendapatkan upah. Namun ternyata harapan mereka sirna, pemilik sawah tersebut mengatakan bahwa belum bisa membayar upah mereka. Aldi dan Tomi pun pulang dengan tangan hampa.

Sesampainya di rumah, Aldi mandi, kemudian selesai mandi, dan berganti pakaian. Aldi menghampiri adik-adiknya, nampak mereka sedang sibuk belajar.

"Kalian sudah makan?" tanya Aldi kepada adik-adiknya.

"Belum kak dari pagi belum makan," ujar Ica si  bungsu, keceplosan.

"Bukannya kakak tadi pagi memerintahkan Tiva untuk masak," ujar Aldi kepada Tiva adik pertama.

"Maaf kak beras sudah habis," ujar Tiva.

"Oalah, kenapa kalian tidak bilang kalau beras habis, kalau begitu kalian tunggu sebentar yah, kakak mau beli beras dulu," kata Aldi.

Aldi sebenarnya bingung, ia tidak memegang uang sepeserpun. Mau minta ke sana saudara tetapi tidak ada yang peduli, malah justru menghinanya. Ia pun kepikiran untuk meminta tolong ke Pak RT. Aldi pun menuju ke rumah Pak RT, sesampainya di rumah Pak RT langsung mengetuk pintu.

"Assalamu'alaikum... Assalamu'alaikum... Assalamu'alaikum," kata Aldi.

"Ada apa, ganggu saya makan saja," ujar Pak RT sambil membuka pintu.

"Pak boleh saya meminta beras segenggam saja," ujar Aldi.

"Bilang aja kamu mau minta bansos kan, pakai minta beras segenggam lagi, satu bulir pun nggak akan saya kasih," ujar Pak RT.

"Segala sesuatu kelak pasti akan dipertanggung jawabkan Pak jangan lupa, saya tahu bapak melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mulai dari bansos yang hanya untuk kerabat saja, kemudian mengurangi beras bantuan, meminta biaya untuk pembuatan sertifikat tanah yang seharusnya memang gratis," kata Aldi.

"Jangan fitnah yah kamu, mau saya teriak," ujar Pak RT.

"Silahkan pak, saya tidak takut, saya berbicara fakta," jelas Aldi. Pak RT pun ketakutan, dan langsung masuk ke rumah.

Aldi pun kemudian pergi, kali ini yang ia tuju adalah pasar. Siapa tahu pasar masih ramai, dan ada yang mau menggunakan jasa kuli panggul. Ketika di tengah perjalanan, ada sebuah mobil mewah yang menghampiri dirinya. Seseorang berjas mewah turun dari mobil tersebut, wajahnya tidak terlihat, karena menggunakan masker.

"Aldi kok nggak pakai masker sih, nih pakai masker," kata orang tersebut sambil menyerahkan masker ke Aldi.

"Maaf pak saya tadi terburu-buru tidak sempat menggunakan masker. Kok bapak bisa tahu nama saya," ujar Aldi.

"Masa kamu nggak ingat saya, seseorang yang pernah kamu tolong dua tahun yang lalu, coba kamu ingat-ingat" ujar orang tersebut.

"Saya beneran nggak ingat pak," ungkap Aldi.

"Saya Broto, ingat? Coba ingat baik-baik" jelas Pak Broto.

"Oh ya saya baru ingat Pak, " kata Aldi sambil menggaruk-garuk kepalanya walau tidak gatal kepalanya.

"Saya cari kamu ke mana-mana tidak ketemu, saya tanya ke tempat kamu bekerja teman-teman kamu nggak ada yang tahu," ujar Pak Broto.

"Iya pak, saya sudah lama keluar dari proyek tersebut, karena saya tidak tega meninggalkan ketiga adik saya sendirian di kampung," kata Aldi.

"Oh ya pak, bapak tahu alama saya dari mana?" tanya Aldi.

"Asisten rumah tangga anak saya satu desa sama kamu, kenal Darmi kan. Saat itu ia  melihat foto kita berdua, dulu kita pernah foto bareng, lalu saya cetak fotonya dan dipasang di ruang tamu," jelas Pak Broto.

"Iya pak, ia tetangga saya," kata Aldi.

"Kamu mau yah tinggal sama saya sebagai rasa terima kasih saya, karena kamu menyelamatkan nyawa bapak dua tahun yang lalu. Anak-anak bapak nggak ada yang mau melanjutkan perusahaan bapak. Kamu nggak usah khawatir adik-adik kamu juga ikut," ujar Pak Broto.

"Tapi saya cuman lulusan SMP pak," ungkap Aldi.

"Yang saya butuhkan itu orang yang jujur, ayo masuk kita menuju ke rumah kamu untuk berkemas, karena kita mau berangkat hari ini juga," ujar Pak Broto.

"Terima kasih banyak pak," ujar Aldi.

"Sama-sama, jangan bengong ayo masuk mobil," ujar Pak Broto.