Mahasiswa
3 bulan lalu · 178 view · 4 menit baca · Budaya 28966_13628.jpg
hivefive.com

Segenap Klise tentang Hijrah

Tulisan ini diilhami kejadian serta ironi yang sampai kini terus terjadi. Opini klise, ide bernalar sempit dan tak logis sepertinya sudah menjadi santapan kita sehari-hari. Bagaimana tidak, sejak kemunculan trend "Hijrah" yang secara kilat meluas ke jejaring medsos membuat banyak sekian dari kita tertarik untuk ikut andil di okupasi 6 huruf tersebut.

Trend ini sangat populer dalam beberapa tahun terakhir, dipelopori beberapa akun yang katanya "kiblat" untuk banyak manusia kita belajar dan sekedar tahu ciri-ciri hijrah.

Tak banyak yg menyadari, postingan yang mereka kirim kerap kali rancu, frontal tapi kental akan sindiran, tafsiran aneh, dan kesalahpahaman penafsiran.

Tujuan mereka yang pasti ingin mengekspansi pola pikir yang selama ini mereka akuisisi ke sebanyak mungkin pemirsa warganet, karena media yang paling gampang untuk meraih atraksi.

Belakangan ini saya sangat jenuh dengan huru-hara, kobaran emosi, luapan kekeselan dan banyak makian yang saya pantau di timeline media sosial saya. Saya akui, cyber world ialah medan perang zaman sekarang.

Kejenuhan saya mendidih di saat masif sekali orang-orang yang saling mencaci, merundungi, memfitnah satu sama lain disebabkan opsi yang berbeda.

Kritik tidak sama dengan mencemooh. Kritik sangat diperlukan bagi setiap pribadi atau pun bangsa demi kemajuan bersama, menyampaikan gagasan dengan fakta yang tepat, meluapkan opini dengan nyaring benar. Sedangkan mencemooh ialah dengan tanpa ragu menebarkan pesan negatif dan destruktif pada suatu pihak.

Di era sekarang sepertinya sulit membedakan antara dua terminologi tersebut, khalayak membungkus mereka bersama (kritik dan cemoohan) dan memasukkannya ke dalam tas yang bernama penghinaan.

Dewasa ini masif sekali yang salah menginterpretasikan makna hijrah. Di KBBI sendiri makna hijrah ada tiga, salah satunya adalah: perubahan (sikap, tingkah laku, dan sebagainya) ke arah lebih baik. Perlu kita garis bawahi yakni perubahan ke arah yang lebih baik.


Melakukan perubahan yang perlu ditegaskan adalah perubahan attitude atau pola pikir personal. Berubah ke arah lebih baik tak melulu membuat kita sentimen pada perbedaan (terutama agama atau cara pandang menterjemahkan entitas agama), berubah juga tentu saja tetap pada arah yang benar.

Berpikiran jernih, berpendirian kokoh dan idealis layaknya menjadi garis besar makna hijrah itu sendiri.

Berhijrah bukanlah suatu ajang ikut-ikutan, bukan lebel untuk pamer melalui linimasa, dan bukan pula menjadikan diri sebagai polisi moral serta menghardik orang lain yang berbeda paham mahzab.

Ironi sekali banyak dari mereka yang mengaku sudah berhijrah kerap kali mengeluarkan gagasan yang sangat mencabik radang emosi dan akal sehat kita. Maka dari itu penting sekali memilah tutor yang tepat dan sejalan dengan visi misi Islam yang damai, santun, dan tentu saja moderat.

Juga saya perhatikan banyak sekali bagian dari mereka yang takut akan label Islam Moderat. Saya terheran. Apakah menolak paham yang sejalan lurus dengan kemajuan zaman tanpa menghilangkan filsafah murni agama ialah suatu bentuk pendirian teguh akan pemahaman mereka?

Padahal fakta berbicara Islam adalah agama yang tergolong baru, lahir sekitar abad pertama Hijriyah atau 7 Masehi dengan Al-Quran kitab yang disempurnakan atas ketiga kitab yang diturunkan terdahulu. Moderat berarti suatu paham yang selalu menghindarkan perilaku dan pengungkapan yang ekstrem. Ya, kita garisbawahi lagi kata ekstrem.


Menjadi moderat tak se-menyeramkan yang mereka bayangkan bukan? Menolak paham moderat berarti membiarkan perilaku ekstrem terjadi di muka bumi ini. Ya tentu saja bertolakbelakang dengan ajaran Islam itu sendiri.

Memang sukar mengharapkan datangnya kelurusan jalur akal yang sudah terpapar keegosentrisan paham. Pada hakikatnya manusia berproses, menempuh jalan yang berbeda-beda, mempunyai visi yang tak sama satu dengan lainnya. Lantas apa hak kita untuk mengorganisir hak hidup orang lain? Sekiranya hal seperti ini mudah sekali dicerna dengan pikiran yang santai.

Berhijrah juga bukan bermaksud melegitimasi pihak satu sebagai pihak yang wajib dibenci dan pihak lain sebagai yang Maha Agung. Memberi batas diri untuk tak menginterfensi serta tak meretakkan benteng persatuan yang selama ini membangun bangsa ini menjadi kokoh dan disegani bangsa asing.

Agaknya persepsi konkrit yang tertebar bagi pehijrah hari ini perlu dirombak total, walau saya tahu kalau ada yang benar-benar berubah ke arah yang tepat. Jangan pula merasa menjadi pihak yang paling dominan menguasai agama dan yang lain bukan segolongan mereka pantas dijungkirkan.

Tugas kita hidup di dunia bukanlah memenangkan keegoisan yang klise, janganlah mencampakkan ciri bangsa dan agama yang sesungguhnya.

Suatu bangsa atau agama dilabeli bermoral dan progresif jikalau doktrin yang tersurat bisa diaksikan dengan segenap keteraturan, citra yang baik, dan penghormatan. Sebaliknya, suatu bangsa atau agama akan terlihat rapuh jikalau para pengisinya memapari dengan arogansi, keberingasan, dan kebarbaran.

Menjadi individu yang berdedikasi bukan berarti harus frontal ke segala sisi. Jangan hanya sibuk memamerkan atribut yang terlihat mata tapi lalai akan tujuan fundamental yang ingin dituju. Jangan pula seperti ayam yang heboh berorasi karena cuma menetaskan embrio pertamanya.

Begitu pula kita sebagai makhluk yang berderajat tinggi, jangan sibuk menyombongkan ilmu yang baru sampai semata kaki.


Mari sama-sama berlomba menjadi pribadi yang lebih baik. Berhentilah mempertontonkan kebodohan pikiran di media masa. Karena diam-mu akan menjadi emas dibanding menebarkan 1000 ungkapan fiktif nan palsu.

Sebab pada hakikatnya berhijrah sesungguhnya adalah memenangkan rasa ego ke dalam konsepsi akal yang damai, menyejukkan, dan rasional bukan pencemoohan keimanan seseorang.

Artikel Terkait