Setelah menghadiri acara Forum Perempuan Perdamaian di Depok, aku melanjutkan perjalanan ke TIM (Taman Ismail Marzuki) tanpa mampir ke rumah terlebih dahulu, untuk menghadiri acara pelatihan aplikasi berbasis Android, karena pelatihan ini adalah sebagai penentu keikutsertaan dalam pemilikan akun media milik Skayla News.

Sampai di sana, panitia masih menyiapkan hal-hal yang berkaitan dengan teknis. Aku sempatkan untuk mampir ke warung kopi di bawah gedung HB Jasin terlebih dahulu. Kami berangkat berdua, temanku adalah salah satu panitia di acara ini.

Tidak berapa lama, kami melaksanakan salat zuhur barulah ikut acara. Acara dipimpin oleh Bang Is-–sebutan untuk Pak Iskandar, pemilik Skayla News---ditemani Bang Dedi yang menjelaskan pembuatan aplikasi dengan mudah.

“Lebih mudah bikin aplikasi daripada bikin mie instan,” ucap bang Dedi yang dengan detail dan pelan-pelan menjelaskan alur pembuatan aplikasi apa saja. Berbagai pertanyaan disematkan kepadanya karena peserta langsung praktek dan tidak hanya satu dua orang yang masih kebingungan, beberapa dari mereka memang butuh bimbingan.

Apalagi usia 30 tahun keatas mendominasi, kebanyakan profesi mereka sebagai wartawan atau mantan wartawan yang kini menjadi penulis lepas. Tapi bang Dedi-–penulis buku mengejar-ngejar mimpi---tak kalah sabar mengajarkan, hingga waktu habis dan pelatiahan akan dilanjutkan pada tanggal 10 Desember di tempat yang sama.

Setelah pelatihan selesai, aku berniat untuk melanjutkan ngopiku di bawah gedung. Ternyata sudah ada satu orang yang sedang menyantap snack dan kopi.

“Acara sastra ya di atas?” katanya mengawali perbincangan.

“Bukan. Pak, pelatihan aplikasi,” jawabku sambil menyunggingkan senyum.

“Aplikasi sastra?”

“Bukan, hanya aplikasi Android saja.”

"Oh, soalnya di atas sering dipakai acara sastra.”

JB Hassin memang sering untuk diskusi sastra, latihan teater atau hanya sekadar konferensi pers acara sastra. Kebetulan di gedung sebelah-–gedung teater kecil---sedang berlangsung Festival Teater Jakarta yang menampilkan juara-juara dari seleksi teater tanah air.

“Bapak asli mana?” giliranku memberanikan diri bertanya.

“Ibu saya asli Jawa, bapak padang. Tapi saya lahir di sini.”

“Betawi asli ya?”

“Ya.”

Lelaki tua berambut gondrong yang ditutupi topi usang itu kemudian aku tahu namanya adalah Santos Gane, beliau pernah menjadi Dosen Teater tahun 2000-an di Universitas Pancasila, Depok.

“Kamu semalam lihat aku baca puisi?” tanyanya kepada temannya yang baru duduk di sebelahnya.

“Kamu jadi tampil?” sahut temannya.

“Lah, ya.”

“Acara apa, Pak?” tanyaku sopan.

“Baca puisi saja, tadinya sih saya gak masuk daftar pembaca malam itu. Tapi kata panitia ada yang tidak berangkat, jadi saya gantiin.”

“Itu acara rutin, ya?”

“Ya, setiap tanggal 26. Ya ini baru keempat kalinya sih. Awalnya puisi milik Sapardi, Ismail marzuki, yang ketiga siapa ya?” pertanyaan untuk lelaki yang duduk di sampingnya. Sembari mengingat-ingat, semalam karya WS Rendra, Anies Baswedan juga ikut membaca.

“Dulu, zaman Pak Harto kalau ada kumpul-kumpul dilarang. Pokoknya suruh bubar, takut ada perlawanan dari masa,” kenang temannya yang duduk di samping sembari mengisap tembakau yang dikumpulkan di pipa berbentuk angka sembilan.

“Kalau sekarang enak, pengen rapat, kumpulan ya tinggal di-sms lalu datang anggota,” kenang lelaki yang agak gemuk bermarga Simbolon. Kedua laki-laki tersebut pernah dipenjara hampir 7 bulan karena dianggap punya afiliasi terhadap PKI. “Padahal, kita hanya berteman sama Lekra ya,” jelasnya.

“Kalau ingat dulu mah susah, tentara di mana-mana sampai masuk desa. Ngopi-ngopi di parkiran walau hanya 3 atau 4 orang pun dibubarkan. Suruh pulang,” kenang Pak Santos.

Pak Santos sempat mondok di Bengkel Rendra, Depok, namun tidak lama. Dari sana, ia mempunyai jaringan mengajar di Universitas Pancasila. Di sana, ia juga dipertemukan dengan Mas Edi Haryono, orang Tegal yang menjadi kepercayaan Rendra.

“Kalau mau tahu banyak tentang Rendra, main saja ke rumahnya di Bantargebang. Beliau itu adiknya Eka, teman baiknya Emha. Dulu 'kan ada 4E yang terkenal, Eka, Eha, Ebiet, dan Emha. Beliau juga orangnya selow mau terima siapa saja, apalagi anak muda yang semangat di kesenian kayak kamu. Kalau sampai sana, pasti ditanya kamu bisa apa? Lalu suruh dikerjain semata agar kreativitasnya terus diasah,” ucapnya panjang lebar.

Ia sekarang mengajar teknik dasar teater Komunitas Kusuma Bangsa setiap minggu pagi di parkiran TIM, komunitas yang mengajarkan ilmu-ilmu dasar kepada anak jalanan sekitar TIM. Setiap harinya ia menjadi penjual buku di rumahnya, Cikini maupun saat-saat ada acara.

Saat aku hendak pulang, ia meminta berteman di Facebook. “Cari saya di Facebook ya, tulis saja Santos Gane. Soalnya hape saya kayak begini,” ucapnya dengan tersenyum.

"Saya pernah punya Android juga, tapi gak lama saya ganti lagi karena menyita waktu,” sembari menunjukkan hape Samsung jadul.

Setelah permintaannya saya turuti, kini gantian aku meminta foto bersamanya. “Boleh aku foto bersama? Terima kasih, Pak, kapan-kapan kita bertemu lagi,” pamitku singkat.