Pada saat ini ada banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi terutama ketika keadaan masih dilanda pandemi yang masih berlanjut sampai sekarang. Seperti yang kita ketahui bahwasanya Indonesia sudah tercatat mengalami 350 ribu kasus yang terkena virus Covid-19.

Pemerintah gencar melakukan beberapa tindakan seperti pembatasan sosial berskala besar sampai menerapkan keadaan yang disebut new normal. Hal ini justru membuat kita perlu secara aktif melakukan adaptasi lebih maksimal agar tidak terjadi yang namanya proses seleksi alam, baik terhadap kondisi perekonomian, sosial, dan pendidikan.

Arahan pemerintah pun jelas, dalam kegiatan sosial dan pendidikan perlu dibatasi pada kondisi new normal ini.

Melihat kondisi dan kejadian seperti ini, menuntut untuk kita bisa beradaptasi lebih cepat terutama dalam penggunaan berbasis teknologi yang lebih maju. Seperti melakukan kegiatan belajar-mengajar ataupun dalam kegaitan organisasi adalah penyelenggaraan acara-acara dan rapat-rapat yang dilakukan secara online atau virtual.

Sebagian orang, kesehariannya sekarang lebih banyak dihabiskan di depan layar laptopnya masing-masing, seolah dunia hanya tertuju pada depan laptop saja. Wajar saja, karena segala kegiatan sudah dialihkan sebagian besarnya tertuju pada layar laptop.

Tapi permasalahannya, ada beberapa orang yang tidak setuju terkait penyelenggaraan kegiatan-kegiatan secara online terutama di ruang-ruang kelas dan organisasi. Pertimbangannya adalah tentang suatu yang sangat mendasar dan terkadang menjadi bahan yang sering disepelekan banyak orang, yaitu penerapan adab yang bisa dilakukan ketika kegiatan secara langsung.

Ya, masalah adab merupakan sebuah dasar dalam kita melakukan sesuatu, apalagi ketika kegiatan itu melibatkan suatu interaksi sosial bersama orang lain. Adab merupakan akhlak atau budi pekerti. Adab pun merupakan kata dasar dari kata untuk membangun sebuah bangsa yang mempunyai peradaban.

Bahkan, salah satu ulama Islam yaitu Ibnu Mubarok pernah berkata, “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Begitulah digambarkan pentingnya adab. Bahkan negara maju seperti Jepang bisa menjadi negara yang mempunyai peradaban besar karena salah satunya mereka menerapkan betul konsep adab dalam keseharian mereka bahkan sudah dibiasakan sejak kecil.

Masalah pekerjaan dan organisasi untuk melakukan rapat dan kegiatan kegiatan pun terkena dampak dan harus bisa menyesuaikan diri, terutama dalam penyelnggaraan rapat virtual dan webinar, baik ketika menjadi peserta atau panitia dan hal ini sama pula dengan kegiatan pembelajaran jarak jauh.

Pentingnya adab menjadi sorotan ketika melakukan semua kegiatan secara online, baik pada saat rapat atau ketika belajar di room kelas.

Bayangkan saja, ketika rapat atau kegiatan belajar sedang berlangsung, kita malah asyik-asyiknya menyimak orang yang sedang berbicara ruangan virtual sambil ngupil, sambil rebahan, sambil mandi, sopankah? Beradabkah? Tentu tidak.

Padahal, kegiatan rapat atau belajar secara online maupun secara langsung harusnya tidak ada perbedaan dalam penerapannya.

Masih banyak peserta atau siswa yang terlambat tidak tepat waktu yang ini membuat waktu menjadi mundur akibat terlalu lama waktu untuk menunggu orang-orangnya banyak dulu. Hal ini bisa karena orang-orangnya tidak mempunyai komitmen yang penuh, baru bangun, atau baru saja beres urusannya dari kamar mandi.

Atau malah ketika melakukan rapat atau belajar, kita senagaja tidak menyalakan kamera agar tidak bisa diketahui apakah kita sedang memakai pakaian yang rapi atau sedang tidak fokus karena sambil melakukan kegiatan lain dan bisa jadi sampai belum mandi dengan muka kucel baru bangun tidur.

Bahkan teman saya sempat bercerita bahwasanya ada kejadian dosen ketika mengajar hanya memakai celana kolor saja dan katanya mahasisswanya pun ikut-ikutan memakai celana kolor juga.

Padahal seharusnya kita lebih sadar dan paham sampai dengan saat ini, sudah mulai membiasakan diri bahwasanya kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara online tidak melunturkan semangat kita untuk mengimplementasikan nilai-nilai adab.

Seperti halnya dalam berorganisasi rapat online memang susah membangun kekeluargaan, komunikasi, dan juga kekompakan, tapi hal itu bukan alasan untuk melemahkan diri. Pikiran kita sedang dituntut untuk berinovasi lebih, mengeluarkan ide-ide baru untuk mengatasinya.

Hal yang membuat kita jenuh, ngantuk, dan tergoda memainkan handphone pada saat rapat online bisa jadi karena kita sudah melakukan kegiatan-kegiatan penuh dengan aktivitas yang bermacam sebelum-sebelumnya di depan laptop.

Maka rapat itu tidak perlu lama-lama lagi sampai dilakukan berjam-jam. Bisa dilakukan meeting paling hanya sekitar 20-30 menit dengan efektif dan adakan pertemuan itu dalam beberapa kali per pekan. Hal tersebut guna membuat komunikasi, kekeluargaan, dan kekompakan dalam organisasi semakin mantap pada saat kondisi pandemi seperti ini.

Maka, pentingnya nilai-nilai adab diterapkan dalam kegiatan-kegiatan keseharian meskipun dilakukan secara online.

Harusnya, kita lebih banyak mempelajari dulu bagaimana konsepsi belajar secara online sebelum memasuki konten yang biasa kita lakukan dalam rutinitas interaksi kita, terutama pada saat rapat organisasi dan kegiatan belajar mengajar.

Sudah saatnya pihak-pihak yang mempunyai kewenangan besar perlu menegaskan agar bisa concern terlebih dahulu terhadap permasalahan poin-poin adab ini, agar secara esensi keseluruhannya bisa tersampaikan secara maksimal.

Adab merupakan poin utama dan menjadi hal yang paling mendasar.

Membentuk Indonesia yang beradab bukan dari melahirkan orang-orang pintar di negeri ini, bukan juga memperbanyak orang-orang kaya, tapi untuk mewujudkan peradaban Indonesia yang besar, pondasinya adalah penerapan nilai-nilai adab dari keseluruhan masyarakatnya.

Dalam kasus tadi, posisikan saja kita sebagai pemateri, dosen, dan pemimpin rapat. Mainkan sudut pandang. Bayangkan saja dan rasakan bagaimana perasaan ketika kita sudah cape-cape berbicara panjang tapi hasilnya tidak banyak diperhatikan oleh orang-orang sekitar kita.

Pengorbanan guru, pemimpin rapat, dan pembicara ketika berbicara pada kegiatan-kegiatan online pasti selalu sudah melakukan yang terbaik, bukan? Tanyakan pada diri sendiri, apakah hal yang kita lakukan selama ini sudah beradab?