1 bulan lalu · 52 view · 6 min baca menit baca · Filsafat 97165_76638.jpg

Sedotan Plastik McDonald's dan Konsumerisme

McDonald’s sebagai gerai makanan cepat saji telah membuat beberapa keputusan besar dalam rangka untuk ikut menyelamatkan dunia dari kerusakan lingkungan akibat sampah plastik. Upaya untuk peduli pada lingkungan tersebut dilakukan dengan menghilangkan penggunaan sedotan dan hanya menyediakan bagi mereka yang membutuhkan saja. 

Di beberapa negara, keputusan penggunaan sedotan plastik diubah dengan sedotan yang terbuat dari kertas. Akibatnya, sedotan berwarna merah dan putih dari McDonald’s menjadi barang yang sangat langka.

Peristiwa tersebut pun dimanfaatkan oleh salah satu eBayseller nakal dengan menjual sedotan plastik McDonald’s seharga £1.000 atau sekitar Rp 18,3 juta. Seorang eBayseller tersebut mencoba menarik perhatian publik dengan mendeskripsikan produk itu yang berbunyi:

“Sedotan McDonald’s yang tidak akan dijual lagi ini segera menjadi barang legenda, bayangkan usia Anda sekitar 50 tahun lebih tua dari sekarang, memberi tahu cucu Anda bagaimana dulu Anda mendapat sedotan pastik dari McDonald’s dan mereka akan melihat ke arah Anda seperti melihat dewa!”

Kebijakan awal yang dilakukan McDonald’s untuk mengurangi kerusakan lingkungan atas plastik ternyata juga bisa dimanfaatkan oleh orang untuk meraup keuntungan atas barang yang langka. Hal di atas dapat menjadi persoalan di tengah budaya konsumeris seperti sekarang ini.

Iklan yang ditawarkan oleh pihak eBayseller tersebut sangat menggiurkan untuk dituruti. Dalam hal ini, orang-orang akan sungguh menganggap bahwa sedotan langka dari McDonald’s merupakan barang yang sangat berharga. 

Padahal, sebelumnya, sedotan itu mungkin hanyalah tidak sebegitu bernilai seperti saat ini. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya hendak menunjukkan bahwa konsumsi dapat diciptakan melalui manipulasi tanda yang ditunjukkan dalam sedotan McDonald’s yang mulai langka oleh eBayseller.


Masyarakat Kosumeris dalam Marx

Persoalan di atas sebenarnya merupakan suatu pergeseran ciri masyarakat konsumeris dari era Marx menuju era Baudrillard yang terjadi saat ini. Ciri masyarakat konsumeris pada era Baudrillard adalah perkembangan dari kondisi masyarakat konsumeris pada era Marx.

Pada era marx, umumnya,  suatu benda dipahami memiliki nilai guna/pakai dan nilai tukar. Nulai guna/pakai nilai barang yang diukur dari kegunaannya untuk memenuhi kebutuhan tertentu. 

Misalnya, sedotan plastik McDonald’s memiliki nilai pakai yang tinggi ketika digunakan untuk menyedot air dari gelas. Berbeda halnya jika saya memakai sepatu yang terlalu kecil sehingga tidak muat dipakai di kaki saya, maka sepatu itu memiliki nilai guna yang rendah. 

Jadi, nilai pakai adalah manfaat barang untuk memenuhi kebutuhan dalam masyarakat. Sedangkan, nilai tukar adalah nilai suatubarang yang diperjualbelikan di pasar. Dengan kata lain, nilainya berbentuk uang. 

Celana dan baju bisa memiliki nilai tukar yang sama, walaupun nilai guna/pakainya berbeda. Dalam kasus di atas, Sedotan plastik McDonald’s dan sepeda motor kurang lebih memiliki nilai tukar yang sama walaupun nilai gunanya sangat jauh berbeda.

Masyarakat Konsumeris dalam Baudrillard

Pada era Baudrillard, masyarakat konsumeris memahami nilai suatu barang tidak hanya ditandai hanya oleh dua nilai yakni nilai guna dan tukar seperti halnya pada era Marx. 

Menurut Baudrillard, saat ini masyarakat konsumeris ditandai oleh tiga nilai yakni nilai guna, nilai tukar dan nilai tanda. Seringkali, nilai tanda semakin lebih dominan dibandingkan dengan nilai guna maupun nilai tukar. Gagasan mengenai nilai tanda dijelaskan oleh Baudrillard melalui idenya mengenai manipulasi tanda.

Manipulasi Tanda Baudrillard dalam Sedotan Plastik McDonald’s

Nilai tanda mengarahkan konsumsi pada gambar, fakta dan informasi. Menurut Baudrillard, masyarakat harus mengikuti ritme barang kebutuhan dan produk-produk barang baru yang menggantikannya secara terus menerus. 

Akibatnya, hubungan antara konsumen dan obyek konsumsi menjadi berubah. Konsumen tidak lagi membeli barang karena manfaat yang terkandung di dalamnya, tetapi karena mengejar nilai tanda berupa merk, nama, kebaruan produk dsb. 


Oleh karena itu, orang seringkali terjatuh pada nilai tanda yang dinilai lebih penting daripada nilai guna. Tanpa sadar, orang hanya membeli tanda, bukan barang. Begitupun dengan sedotan platik McDonald yang semakin hari semakin langka. Melalui cara ebayseller mempromosikan sedotan langka itu, hanya nilai tanda ditonjolkan. 

Nilai guna pada sedotan plastik itu telah diabaikan dan beralih untuk memperoleh nilai tanda. Orang tentu tidak akan memburu atau membeli sedotan plastik McDonald’s itu seharga £1.000 atau sekitar Rp 18,3 juta jika hanya digunakan untuk menyedot air dari minuman, tetapi untuk membeli tanda yang ada pada sedotan itu yakni sedotan plastik McDonald yang langka. 

Melalui iklan yang dibuat oleh eBayseller, dikatakan bahwa ketika seseorang memiliki sedotan itu, orang-orang akan melihat anda seperti melihat dewa. Dipandang sebagai dewa memberi arti bahwa anda akan dipandang sebagai seseorang yang memiliki suatu prestise yang lebih dibanding orang lain. 

Prestise yang lebih itu ditunjukkan melalui nilai tanda yang ada pada sedotan plastik langka McDonald’s tersebut. Nilai tanda itu seolah memiliki sesuatu yang berharga dan langka setingkat barang yang dimiliki oleh dewa yang mustahil untuk dimiliki seorang manusia.

Konsumsi tanda tersebut tanpa sadar juga menggiring seseorang untuk menempatkan dirinya pada kelas tertentu. Akibatnya, karena berada pada kelas tertentu, ia membedakan posisi kelasnya dengan kelas orang lain. Hal ini dinamakan sebgai Distinction. Sebenarnya ungkapan Distinction sudah ada sejak Bourdieu, namun oleh Baudrillard dikaitkan dengan konsumsi. 

Demikian pula halnya dengan seseorang yang berhasil memiliki sedotan McDonald’s yang langka tentu merasa bahwa ia adalah orang beruntung dan tidak seperti orang lain yang tidak memiliki apa yang dimilikinya. Tanpa sadar, ia telah mebedakan dirinya dengan orang lain. 

Lebih tepatnya, bisa jadi, pembedaan itu ia anggap bertingkat bahwa ia berada di kelas yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak memiliki sedotan langka McDonald’s yang dinilai sebagai kelas bawah.  

Jadi, suatu barang kini tidak hanya berfungsi sebagai nilai kegunaan, tetapi sebagai tanda dan pembeda kelas yang sangat terhierarki. Jika dirunut semakin jauh, bisa saja nilai-nilai kasih dan kemanusiaan dinilai lebih rendah daripada nilai tanda pada produk-produk barang. Secara kodrati, manusia itu sama, tetapi menjadi berbeda karena nilai tanda yang ia konsumsi dan ia kejar.

Selain itu, masyarakat konsumeris saat ini juga datandai dengan kecenderungan narsistik. Narsisisme yang dimaksud Baudrillard adalah bahwa sesuatu dikatakan baik atau indah bukan dari penilaian diri, tetapi dari wajah kolektif atau pandangan umum dalam masyarakat luas. Semua yang kita anggap indah dan baik sebenarnya bukan murni dari penilaian kita pribadi, tetapi sudah dibentuk oleh lingkungan. 

Melalui iklan yang ditawarkan oleh eBayseller, selera orang akan pemahaman indah dan keren kiranya juga sudah dibentuk sedemikian rupa oleh iklan itu bahwa orang dapat dikatakan keren dan orang-orang seakan melihat dia seperti melihat dewa jika memiliki sedotan plastik langka McDonald’s. 

Dengan kata lain, supaya orang-orang melihat anda seperti melihat dewa, belilah sedotan plastik McDonald’s. Padahal hal itu tidak ada hubungannya sama sekali. Akibatnya, nilai guna akan semakin diabaikan, tetapi karena pengaruh narsistik, keinginan untuk mengkonsumsi akan semakin tersulut.

Bagaimanapun juga, orang yang memiliki ide untuk menjual sedotan McDonald’s dengan harga yang mahal juga tak boleh disalahkan dan dilawan. Saya tidak melarang anda untuk membeli sedotan plastik McDonald’s. Bagaimanapun juga, di kehidupan kita sehari-hari sudah terdapat banyak kasus serupa dan tidak akan habis untuk dijumpai khususnya ketika berbelanja di mana pun. 


Namun, tulisan ini mengajak kita semua untuk sadar akan budaya yang melingkupi dunia yang kita jalani saat ini. Satu-satunya hal untuk menyikapinya adalah dengan bersikap kritis atas budaya konsumeris semacam ini, dan bukan sepenuhnya melawan. 

Setidaknya, ketika berbelanja atau searching barang-barang di toko online, kita tetap sadar akan barang apa yang memang sungguh-sungguh kita butuhkan dan tidak dengan mudah tergiur dengan barang-barang diskon dan bermerk yang belum tentu sungguh-sungguh kita butuhkan. Dengan kata lain, untuk hidup di dunia seperti ini, jangan melupakan nilai guna. 

Saya juga berharap agar semua orang dapat menyadari hal ini. Jika semua orang menyadari hal ini, bisa saja nilai guna juga sangat diperhatikan oleh para produsen sehingga setiap perusahaan tidak hanya belomba-lomba mengemas produk mereka dengan nilai tanda tetapi juga dengan nilai guna yang baik pula.

Penutup

Sedotan langka dari McDonald’s menjadi sasaran empuk bagi orang-orang tertentu untuk memanfaatkan nilai tanda yang tertera di dalamnya. Hal itu sudah lumrah terjadi di era saat ini sebab memang itulah trik untuk menjual suatu produk. Masyarakat sudah dibentuk sedemikian pula melalui budaya yang bercorak konsumeris. 

Nilai tanda menjadi strategi penjualan yang paling baik yang dapat ditawarkan. Demi bonum commune, biarlah semua itu tetap berjalan sejauh kita juga dapat menyadari terjadinya hal semacam itu dan tetap bersikap kritis.

Artikel Terkait