Selepas shalat Ashar, saya pun bergegas untuk berangkat ke rumah ideologis yang dikenal dengan Gubuk Marhaenis, tepatnya di Majene. Sebuah gubuk kecil, namun menjadi catatan besar untuk teman-teman mahasiswa yang tergabung dalam ormek GMNI Cabang Majene.  

Sedikit cerita bahwa GMNI Cabang Majene, telah menjadi tempat dimana saya merasakan kenyamanan sehingga dapat bertahan hingga saat ini. Jika bertanya penjelasan terkait GMNI, mohon maaf karena saya tidak menguraikannya di dalam tulisan ini, dan sebenarnya itu bisa diakses di google kapan pun. Monggo di shearcing saja.  

Ohh ya, kembali pada pembahasan awal terkait pemberangkatan saya dari Tinambung menuju Majene, tentu saja bukan tidak punya alasan. Selain karena memang ada panggilan secara naluri, juga akan ada momen yang tak boleh ditinggalkan dan mungkin akan sulit dijumpai seperti demikian.

Kami bersyukur atas momen tersebut, kawan-kawan GMNI Majene setidaknya bisa menjalin silaturrahmi kepada senior GMNI sebagai pendiri Komisariat STPMD "APMD" Yogyakarta. Nama blio adalah Oktav Pahlevi, blio teman karib dan teman seperjuangan guru kader GMNI di Sulawesi Barat, yang biasa dipanggil bang Acil. Emmm, bang Acil ini adalah pembawa GMNI yang pertama di Sulawesi Barat lho, sehingga tidak salah jika blio digelar sebagai guru kader, termasuk guru kadernya GMNI Majene.

Eitss, hampir lupa pada objek pembicaraan sebelumnya mengenai bung Oktav Pahlevi. Ohh iya, bung Oktav juga sebagai penulis, beberapa tulisannya telah diterbitkan, baik dalam bentuk buku maupun jurnal internasional. Itulah mengapa, saya merasa bangga dapat bertemu dengan blio.  

Mengapa tidak, blio dari Kalimantan jauh-jauh datang ke Sulbar. Selain diminta sebagai pemateri pada Kaderisasi Tingkat Menengah (KTM) yang diselenggarakan oleh DPD GMNI Sulbar bertempat Polewali Mandar, juga telah direkomendasikan oleh bang Acil untuk bisa menyempatkan waktunya untuk datang ke Sulbar, kebayang tidak bagaimana rasanya tidak pernah bertemu secara langsung dalam jangka waktu sekitar 15 tahun. Nah, itu juga yang memicu bung Oktav Pahlevi untuk mengusahakan dapat berkunjung ke Sulbar, sekaligus dapat mempererat tali persaudaraan.

Menjelang selepas habis Magrib (31/03/2021), salah satu kawan GMNI Majene yakni bung Yusran,  menjemput bung Oktav agar dapat menyuguhkan ilmu dan pengalamannya kepada kami selama blio menjadi mahasiswa dan selama berjuang di GMNI hingga sekarang ini.

Terlihat dengan jelas antusias para kader GMNI Majene untuk dapat bertemu dengan blio, mengingat mungkin sedikit susah dapat bertemu denganya secara langsung. Karena dengan bekal silaturrahmi dan ingin mendapatkan suguhan amunisi keilmuan darinya, sehingga kader-kader tidak sabar agar diskusinya secepatnya dilaksanakan.

Masalahnya justru ada urusan penting dari bung Oktav yang harus diurus sebelum beranjak ke Gubuk. Makanya, diskusi pun agak terlambat dan itu bisa dimulai setelah beberapa menit selepas shalat Isya.

Hingga akhirnya, blio datang dan diskusi pun langsung dimulai. Pengalaman selama ber-GMNI dan ber-mahasiswa telah menjadi motivasi penting untuk kader-kader GMNI Majene yang disampaikan. Blio mulai memperkenalkan diri dengan pembawaan yang santai dan sedikit ngelucuh, sehingga suasana tidak timbul rasa kekakuan dan kebingunan di dalam forum diskusi.  

Hal menarik bagi saya, saat blio menceritakan pengalamannya sebagai seorang aktivis, itu tercatat atas pandangannya dalam bentuk karya buku. Blio telah memberikan edukasi penting bagi kader GMNI untuk bisa menulis, menulis tentang apa saja, baik dari segi pengalaman hingga pandangan pribadi secara analitik terhadap persoalan. Jangan takut salah untuk memulai menulis, karena tantangan terbesar seorang penulis yakni bagaimana memulainya. Itulah yang bisa saya tangkap dari perkataan singkat blio.  

Bung Oktav Pahlevi juga memberikan materi terkait dengan Wawasan Nusantara, sedikit yang bisa saya tangkap bahwa Wawasan Nusantara adalah cara pandang kita melihat tanah air secara utuh. Dan sebenarnya masih banyak penyampaian penting yang disampaikan oleh blio, namun tidak sempat saya tulis dalam tulisan ini.

Intinya, blio juga telah menanamkan nilai-nilai untuk memperkuat solidaritas yang diikat dengan ideologi sama yakni Marhaenisme. Ya, Marhaenisme adalah ajaran Bung Karno, yang sampai saat ini ormek GMNI akan menjadi garda terdepan untuk merawat ajaran tersebut.

Singkat cerita, tepat pukul 22.00 WITA, blio harus minggat dari Gubuk Marhaenis untuk melanjutkan perjalanan kembali ke tempat tinggalnya di Kalimantan. Bukan karena ingin mengakhiri atau meninggalkan diskusi tanpa hormat, tetapi karena memang dibatasi dengan waktu.

Sehingga blio menitipkan nomor WA sebagai media untuk bisa bersilaturrahmi dan bertanya terkait dengan apa pun itu. Pesan terakhir untuk GMNI Majene, agar kiranya kader-kadernya mampu dipetakan potensi yang dimiliki masing-masing. Selanjutnya dapat ditransformasikan untuk berjejaring dan saling melengkapi, termasuk mengembangkan organisasi.

Sebelum kelaur dari Gubuk, bung Oktav Pahlevi telah menghadiahkan sebuah buku yang berjudul "Pergulatan Wacana, Refleksi Pengalaman Aktivis ", buku itu adalah hasil dari karya blio sendiri. Meskipun sedikit temu, namun telah menyimpan banyak makna. Terimakasih bung Oktav Pahlevi, semoga dilain waktu dapat hadir kembali di Bumi Assmalewuang Majene. Merdeka.