Sanitarian
3 bulan lalu · 81 view · 5 min baca · Lingkungan 50446_92108.jpg

Sedikit Cerita tentang Kertas dan Plastik

Peradaban manusia dari masa ke masa sangat berkembang dengan pesat. Adalah spesies Homo sapiens yang ditemukan fosilnya pertama sekali yang digadang-gadang oleh para ilmuwan sebagai cikal bakal manusia zaman sekarang. 

Belum lagi teori Darwin yang mengemukakan tentang manusia berasal dari kera. Kera yang mengalami evolusi (perubahan secara perlahan namun berkelanjutan) hingga menjadi manusia seperti sekarang. 

Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh manusia adalah kemampuan untuk menggunakan budi dan akal sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang berguna, mengolah material-material yang ada disekitarnya. Contohnya kertas dan plastik. Siapa yang sangka kalau akhirnya di zaman sekarang dapat menggunakan kertas dan plastik tadi. 

Kertas dan plastik bukanlah sebuah benda yang langsung bisa ditemukan begitu saja dan digunakan. Untuk menghasilkan kertas dan plastik diperlukan serangkaian proses dan identifikasi khusus oleh para ahli. Dimulai mendiagnosa bahan dasar pembentuk kertas dan plastik, kemudian memikirkan kualitas serta tampilan apik yang akan dihasilkan. 

Untuk menghasilkan kertas/plastik akan mengorbankan ratusan bahkan jutaan pohon dengan kandungan dasar selulosa. Belum lagi kombinasi zat kimia yang dicampurkan untuk menyempurnakan produk yang hendak dihasilkan. Bukan rahasia umum lagi jikalau kesemua kegiatan ini pun membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Saat ini masyarakat tentu sudah sangat mengenal kertas dan plastik. Seperti menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita yang mungkin susah untuk dipisahkan. Baik di dunia perkantoran, sekolah, di rumah dan di berbagai bidang lainnya. Baik sebagai bahan utama maupun sebagai bahan tambahan.


Kertas sendiri menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah barang lembaran yang dibuat dari bubur rumput, jerami, kayu, dan sebagainya yang biasa ditulisi atau untuk pembungkus dan sebagainya. 

Sedangkan untuk plastik menurut KBBI adalah yang dapat diacu dalam bentuk, misalnya tanah liat; kumpulan zat organik yang stabil pada suhu biasa, tetapi pada beberapa tahap pembuatannya plastik sehingga dapat diubah bentuk dengan menggunakan kalor dan tekanan;  bahan sintetis yang memiliki bermacam-macam warna (dibuat sisir, dompet, ember, dan sebagainya).

Keberadaan kertas di beberapa bidang memiliki peran yang cukup penting. Dibidang perkantoran contohnya, berperan dalam bagian administrasi surat menyurat, laporan-laporan keuangan, bukti perjalanan dinas, surat perjanjian kerjasama, maupun berkas berkas lainnya. 

Meskipun pada zaman yang canggih saat ini, pengiriman surat atau berkas penting beberapa telah memanfaatkan teknologi melalui pengiriman surat elektronik atau yang kita ketahui sebagai e-mail . Hanya saja penggunaan kertas tetap tak bisa dilepaskan dengan mudahnya.

 Sehari-hari kertas hadir di sekitar kita dalam bentuk majalah, novel, koran, komik,buku kumpulan cerpen atau puisi, undangan, surat pemberitahuan tagihan,dan lain-lain. 

Sedangkan di dunia sekolah atau perkuliahan, kertas bisa kita lihat dalam wujud buku tulis, buku pelajaran, buku absensi, ijazah, buku rapor, surat panggilan, surat teguran,soal-soal ujian, laporan tugas, dan lain lain . 

Bagi mahasiswa/I yang sedang menyusun tugas akhir, saat konsultasi dengan dosen pembimbing jumlah pemakaian kertas meningkat. Satu hal yang sering kita lakukan adalah penggunaan kertas yang habis pakai langsung dibuang. 

Sampai tahun 2017, sedikitnya 28% sampah kertas menjadi penghuni tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dan setidaknya ada sekitar 11 rim/tahun jumlah kertas yang dipakai oleh masing-masing per-orangan di Indonesia (Dian Ulfa Puspita, GNFI 2017).

Untuk plastik sendiri, juga merupakan salah satu bagian dari kita yang  sering digunakan dalam kehidupan sehari hari. Bisa kita jumpai dalam bentuk bungkus makanan, wadah belanja, kemasan dari air minum, sedotan, peralatan rumah tangga, peralatan makan, alat make up , beberapa alat elektronik, dan masih banyak lagi. 


Sampah nasional sendiri mencapai angka sekitar 65,7 juta ton per tahun dimana 16 persen terdiri dari sampah plastik ( KLHK, 2018). Dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan bisa kita saksikan bersama. 

Dibuang dengan sembarangan ke laut, hewan di laut  mati akibat terperangkap di dalam sampah plastik atau mati akibat mengkonsumsi sampah plastik, terumbu karang mengalami kerusakan permanen jika terpapar sampah plastik dalam waktu yang cukup lama, tanah yang mengalami penurunan tingkat kesuburan karena plastik membutuhkan waktu yang sangat lama yaitu ±500 hingga 1000 tahun untuk terurai, dan berbagai dampak lainnya.     

Jika berlarut-larut , tentu saja dampak yang dihasilkan akan menjadi lebih besar dan lebih berbahaya lagi. Bisa dibayangkan jika warna dari bumi tidak hanya didominasi warna biru-nya air atau laut , tetapi digantikan dengan warna yang lebih “ramai” lagi karena sudah diisi dengan tumpukan sampah-sampah plastik tersebut.

 Laut yang akan berkurang populasi makhluk hidupnya sehingga masyarakat kekurangan asupan ikan yang bergizi, digantikan oleh keberadaan sampah plastik yang dibuang sembarangan. 

Terumbu karang yang akan mengalami penurunan populasi juga. Hewan ternak atau hewan lainnya tidak dapat mengkonsumsi tumbuhan hijau yang subur karena telah digantikan oleh plastik dan kertas yang dibuang begitu saja ke tanah tanpa diolah terlebih dahulu. 

Para petani yang akan kesulitan bercocok tanam karena menurunnya tingkat kesuburan tanah, dan masyarakat akan mengalami kesulitan untuk memperoleh dan mengkonsumsi sayuran atau buah-buahan atau tanaman yang sehat dan bergizi, dan tentunya akan menimbulkan dampak yang serius terhadap kesehatan masyarakat.  

Marilah ambil peran serta . Apa yang bisa kita lakukan? Mulailah dari diri masing-masing dengan  meminimalisir penggunaan kertas dan plastik. Contoh kecil, mahasiswa yang sedang konsultasi tugas akhir, bisa memakai kembali kertas yang digunakan untuk bahan konsultasi dengan mencetak  timbal balik bahan atau materi tugas akhir dalam satu kertas sebelum di setujui oleh dosen pembimbing. 

Menggunakan kembali kertas yang telah dipakai sebagai hiasan dinding, sebagai pengganti kertas origami, membersihkan kaca jendela atau cermin dengan menggunakan kertas bekas.

Mengurangi penggunaan berbahan dasar plastik dengan membawa botol minum sendiri, membawa wadah makanan sendiri saat hendak membeli makanan di rumah makan atau warung atau kantin, membawa tas belanja sendiri saat berbelanja, mendaur ulang plastik menjadi hiasan dinding, dan hal yang paling penting adalah saat berkunjung kemanapun usahakan tidak membuang sampah plastik dan kertas ataupun sampah dalam bentuk lainnya secara sembarangan. 


Bijaklah dalam membuang sampah atau barang – barang yang tidak terpakai lagi. Sekecil apapun jumlah sampah yang hendak dibuang jangan menyepelekannya. Bijaklah dalam mengolah sampah atau barang-barang yang tidak terpakai lagi. 

Sebisa mungkin mengganti barang jika barangnya benar-benar sudah rusak atau tidak bisa dipakai lagi. Jangan boros dalam menggunakan barang-barang. Pakailah sesuai fungsi dan manfaatnya. Setaat mungkin untuk meng-indahkan peraturan mengenai sampah yang telah ditetapkan. 

Tanpa menghasilkan tindakan preventif dari setiap inovasi yang kita hasilkan akan menghadirkan ancaman bagi peradaban selanjutnya. Lindungi lingkungan, lindungi bumi. Ciptakan “hubungan” yang seimbang antara kita sebagai pengguna kertas dan plastik dengan lingkungan dan alam sekitar kita.

Artikel Terkait