Kaliluna Luka di Salamanca atau Luka Kaliluna di Salamanca? Sempat bingung mana yang benar dari judul novel tersebut karena melihat sampulnya. Namun, setelah kembali memeriksa novel terbitan Moka Media tahun 2014 karangan Ruwi Meita tersebut, ternyata Kaliluna; Luka di Salamanca tertulis di halaman paling awal.

Walaupun alur ceritanya cepat tetapi tetap ringan untuk dimengerti. Kendatipun demikian, isi cerita dalam novel tersebut padat beragam makna. Beragam makna yang terkandung di dalamnyalah yang akan dibahas tulisan ini.

Namun, sebelum masuk ke dalam pembahasan tersebut, marilah berbasa-basi terlebih dahulu. Hitung-hitung pemanasan sembari berkenalan dengan buku yang sedang kita bahas.

Kabar yang beredar, Mbak Ruwi Meita kerap mengarang cerita yang berbau seram berbumbu misteri. Untuk buku yang satu ini tidak ada seramnya, hanya diselimuti sedikit misteri dan ... cinta, yay. Bagi yang menginginkan perasaannya diaduk pilu dan haru sekaligus, maka tepat untuk mencoba membacanya.

Nanti, jika jadi membeli novel tersebut, di awal halaman pasti disuguhi penggalan puisi dari Pablo Neruda; “Acap kali, kekasih, aku mencintaimu tanpa melihatmu bahkan tanpa kenangan, tanpa mengenali tatapanmu, tanpa menatapmu, kentaur (manusia setengah kuda).”

(Tetapi jangan cerita kepada siapa pun, kalau kebetulan ingin menunjukannya kepada teman, alangkah berpahala apabila merekomendasikan artikel ini. Hitung-hitung membantu sesama, hehehe).

Lebih-lebih lagi, para lelaki bujangan Salamanca sering membacakan penggalan puisi Pablo Neruda di atas kepada gebetannya. Kira-kira mereka sungguh mengalaminya atau hanya menggunakannya sebagai bahan gombalan ya? Namun, Ibai (tokoh utama laki-laki) sungguh mengalami penggalan puisi di atas. Bagaimana bisa? Akan terjawab pada akhir cerita.

Masih banyak adegan yang mengherankan. Salah satunya bagaimana bisa, terdapat seseorang yang mampu menciptakan gelembung kedap suara untuk dirinya sendiri di tengah-tengah keramaian hanya dengan berdiri diam?

Jadi, orang yang diceritakan di atas tiba-tiba mampu menulikan diri dan bersikap acuh tak acuh terhadap keriuhan sekitarnya, seakan-akan tenggelam ke dasar laut. Sungguh mengherankan, bukan? Oh tidak ya, karena bisa jadi ia hanya melamun.

Namun, sebenarnya ia tidak sedang melamun. Melainkan berusaha menciptakan zona nyaman bagi dirinya. Penasarankah siapa ia? Namanya Kaliluna sang tokoh utama perempuan.

Namun, benarkah ia mampu berbuat demikian? Sebenarnya tidak benar dalam arti harfiah, karena gelembung kedap suara hanyalah kiasan. Bukan itu yang terpenting, melainkan cerita dibalik kemampuannya menciptakan gelembung kedap suara di situasi ramailah yang penting untuk diketahui.

Ada lagi yang mengherankan, nanti ketika membaca novel ini kita akan diajari langkah-langkah memanah dan bagaimana keakuratan bidikan pemanah terhebat pun dapat digunakan oleh para pengamat yang jeli dan sabar. Bahkan, hanya dengan mengamati seseorang dapat membidik apa pun.

Selain itu kita juga akan diajari, bahwa seseorang yang bertindak menyebalkan pun jika tindakannya diniatkan tulus membantu dan sudah dipertimbangkan dengan matang, maka tetap membuahkan hasil yang menyenangkan. Kendatipun demikian, jika ingin mempraktikannya, maka dikenai syarat pantang menyerah dan bermental baja.

Sedikit bocoran, semoga tidak keberatan untuk mengetahui bahwa  Kaliluna dikelilingi oleh orang baik yang peduli kepadanya. Peduli pun ternyata belum tentu mampu memberi solusi pemecahan masalah yang ciamik, membidik tepat sasaran.

Meskipun terdapat seseorang yang mampu membidik tepat sasaran, ternyata masih bergantung dengan rangkaian kebetulan. Siapa yang merangkai kebetulan? Tentu, dalam cerita ini penulislah yang merangkainya, jika dalam kehidupan?

Cerita ini juga mengajarkan untuk tidak menarik diri terhadap orang-orang yang peduli ingin membantu. Mengapa demikian? Karena dapat menimbulkan kejengkelan bagi yang tidak sabar, sedangkan menimbulkan rasa bersalah bagi orang yang sungguh-sungguh sayang.

Terakhir, bayangkanlah kamu telah mencurahkan waktu, tenaga, dan kasih sayang kepada kekasih setulus hati. Kamu adalah pasangan paling bahagia di muka bumi. Namun, karena sebab tertentu (yang jelas bukan penghianatan antar kekasih) kalian harus putus hubungan atau komunikasi, dan baru dapat bertemu bertahun-tahun kemudian.

Selama berpisah ternyata kekasihmu tertimpa masalah luar biasa mengguncang. Kendatipun demikian, ia tetap mampu mengatasinya, sayangnya dengan bantuan orang lain yang juga tulus menyayanginya.

Kemudian, saat kamu kembali bertemu dengan sang kekasih, ternyata ia memohon maaf karena lebih memilih orang asing – bagimu – tersebut untuk menjadi kekasih. Apakah karena itu kamu merutukinya? Haruskah merutukinya?

Itulah beberapa makna yang terkandung dalam cerita ini. Biasanya jika ada kelebihan pasti ada kekurangan. Apalagi bagi reviewers, mereka harus menunjukan kelebihan dan kekurangan dari objek tinjauannya agar catatannya dapat dikatakan lengkap.

Maaf aku belum mampu seperti itu, karena masih menganggap semua buku menjadi bagus asal memberi wawasan dan sudut pandang baru. Semoga bersedia memaafkan kekurangan catatanku ini.

Ah, satu lagi. Jika pernah ingin membidik bintang dan tentu saja tidak akan pernah mengenai sasaran, karena faktor jarak. Kita disarankan untuk mencari kolam dan membidik bayangan bintang di dalamnya.