Saat mendengar kata ‘Politik’, yang terbesit dalam hati saya adalah suatu cara untuk mendapatkan sesuatu dengan cara diplomatis dan sesuai dengan prosedur yang ada. Kenyataannya memang seperti itu, apa yang terjadi saat ini adalah hasil dari perjuangan politik para intelektual di zaman Bung Karno.

Pemuda saat itu sangat antusias dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan berbagai cara. Mulai dari pertumpahan darah, hingga ke meja diplomasi. Tidak ada yang tidak kenal dengan sosok pemuda bernama Soekarno, Hatta atau Kartosoewiryo yang sama-sama berguru pada seorang diplomat ulung, H.O.S. Cokroaminoto.

Para pendahulu mengawali perjuangan di bidang politik dengan belajar dan belajar dari para ahli dan literatur yang tidak sedikit, oleh karenanya banyak sekali inspirasi yang didapat dari para pendahulu dan patut dicontoh oleh generasi selanjutnya.

Cara berpikir yang kompleks dan detail, dengan ‘dasar’ yang sederhana, merupakan aplikasi dari kesederhanaan dalam berpolitik. Dasar yang dimaksud yaitu visi yang jika disimpulkan hanya ada satu kata, yaitu Merdeka. Merdeka dalam berpikir, berdikari, dan segalanya yang bersifat membangun bangsa ke arah yang lebih baik.

Kesederhanaan tersebut yang sekiranya patut untuk ditumbuhkembangkan kembali di hati para pemuda.

Kesederhanaan memudar, Politik ‘main cantik’ mengakar

Para pendiri bangsa yang saya sebutkan di atas adalah contoh dari sedikit pemuda yang terjun di bidang politik untuk kemerdekaan bangsa ini. Apakah perjuangan mereka sudah usai pasca proklamasi? Tentu saja belum, karena sejatinya, politik akan selalu berkembang dari masa ke masa.

Untuk itulah kesadaran para pemuda diperlukan. Tak salah jika para siswa SMA mulai melek politik. Tahun 1998, saat reformasi terjadi, merupakan titik di mana para pemuda menyeruka perubahan dalam sistem perpolitikan di Indonesia. Mulai saat itulah banyak parpol terbentuk dan berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam pemerintahan.

Pembenahan sistem politik indonesia, sejak tahun 2000-an hingga saat ini, yang didominasi oleh ‘darah muda’, belum sepenuhnya tercapai. Seperti yang kita ketahui, ibarat remaja yang labil, para politikus muda juga bisa dikatakan masih labil. Karena memang kenyataannya masih banyak yang melakukan tindakan yang sangat tidak patut sebagai seorang politikus.

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya warisan ideologi atau pemahaman para pendahulu, akan senantiasa diikuti para pemuda yang ingin ‘membangun’ bangsa ke arah yang lebih baik. Tetapi yang dapat kita lihat saat ini adalah pemahaman yang salah. Yaitu korupsi.

Korupsi yang selama ini terjadi, khususnya pasca reformasi, menjadi contoh yang sangat ‘baik’ untuk generasi muda saat ini. Korupsi yang paling umum dicontoh oleh pemuda saat ini adalah mencontek. Awal dari tindakan ini akan sangat mempengaruhi mindset pemuda dalam beraktivitas, berorganisasi sampai di kehidupannya sehari-hari. \

Contoh nyatanya sudah terjadi di salah satu pemberitaan sekitar 2 atau 3 tahun lalu, saat seorang anak melaporkan tindakan mencotek saat UN dan justru si anak menjadi korban dari pengucilan di lingkungan sekitarnya.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa memang bagaimana mindset masyarakat sudah terbentuk tentang korupsi yang berupa ‘mencontek’ itu menjadi suatu hal yang biasa. Bisakah dibayangkan bagaimana bangsa ini nantinya jika semua masyarakatnya ‘menghalalkan’ korupsi?

Kesederhanaan dalam berpolitik yang semakin memudar, tergantikan dengan semangat bermain cantik dalam berorganisasi maupun berpolitik.

Bukan menjadi rahasia umum jika main cantik disini dapat diartikan sebagai hal yang yang lumrah, contohnya adalah strategi dalam menarik kader atau simpatisan yang notabenenya adalah para pemuda untuk meningkatkan elektabilitas sebuah parpol atau calon independen. Mulai dari kampanye biasa hingga yang luar biasa.

Luar biasa di sini contohnya bagaimana cara seorang yang sedang berkampanye menggunakan ‘pelicin’ untuk kesuksesan kader yang dicalonkan. Hal tersebut akan dikatakan ‘main cantik’ oleh beberapa pihak, sehingga akan timbul mindset bahwa ‘main cantik’ meskipun caranya salah adalah hal yang lumrah, sama halnya dengan mencontek yang sudah lumrah dimasa sekarang.

Jika hal ini dibiarkan, lambat laun akan mengakar pada generasi muda saat ini dan menjadi hal biasa jika melakukan hal buruk dengan dalih ‘main cantik’ agar dianggap ‘baik’.

Alat pemersatu bangsa yang (perlahan) menjadi alat pemecah bangsa

Politik main cantik yang sedikit dibahas sebelumnya, tidak akan terjadi begitu saja tanpa adanya peran Media massa. Media massa saat ini tidak hanya sebatas koran, majalah, radio atau televisi, akan tetapi berkembang seiring majunya teknologi saat ini. Tidak asing lagi istilah Facebook, twitter, instagram, atau yang sejenisnya.

Media sosial tersebut menjadi sasaran empuk para propagandis ulung untuk menjerat para pemuda dalam genggaman ideologi abu-abu mereka. Perlu diketahui bahwasanya propaganda dapat dilakukan oleh siapapun, dan dalam hal ini adalah propaganda yang dilakukan dan ditujukan untuk pemuda pemudi bangsa ini.

Malalui artikel di koran elektronik, artikel blog, sampai dengan web pemerintahan, pemuda pemudi kritis dan haus informasi mencari kebenaran, khususnya informasi politik, menjadi target utama para propagandis untuk ‘dicuci otaknya’ melalui artikel dan informasi sesuai dengan yang diinginkan.

Buktinya sudah jelas, banyak pro kontra tentang pemerintahan di republik ini. Tentu saja pro dan kontra itu hal yang biasa, namun menjadi tidak biasa saat dikemas menjadi sebuah perdebatan yang berakhir permusuhan dan akhirnya menjadi bibit disintegrasi bangsa.

Sebagai contoh adalah pada saat pemerintahan saat ini, banyak pemuda terjerat arus politik main cantik para pejabat dan kader parpol tertentu , hingga yang awalnya biasa saja menjadi fanatik atau bahkan benci terhadap parpol maupun pemerintah.

Pada kondisi inilah peran para pemuda untuk dapat menyaring informasi yang mereka dapat dari media sosial. Jangan membabibuta dalam menerima informasi, perlu ditelaah dan diperdalam terlebih dahulu sebelum menyimpulkan suatu informasi. Penyaringan informasi perlu dilakukan agar tidak menjadi ‘mindset’ yang salah bagi para pemuda.

Generasi muda sebagai agent of change?

Politik yang baik (setidaknya ada sisi baiknya) harus diawali dengan niat yang baik dan sebisa mungkin dijalankan dengan sederhana. Sebagaimana yang sudah dipaparkan diawal tulisan, sederhana dengan visi ‘merdeka’, sehingga jalan yang akan dilalui akan tetap on the track mengarah pada perkembangan yang positif.

Sebagai generasi muda, dan akan melahirkan generasi berikutnya, perlu ditekankan bahwa kita semua adalah Agent of Change untuk bangsa ini, tetapi perubahan ke arah yang positif, bukan negatif. Untuk mengarah pada perkembangan yang positif, pemuda dan pemudi saat ini perlu ditanamkan sikap Non-Blok yang pernah dijalankan oleh Bung karno dan jangan sekalipun melupakan sejarah. Untuk berubah ke arah yang baik, perlu mempelajari sejarah bangsa dengan bijak.

Tetaplah ‘berjalan’ di tengah

Untuk pemuda dan pemudi yang akan berjalan, berlari atau bahkan hidup di jalur politik, tetaplah berpegang teguh pada visi ‘merdeka’ di awal tulisan. Merdeka dengan cara berjalan di tengah, netral dan tidak ada keberpihakkan kubu A dan B. Tetapi berpihak pada kesejahteraan rakyat. Sehingga kebijakkan yang diambil, senantiasa akan tetap menjadi hal positif untuk bangsa dan negara.

#LombaEsaiPolitik