Penulis
6 bulan lalu · 279 view · 4 min baca · Gaya Hidup 42859_97263.jpg

Sederet Kemiskinan dan Sebotol Bir

Singgah di warung kopi, sejenak menatapi langit-langit ruangan di mana kopi tak pernah alpa, menjadi pesanan utama acap kali menu usai disodorkan. 

Saya pecandu kopi yang senantiasa mampir di warkop pada waktu-waktu tertentu, biasanya sebelum senja ditelan malam.

Kenapa kopi? Karena pahit dan manisnya menginspirasi serta mengejawantahkan segala ide lewat setiap kali seruput, dan memang hal tersebut telah menjadi budaya baru kaum muda di era millenial ini.

Di meja sebelah kiri, tepat tiga kursi melingkari. Teman lama yang kerap disapa Zul (Nama samaran), saya temui dengan ekspresi seolah baru saja kehilangan sesuatu, ia nampak memeluk tubuhnya sendiri. Saya datangi, saling sapa hingga panjang percakapan.

Botol bir setengah penuh berdiam kaku di hadapannya, sementara secangkir kopi yang saya pesan sebelumnya juga kusimpan, terlihat seperti pertarungan antara sebotol bir dengan secangkir kopi. 

Kopi sebagai inspirasi, dan mungkin seteguk bir adalah pembuka cakrawala berpikir untuk lebih berani menuangkan fakta.

Baca Juga: Bir Ketiga

Zul banyak berbicara, mungkin karena ia sudah dihegemoni oleh alkohol, sebab sebelumnya yang saya ketahui dia sangat penyabar, bahkan paling pendiam saat masih SMA. 

Perlahan ia terus meneguk bir di hadapannya, semakin lancar pula ia menjelaskan. Dari curhatan tentang mantannya yang baru saja bepaling pada lelaki mapan, hingga kondisi sosial di kampung halamannya yang masih itu-itu saja.

Ia semakin lincah, seolah ahli retorika. Tapi bisa saja benar apa yang dikatakannya. “Masyarakat miskin di kampung saya nda pernah dapat bantuan dari pemerintah” katanya dengan wajah mulai memerah. Ia terus bercerita, dari pembangunan infrastruktur hingga pemberdayaan manuisa.

Menurutnya, masyarakat di desa memang tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah, “Kalau pun ada pendataan, hanya orang-orang pemerintah saja yang didata, yang lain tidak tersentuh” tambahnya.

Saya amati Zul, bukan karena setengah sadar lantaran dirinya bercerita kondisi sosial, hanya saja, karena sebotol bir mampu membuatnya lebih berani mengungkap fakta-fakta yang selama ini ditutup-tutupi pemerintah, yakni kemiskinan yang telah akut di pelosok negeri.

Lama saya menyimak keluh kesah Zul, mengamati deretan kalimatnya, penuh empati saat ia menerangkan tentang kondisi kampungnya, dimana listrik pun belum sempat mereka rasakan.

“Di kampungku, jangankan bersekolah, berbicara pendidikan saja orang takut karena mengira semua butuh uang, sementara kami mau dapat uang di mana?” jelasnya seraya bertanya.

Waktu tak terasa, demikian cepat seperdua malam menyambut. Saya pamit lalu pulang beristirahat. Jujur, sesampai di rumah saya tak bisa tidur memikirkan tentang beberapa hal yang di katakan Zul menyangkut pembangunan dan pengentasan kemiskinan di negeri ini.

Pada kesempatan selanjutnya, saya berkunjung ke tempat yang berbeda dalam kondisi sosial geografis yang serupa, yakni pelosok negeri di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. 

Berjalan kaki sekitar 1 kilometer, mengamati keindahan alam, dan keunikan satwa liar, kemudian sampai di rumah-rumah warga. Hingga akhirnya ketemu dengan Colly (Nama samaran) yang umurnya sekira 50 tahun ke atas.


Colly memaksa saya untuk singgah, bahkan diharuskan menginap, menurutnya setiap tamu baiknya menginap kalau berkunjung. 

Ia sangat ramah, menyeduh kopi khas lokal, sepahit diputuskan tiba-tiba oleh kekasih rasanya, sebab memang kopi di sana tak diberi gula, alami katanya.

Spekulasi dengan gaya retorika menggunakan bahasa lokal, akhirnya saya merasa sudah sangat dekat, seolah ada hubungan keluarga di antara kami. 

Colly mengambil jeriken kapasitas 5 liter, berwarna merah. Menuangkan ke gelas yang semula disiapkan di depan kami, gelas menarik dari potongan bambu.

Cairan putih dari ceriken mengalir mengisi ruang gelas, yang siap tuk dicicipi. Ballo’ (Tuak) katanya, cocok untuk menghangatkan saat malam yang mulai larut, apalagi di sana udara sangat dingin, tak bisa berdialog tanpa menggunakan selimut.

Memulai dengan pertanyaan-pertanyaan soal pembangunan, Colly mulai semakin cerewet. Ia jelaskan kondisi sosial di tempatnya. “Di sini kebanyakan orang hidup di bawah garis kemiskinan nak. Walau mereka tak pernah dapat bantuan, tetapi mereka juga nampak tenang dan bahagia” bebernya dengan mata berkaca-kaca.

Pelosok yang tak terjangkau teknologi dengan semangat gotong-royong, orang-orang nampak sangat mengedepankan etika dan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial. 

Demikianlah bila kita memberanikan diri, melangkahkan kaki ke pelosok. Maka kita akan menemui seonggok persoalan yang pada dasarnya menjeritkan, tetapi terbungkam ketakutan akan kekuasaan yang arogan.

Lewat sebotol bir dari Zul, atau segelas Ballo’ hasil racikan Colly, akan membuat kita sadar, menemukan fakta-fakta tentang hakikat bernegara yang mengerikan bagi masyarakat kecil di pelosok. 

Lewat pengamatan singkat, saya simpulkan bahwa mereka sebenarnya tertindas secara tidak langsung, namun karena ketakutan telah bertengger di benaknya, sehingga mereka hanya memilih diam dan pasrah.


Tulisan singkat ini hanyalah gambaran kecil dari hasil penelitian saya beberapa minggu yang lalu tentang kehidupan pelosok desa, di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Di mana masih banyak orang-orang yang belum bisa menikmati pembangunan pemerintah dengan merata.

Mereka hanya pasrah dalam ketakutannya, sebab kebanyakan di antaranya benar-benar tidak tahu selain bekerja dan terus bekerja tuk bertahan hidup. Tetapi dengan setengah sadar, entah lewat bir atau segelas ballo’ maka siap-siaplah mendengar keluh kesahnya.

Artikel Terkait