20230_40058.jpg
Hiburan · 10 menit baca

Sedang Ingin Memuji Ahmad Dhani

Dhani Ahmad Prasetyo (kemudian Ahmad Dhani Prasetyo ...just because...), baru-baru ini kembali ikutserta dalam konser DEWA19. Keikutsertaan yang dipuji banyak pihak sekaligus dicaci pihak lainnya. Pujian dialamatkan lantaran laki kelahiran Jakarta, 26 Mei 1972 yang dibesarkan di Surabaya sejak berumur 2 tahun ini belum kehilangan musikalitas. Sedangkan cacian diberikan karena perilakunya sudah membuat tak nyaman perasaan sesama manusia.

Dengan terus tetap memperhatikan pujian dan cacian, rasanya tak salah kalau disebut bahwa Dhani seakan ditakdirkan lahir sebagai seniman. Mamanya yang berdarah Jerman, Joyce Theresia Pamela Kohler, sangat menggandrungi musik-musik bergizi tinggi, baik Indonesia, Nusantara, maupun planet Bumi. Begitu juga papanya yang berdarah Garut, Eddy Abdul Manaf bin Rustra Sastraatmaja.

Kegandrungan tersebut membuat Dhani sudah akrab dengan seni musik sejak dalam kandungan. Joyce, sang mama, kerap memperdengarkan musik-musik yang digemarinya pada Dhani saat sang buah hati masih berada di dalam rahimnya. Kebiasaan ini terus berlanjut tanpa pernah berhenti.

Setelah lahir, Joyce juga rajin mengajak putra pertama baginya ini ke toko kaset dan membelikan kaset kesukaan Dhani. Dengan keadaan perekonomian keluarga yang tak bisa disebut mewah, Dhani pun cukup dibelikan kaset-kaset bajakan yang berharga murah. Dari sinilah Dhani mulai akrab dengan karya seni dalam bentuk musik.

Setelah lahir, Joyce juga rajin mengajak putra pertama baginya ini ke toko kaset dan membelikan kaset kesukaan Dhani. Dengan keadaan perekonomian keluarga yang tak bisa disebut mewah, Dhani pun cukup dibelikan kaset-kaset bajakan yang berharga murah. Dari sinilah Dhani mulai akrab dengan karya seni dalam bentuk musik.

Di perlintasan masa balita menuju anak-anak, Dhani dibelikan keyboard oleh papanya. Selain itu, kedua orangtuanya juga telaten mendorong Deni—sapaan dari tetangga waktu itu—untuk menekuni dunia musik dengan mendaftarkan cah mbeling ini ke les musik. Mereka berharap suatu saat Dhani memiliki keunggulan dalam musik.

Keharmonisan orangtua Dhani dalam ikatan keluarga dan rumah tangga saat itu memberi berkah tersendiri bagi perkembangan Dhani. Dhani ditumbuhkembangkan keadaan yang membuatnya merasakan cinta yang bukan cinta manusia biasa.

Pada usia 12 tahun, Dhani mulai cinta mati pada Queen, grup band legendaris asal Britania. Dia sangat menggandrungi lead vocalist dan keyboardist Queen, Farrokh Bulsara (Freddie Mercury). Kegandrungan yang merasuk jiwa dan tak pernah sirna hingga saat ini. Hingga saat ini, Dhani rajin memperingati haul legenda Queen yang berpindah dimensi saat Dhani mulai berkarier di dunia musik.

Dhani juga sangat menggandrungi Francis Albert Sinatra (Frank Sinatra) dan Howard Andrew Williams (Andy Williams). Dari dua musisi legendaris ini dirinya bisa mengenal dan kemudian menggandrungi pemusik lainnya. Frank Sinatra dan Andy Williams membawa Dhani pada pemusik lain seperti Anthony Dominick Benedetto (Tony Bennet), William John Evans (Bill Evans), dan Sarah Lois Vaughan. Belakangan dari titik ini pulalah Dhani mengenal pianist lainnya seperti Keith Jarret dan Armando Anthony Corea (Chick Corea).

Kemauan pribadi dan harapan orangtuanya diperkuat dengan lingkungan keluarganya. Saudara sepupu Dhani juga menggandrungi musik. Dari sepupu-sepupunya Dhani berkenalan dengan pemusik rock selain Queen, seperti The Rolling Stones dan Yes. Lingkungan pergaulan di luar keluarga pun mendukung jalan panjang Dhani menekuni musik. Ketika masih SD, Dhani beruntung memiliki sahabat yang menggemari Van Halen dan Led Zeppelin.

Panah takdir utama Dhani hingga hari terakhir di dunia seakan memang di dunia musik. Setelah dari lingkungan keluarga dan persahabatan saat SD mendapatkan pengetahuan luas serta dalam tentang musik rock—yang menjadi genre paling digandrunginya—saat SMP rekam jejak ini terus berlanjut.

Dhani beruntung berjumpa dan bersahabat dengan orang-orang yang menggemari musik. Kali ini pergaulan di SMP lebih banyak mengenalkan musik pop padanya. Mulai dari Madonna Louise Veronica Ciccone, a-Ha, Spandau Ballet, hingga Michael Joseph Jackson. Lebih beruntung lagi, gedung SMP Dhani saat itu, SMPN 06 Surabaya, terletak dekat dengan toko kaset.

Di toko kaset tersebut, pembeli bisa njajal seluruh kasetnya sebelum membeli. Hal ini memberikan kesempatan pada Dhani untuk mencicipi musik-musik lain yang belum dia kenal. Selain itu juga menjadi benih-benih kebiasaannya ketika membeli kaset, selalu mencoba seluruh isinya. Toko kaset ini memberikan berkah tersendiri, pasalnya dari sinilah dia mulai mengenal Michael Franks, Dian Pramana Putra, Indra Lesmana, Chaka Khan, Kenneth Clark Loggins (Kenny Loggins), Gino Vanneli, dan sederet musisi top lainnya.

Ketika SMP juga Dhani mulai berkenalan pada musik fusion seperti Casiopea, Uzeb, dan Spyro Gyra. Pada masa itu, bersama sahabat eratnya, Andra Junaidi Ramadhan (Darjoen) serta Erwin Prasetya (Erwin), dan Setyawan Juniarso Abipraja (Wawan)—yang sama-sama tertarik dengan musik—kemudian rajin mempraktikkan bersama dengan bermain band.

Keempat remaja tersebut kemudian sepakat membentuk grup band yang diberi nama ‘Mol’ pada 1986. Nama ‘Mol’ diambil dari nama guru seni musik mereka, Pak Mul. Belakangan nama ‘Mol’ diubah menjadi DEWA setahun kemudian, yang merupakan akronim dari nama sapaan mereka.

Sayang, ketika SMA, Wawan justru memilih hengkang ketika Dewa njajal musik jazz. Hal ini lantaran Erwin sangat kesengsem dengan jazz, sementara Dhani dan Andra tak masalah sekaligus ingin mencoba warna beda. Empat sahabat ini pun berpisah sejenak. Walau lebih sering memainkan musik jazz, Dhani tetap berkenalan dengan musik lainnya. Melalui sahabatnya, dia berkenalan dengan Patrick Bruce Metheny (Pat Matheny), dan langsung menjadi penggemar berat Pat Matheny.

Pada masa itu juga Dhani dan Andra mulai menjalin ikatan persahabatan cinta yang tulus. Kebetulan keduanya adalah teman sebangku. Sementara Erwin dan Wawan satu kelas di kelas yang berbeda dengan Dhani dan Andra. Saat sedang males mengikuti pembelajaran, Dhani dan Andra kerap ngobrolin musik secara teknis.

Perjumpaan perdana keduanya sebenarnya berlangsung dalam suasana panas. Andra kerap bilang, “Sopo arek iki?” (Jawa: siapa anak ini?), ketika Dhani lewat di depannya. Bagi Andra, Dhani saat itu tampak sombong. Namun belakangan Andra mengerti bahwa Dhani bukanlah sombong melainkan arogan.

Musik tak pernah berhenti menggempur Dhani. Roes, sahabat Dhani ketika SMA, mengenalkan lebih dalam pada Miles Dewey Davis III (Miles Davis), Michael Leonard Brecker, Randolph Denard Ornette Coleman, dan beberapa nama lainnya. Dhani juga bersahabat dengan penggemar Metallica, Anthrax, dan Megadeth.

Di penghujung masa SMA, Dhani yang menjumpai Ari sedang nongkrong sendiri dulu di jalan, segera mengajak Ari bergabung dengan grup band Dhani dan kawan-kawan. Sebenarnya Ari lebih dulu mengajak Dhani bergabung bandnya, OutSider, ketika mereka masih kelas satu SMA. Sayang Dhani menampik ajakan ini.

Dua tahun berikutnya, keadaan menjadi kosok bali. Ganti Dhani yang mengajak Ari, dan Ari pun mau. Sejak pertemuan mereka di SMA, Dhani dan Ari memang mulai menjalin interaksi intim. Ari menjadi orang terdekat Dhani selain Andra dan Maia. Kebetulan Dhani dan Ari memiliki kebiasaan membaca buku dan mengobrolkan perkara yang terkesan kekanak-kanakan hingga saat ini.

Walau demikian, baru belakangan Dhani dan Ari bisa bersama mengibarkan bendera band yang sama. Ari adalah orang yang mengenalkan Dhani pada Bon Jovi dan Warrant serta musik easy rock. Perkenalan ini membikin Dhani bisa dengan mudah menggubah karya remeh berjudul Kangen—yang ironisnya bisa nge-hits terus.

Dhani sejak awal sudah cinta mati pada Queen. Sementara Ari mulai jatuh hati dengan musik setelah mendengarkan Bohemian Rhapsody, karya agung tanpa mendung dari Queen. Walau demikian, justru bukan Queen yang menjadi titik temu jitu Dhani dan Ari dalam musik. Dhani yang sedang berselera pada fusion dan jazz harus beradaptasi dengan Ari yang sedang berselera easy rock. Hasilnya, mereka berdua sepakat mengkhatamkan Toto dan Chicago.

Sejak saat itu Dhani dan Ari bergabung bersama dalam satu grup band. Bersama mereka, ada juga Andra dan Erwin serta Wawan yang kembali ‘pulang’. Kelima laki yang baru saja melepas masa remaja mereka ini kemudian berupaya menapaki tangga di dunia musik. Mereka mengibarkan bendera DEWA, yang oleh Ari, diusulkan ditambahi angka ‘19’ sebagai penanda saat itu mereka rata-rata berusia 19 tahun.

Dhani masih rajin mendalami musik sesudah dikenal sebagai bagian dari DEWA19. Perjumpaannya dengan Think Morrison memiliki peran penting yang memperkenalkannya pada Kayak, Alan Person Project, dan ELP. Interaksi intimnya dengan Virdy Megananda (Bebi) dan Gabriel Bimo Sulaksono (Bimo) yang mengenalkan padanya lebih jauh dengan The Beatles. Bebi merupakan salah satu orang yang sanggup membuat Dhani diam dalam beberapa perkara.

Semua pengalaman berinteraksi tersebut membikin Dhani memiliki selera musik beragam. Ragam langgam dari jazz hingga rock, dari musik sebagai karya seni hingga musik sebagai barang industri, terus menerus dia tekuni. Dhani bisa larut menikmati karya Sergei Vasilievich Rachmaninoff dan Joseph Maurice Ravel, sesudah bergaul dengan pemain orchestra ketika rekaman string untuk album-album DEWA19.

Dhani juga menggemari musik R&B ketika musik fusion mulai memudar di era 1990-an, yang membikinnya gandrung pada TLC dan Faith Renée Evans. Hingga kini, Dhani pun bisa tenggelam dalam menikmati karya Sonny John Moore (Skrillex) yang hadir menjadi lokomotiv generasi baru electronic dance music.

Kegandrungan Dhani didukung dengan keberuntungannya bisa menguasai beragam alat musik, terutama keyboard dan guitar. Penguasaan ini sangat bagus baginya. Pasalnya, seorang yang bisa menguasai dua alat musik tersebut memiliki modal berharga untuk menghasilkan ragam langgam. Langgam yang digubah oleh pemusik yang bisa menguasai keyboard dan guitar cenderung lebih kaya nuansa rasa ketimbang alat lainnya. Penguasaan tersebut juga memudahkannya untuk bisa mengerti musik Steven Siro Vai (Steve Vai), David Howell Evans (The Edge), Brian Harold May (Brian May Queen), serta musik elektronic ala The Chemical Brothers.

Penguasaan terhadap alat musik turut didukung dengan kegemarannya membaca buku apapun dan terlibat obrolan dengan siapapun. Kegemaran ini memperkaya ragam kosa kata untuk dijadikan lirik dalam langgam yang digubahnya. Dhani tak ragu menggunakan kosa kata tak populer tapi memiliki nilai luhur, seperti menggunakan kata ‘kuldesak’ dan ‘kirana’.

Dhani juga biasa saja memadukan kata ‘laskar’ yang biasa berkonotasi negatif dengan ‘cinta’ yang biasa berkonotasi positif. Tanpa merasa menistakan Sang Pencipta, Dhani santai saja mendayagunakan kata ‘Tuhan’ berpadu dengan kata ‘seksi’ saat menggubah langgam paling narsis.

Dhani tak canggung menyuntikkan gagasan lawas ke dalam langgam yang digubah. Dengan enjoy dia menyuntikkan gagasan mengenai surat al-Fatihah pada Kuldesak maupun surat al-Fiil pada Persembahan dari Surga. Begitu juga penafsiran terhadap surat al-Fajr pada Laskar Cinta, hasil unjuk rasa Rabi’ah al-Adawiyah pada Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada (solo berduet bersama Chrismansyah Rahadi a.k.a Chrisye) dan Jika Cinta Allah (solo dengan nama Abu al-Ghazali), dan hasil unjuk rasa Mbah Lemah Abang dalam Dimensi versi aransir The Rock.

Selain menggubah langgam berat, Dhani juga piawai menggubah langgam ringan yang mudah dicerna oleh generasi kekinian dan kedisinian. Gubahan seperti ini biasanya diusahakan bukan rilisan dari DEWA19, yang sudah memiliki warna paten. Misalnya dalam langgam Dokter Cinta yang dirilis melalui Dewi Dewi, Munajat Cinta melalui The Rock, Selir Hati melalui T.R.I.A.D, hingga Rindu Merindu bersama MahaDewa19.

Baca Juga: Islam Musikal

Walau rekam jejak Dhani dalam berkarya musik diapresiasi banyak pihak, dia memiliki kelemahan tersendiri dalam penggubahan langgam. Dhani terbiasa menggubah langgam tentang ‘cinta’ dalam arti luas dan dalam. Kelemahan tersebut membuatnya tak terbiasa menggubah langgam seperti Titiek Puspa dalam Apanya Dong maupun Meliana Cessy Goeslaw (Melly Goeslaw) dalam I Just Wanna Say I Love You. Ketidakbiasaan ini membuat Dhani sempat rela menggelontorkan uang Rp 5 juta untuk membeli hak penggunaan susunan kata “Neng Neng Nong Neng” dari peserta audisi Indonesian Idol.

Dhani juga cenderung pemalas dalam memperkenalkan karyanya. Dengan potensi luar biasa yang dimiliki, Dhani justru menggiring DEWA19 secara perlahan ketika merilis karya, irit popularitas kira-kira meskipun banyak yang menganggap Popularitas adalah Tuhan. Begitu juga dengan brand lain yang melibatkannya. Dengan ungkapan lain, Dhani memiliki modal sebanyak 10 namun dia hanya mendayagunakan 4 saja.

Wajar Elfonda Mekel (Once) merasa sayang sekali kalau Dhani tiba-tiba undur diri dari musik. Bagi Once, pemusik seperti Dhani hanya bisa lahir 30 tahun sekali dan tidak di setiap tempat. Andra menyebut bolo sebangkunya tersebut sebagai sosok genius. Lebih dari itu, Ari malah kerap menyebut Dhani the one and only saat berada di depan umum.

Meski demikian, pengalaman Dhani dalam bermusik tetap layak diapresiasi. Sebagai pemusik, Dhani memang luar biasa istimewa. Jarang ada pemusik bisa melakukan seperti yang dilakukan olehnya. Dia bisa menjadi penulis lirik yang apik maupun sesuai pasaran, menggubah alunan nada megah maupun kacangan, bekerja sama dengan liyan, maupun mempromosikan brand baru. Di luar itu semua, sikap mengesankan dari Dhani ialah kebiasaannya mengapresiasi.

Dhani bisa mengapresiasi ragam macam tanpa terikat dengan dhemen-sengit walau saat ditampilkan jarang dilihat orang. Apresiasi yang diberikan terbilang proporsional sehingga bisa menempatkan pujian maupun kritikan pada tempat yang tepat. Dhani tak segan menggelorakan bahwa dirinya terpengaruh oleh beberapa perkara maupun peristiwa yang dihadapinya. Misalnya Queen yang terpampang jelas dalam Kosong hingga FPI (Front Pembela Islām) yang turut memengaruhi langgam Laskar Cinta.

Sepanjang menjalani kesehariannya, Dhani yang memadukan ‘memuja logika kritis, memelihara mistis’ ini seakan hanya berjalan di atas pagelaran Pelantan saja. Dia memang tipikal pekerja keras, walakin dia selalu juga menyatakan kalau tak pernah berusaha yang hasilnya seperti yang didapatkannya.

Kepada Ilahi-Rabbi, Dhani selalu berserah. Kepada kata-kata nyinyir yang dialamatkan padanya, Dhani selalu terserah. Dhani hanya berusaha untuk tak lelah mengayuh secara terus-menerus. Mengayuh... mengayuh... mengayuh perjalanan... “You say God give me a choice...” seperti lantun Queen dalam Bicycle Race. Meski pada saat tertentu dia bisa lelah juga seperti lantun Queen dalam langgam I Want to Break Free, yang merupakan langgam pertama yang dia gilai.