Kata ‘Dikoyak’ pada judul ini awalnya ‘Digobloki’. Tapi, saya teringat curahan hati Tsamara Amany bahwa pimpinan DPR tidaklah pantas menggoblok-goblokkan orang lain dengan kata-kata seperti itu. Jadi, hamba sebagai rakyat harus lebih santun dari sekadar wakilnya.

Kesantunan memang harus dimiliki oleh setiap lelaki tulen. Pak SBY sering mengingatkan berkali-kali dulu selama dua periode. Apalagi sebagai lelaki politik. Tetapi, santun saja itu tak cukup. Pak Prabowo malah lebih satir pidato berapi-api: boleh korupsi asal santun.

Tapi, kenapa bang Fahri Hamzah harus berpuisi dalam cuitan? Loh, memangnya lelaki tulen tak boleh berpuisi?

Coba kau sebut nama-nama penyair terkenal, kebanyakan lelaki toh? Lelaki dan sajak sudah eksis sejak jaman Rasulullah lewat lisan Abdullah bin Rawahah yang pernah berorasi di Perang Mu’tah. Dan lelaki politik dalam sejarahnya cukup banyak yang dekat dengan sajak.

Kennedy membaca Longfellow dan Whittier, Soe Hok Gie gandrungi Whitman dan Chairil Anwar. Mao malah bersajak. Dan, siapa tahu, Soeharto itu diam-diam pembaca Wiji Thukul. Siapa tahu, minimal pelototi milis ‘Apakabar’, milisnya anak-anak pergerakan.

Supaya kompak duet sehati Fadli-Fahri sebagai duo lelaki tulen, maka dalam senggang, beliau-beliau ini kadang berpolitik dengan puisi. Atau berpuisi politik. Atau politisi yang berpuisi.

Mantan aktivis-aktivis gerakan itu ternyata pada melek sastra juga. Budiman Sudjatmiko malah sudah buat otobiografi. Jadi, hindari stereotip bahwa lelaki itu kurang sensitif dan heartless. Atau politik cuma persoalan dikotomi hitam dan putih saja. Dengan puisi, maka timeline perebutan kekuasaan akan lebih berwarna-warni.

Jadi, sudah bukan jamannya jika lelaki dianggap cupu hanya dengan menulis diari. Di jaman kiwari ini, jika sudah lelah berdialektika empiris, maka berpuisilah. Jika ingin menohok lawan tanpa kotor-kotor tunjuk tangan, maka bersajaklah. Tunggalnya bahasa retorika, dibuat jadi aneka makna. Larik no-mention berambivalensi pada keliaran imajinasi. Termasuk urusan cinta setengah hati.

Siapa yang tahu objek cinta Chairil Anwar pada puisi ‘Sia-Sia’ saat si Aku merasa absurd pada semacam friend-zone--sehari kita bersama. Tak hampir menghampiri, selain umpatan: Ah! Hatiku yang tak mau memberi. Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Apakah emosi itu dialamatkan untuk sosok Sri Ajati, Sumirat, atau Ida Nasution, mengingat catatan waktu puisi-puisi Chairil dan periode masa ‘pendekatan’ terjadi di sekitar Februari 1943? Atau untuk Hapsah, Karinah, dan Dian Tamaela?

Chairil seperti tak mampu meyakinkan objek dan dirinya sendiri dalam interaksi relasi saling menaklukkan. Masalah cinta itu sesungguhnya masalah penaklukkan semata, kawan. Dan, sebagaimana penaklukkan yang nyata, tentu ada proses negosiasi yang asosiatif. Chairil tak lihai berdiplomasi. 

Apakah umpatan si Aku dan pak Fahri sama warnanya?

Betah betul kalian melihat kezaliman, tahan betul kalian melihat penjajahan., penipuan dan manipulasi...goblok!

Tapi, seperti kata Sutardji C.B., kata-kata menurutnya harus bebas dari tradisi lapuk yang membelenggu semacam kamus dan afinitas moral pada kata tertentu yang dianggap kotor (obscene), atau penjajahan gramatika. Itu berarti mengembalikan khittah kata pada ‘mantera’.

Jadi, tak perlulah terlalu terbawa perasaan sambil mengingat petuah bujuk om Rocky tentang ’IQ 200 sekolam’ yang masyhur di kalangan oposisi itu. Karena ‘goblok’-nya bang Fahri belum tentu sama dengan ‘mampus’-nya si Aku. Chairil mengumpat dirinya sendiri dengan kesadaran bulat atas kegalauannya yang menghebat. Bukan secara perkasa berseru kepada pihak lawan bicara. Tapi, masalahnya, apakah bang Fahri sedang berpuisi?

Coba hapus intimidasi om Rocky. Tautkan pada koherensi cuitan bang Fahri pada objek bicara sebelumnya, yakni Tsamara yang sedang unjuk jari. Sudah berapa kali politisi belia ini rajin mengkritisi segala tindak tanduk politisi seniornya tentang KPK.

Dalih penguatan dan memperbaiki lembaga paling gahar pada koruptor dengan Pansus Angket yang temui para terpidana korupsi di Sukamiskin ini dinilai aneh bin ajaib. Apalagi, terujar keinginan untuk membekukan KPK dengan memanasi linimasa.

Sudah beberapa kali pula terjadi mention intens antara dua politisi beda generasi ini. Mungkin bang Fahri mulai jengah. Tapi, sejengah-jengahnya singa ILC, taring itu mendadak tumpul di suatu episode talkshow paling digemari para debaters tersebut. Apakah sedang terjadi suatu ‘penaklukkan’ di antara mereka? Ah, jangan bergosip. Kembali ke laptop.

Boleh jadi (sudah mirip pak Quraish, belum?) makian bang Fahri ditujukan pada para millennials. Generasi yang menurut Pew Research Center adalah generasi yang berciri ekspresif, percaya diri, dan bersemangat yang melek pada teknologi, media sosial, dan sangat tergantung mood hari hidupnya pada ponsel pintar.

Generasi yang juga disindir majalah ‘TIME’ dengan tajuk ‘Me Me Me Generation’. Atau generasi yang membuat ritual selfie saat seruput kopi di gerai-gerai global kapitalis milik Wahyudi, penganut paham brand-minded, gila travelling, dan kejang-kejang saat kuota internet kehabisan.

Generasi yang sedikit-sedikit ‘sakitnya tuh di sini’, atau ‘asal kau bahagia’ yang terdengar minim perjuangan. Atau pemanjat sosial sachetan. Atau kaum ‘hype’ yang manut-manut pada moral mayoritas dengan format share, liked, comment, RT, hastag, save ini-save itu, dan viralkan.

Tampaknya beliau tak ingin pentas puja-puji dan opini mayoritas dijadikan dasar pembelaan dan penegakan hukum KPK. Apalagi lewat politisi belia yang dianggap populer secara instan.

Tapi, millennialisme bukan soal umur. Tak semua netizen itu millennial. Dan millennial tidak bergaya tunggal.

Atau bisa juga tertuju pada netizen-netizen galau yang kadang mendukung KPK karena faktor insiden penzaliman Novel Baswedan serta fakta bahwa Pansus didukung oleh partai-partai pendukung kekuasaan. Tetapi, kadang pula mendukung Pansus karena faktor positioning support bang Fahri yang oposisi dan KPK yang dianggap terlalu memonopoli dan tak jelas dalam penyelesaian sejumlah kasus korupsi.

Caci maki membuatmu waspada dan selalu terkendali...
Tapi, puja puji membuatmu lupa diri dan takut mati.
Dan aku adalah angin, aku adalah musim, dan aku adalah bara api yang membakar telunjuk jarimu yang lentik…
Dan kalau kalian akui, aku adalah bencana yang datang merusak sakit jiwa kalian yang menahun dan bertahan...berulang...

Kritikan publik yang deras pada Pansus Angket KPK, jika sampai membuat abang habis kesabaran, mau dikata apa dengan balasan singkat penuh maaf Gibran dan Kaesang ketika sang bunda di-bully dengan meme penuh kata-kata kotor yang tak pantas? Terbuat dari apa pula hati putri-putri Gus Dur saat sang ayah dirundung dengan kata-kata ledekan sarat kebencian? Daftar perundungan tak relevan pada Presiden jangan ditanya.

Analogi fase transisi demokrasi dari era despotisme Orde Baru dalam konteks eksistensi KPK ini dapat dilihat perumpamaan Ignas Kleden dengan apa yang disebut pemahaman prosaik ketimbang puitis: bahwa perubahan sosial yang terjadi hanya dilihat secara tunggal-makna, bukan aneka makna yang menyebabkan munculnya harapan tunggal yang berlebihan. Semisal, alih-alih berupaya dekonstruksi pada budaya patriarki, efek yang lahir justru ‘patriarchy writes back’. 

Arogansi Orde Baru dilawan oleh aktivis-aktivis seangkatan bang Fahri yang ironinya kini, beberapa, hendak melawan bahkan membekukan KPK dengan dalih yang sama. Padahal, KPK lahir sebagai antitesis sistem kekuasaan yang korup. Pansus lalu diketuk palu secara prerogatif menggebu-gebu. 

Mudah-mudahan kata makian itu bukan untuk sang politikus belia, ya bang, bukan karena sensitifitas kerawanan hati seorang perempuan atau karena kebijakan umur bang. Bukan.

Puisi yang memaki justru membuat wangi korbannya, seperti Chairil yang berkaca diri.

Mungkin bang Fahri bisa diibaratkan Ahok yang bandel, sering melawan arus. Jangankan netizen, partainya sendiri pun dilawan. Sendirian, sepi, dan tak akan berhenti. Tapi, menurut Sutardji lagi, puisi tak dapat meluruskan politik yang bengkok, seperti ujaran Kennedy.

Puisi cuma halte pelepas peluh sesaat untuk kemudian turun lagi ke medan bingar penuh polusi karbondioksida. Hitler yang bedebah mampu membuat puisi manis untuk ibunya. Lenin yang berdarah dingin, oleh guru sastranya, Fyodor Kerensky, pernah dijadikan teladan di masa mudanya. Lebih tertarik novel-novel Turgenev dibanding ‘Das Kapital’ yang dibaca kakaknya.

Waspadalah, dinda, Di zaman ketika yang murni hampir tak ada lagi...

Agaknya semacam purifikasi perlawanan sedang dilakukan bang Fahri yang kini tak lagi sendiri kesepian. KPK dianggap lembaga superbodi yang tak berbeda dengan cara-cara arogansi orde kediktatoran. Melawan lembaga otoriter dari cerita-cerita sumbang narapidana yang sudah diputus bersalah oleh pengadilan. Melawan sebentuk ‘kezaliman’ dengan tafsir kebenarannya sendiri.

Sampai di sini, Anda sendiri yang menilai apakah bang Fahri sedang bersajak minor atau berapologi dengan gincu puisi yang menor.