Menyusuri sungai Musi dalam rombongan peserta Workshop Qureta akhir bulan lalu mengingatkan saya ke sepuluh tahun silam,  ketika menyusuri sungai Nil di kota Kairo yang eksotik. 

Saat itu, saya menemani suami menyelesaikan program doktornya di Al-Azhar, salah satu universitas tertua di dunia. Kami menyusuri sungai terpanjang di dunia itu menggunakan kapal pesiar besar menuju salah satu objek wisata di pinggiran sungai, bernama “Qonatir al-Khoiriah”.

Mesir dan sungai Nil adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa Nil, Mesir hanyalah hamparan padang pasir yang kering kerontang. Selain bagi Mesir, sungai yang membelah benua Afrika ini juga merupakan urat nadi bagi negara-negara yang dilewatinya.

Peran yang hampir sama juga dimainkan oleh Sungai Musi sebagai pusat kehidupan dan perekonomian masyarakat Sumatera Selatan sejak zaman dahulu. Denyut kehidupan warga benar-benar berdetak di sepanjang pinggiran sungai, dari hulu hingga hilirnya. Terlihat jejeran pasar, rumah tradisional, hingga pabrik-pabrik besar. Hal itu dikarenakan sungai Musi sejak dulu merupakan jalur utama perlintasan kapal.

Setelah dua jam menggunakan speedboat dari dermaga BKB Palembang, akhirnya tibalah saya dan rombongan di dermaga Sungai Baung, kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Sepanjang perjalanan dari dermaga menuju kantor pabrik APP Sinar Mas, kami disuguhi pemandangan yang tidak biasa. Di kanan kiri jalan terlihat kontainer-kontainer raksasa bersusun tinggi.

Setelah melewati pemandangan unik ini, barulah kami melihat pabrik beserta aktivitas karyawannya yang sibuk dan truk-truk besar berisi balok-balok kayu. 

Tidak itu saja, APP Sinar Mas juga memiliki pengawasan yang super ketat. Hal ini terasa ketika kami hendak masuk kawasan pabrik. Di setiap gerbangnya terdapat sekuriti yang akan memeriksa semua kendaraan tanpa terkecuali. Bahkan, mobil perusahaan yang kami gunakan pun tidak luput dari pemeriksaan.

Sesampainya kami di area dalam, sejauh mata memandang yang terlihat hanya bangunan raksasa pabrik yang mengolah balok-balok kayu menjadi bubur kertas. Pabrik ini sendiri  dibangun pada tahun 2013 dan baru beroperasi tiga tahun setelahnya, yaitu tahun 2016.

Kawasan Sungai Baung ini, sebelum berdirinya pabrik, adalah kawasan yang tidak produktif dan sepi. Hanya ada beberapa gelintir penduduk yang bekerja sebagai petani dan nelayan. 

Tanahnya pun tak selalu dapat ditanami, karena berjenis tanah liat yang tidak subur. Apabila air sungai pasang, maka tanah akan terendam air, namun apabila air surut maka tanah pun akan kering kerontang. 

Menurut penelitian, tanah di Sungai Baung ini tergolong tanah gambut tipe C yang butuh pengolahan ekstra agar menjadi layak untuk ditanami.

Kebiasaan masyarakat setempat dalam membuka lahan untuk bercocok tanam adalah dengan cara tebang bakar. Hal ini sudah dilakukan secara turun temurun dari zaman dahulu. Mereka beranggapan bahwa dengan membakar, selain menghemat tenaga, juga membuat tanah semakin subur. 

Namun, pada kenyataannya, membakar lahan hanya membuat subur tanah pada lapisan atas saja dan hanya bersifat sementara. Sebaliknya, efek  negatif yang ditimbulkan terbukti lebih besar. 

Selain mengakibatkan polusi udara, pembakaran lahan tentu juga dapat mengakibatkan kebakaran yang lebih luas lagi ke lahan atau hutan di sekelilingnya.

Hal inilah yang menjadi perhatian APP Sinar Mas di Sungai Baung, yaitu mencari cara untuk menyadarkan dan membantu masyarakat dalam hal bercocok tanam. Oleh sebab itu, dicetuskanlah sebuah program revolusioner yang dinamakan Desa Makmur Peduli Api (DMPA). 

Melalui program ini, perusahaan mengedukasi masyarakat tentang bahaya membuka lahan melalui pembakaran. Perusahaan juga membantu para petani meningkatkan produktivitas pekerjaan dengan menyediakan bantuan lahan, bibit dan pupuk.

Hanya saja, cukup disayangkan belum semua masyarakat  merespons secara baik program ini. Terbukti, masih ada beberapa petani yang belum mengelola lahan yang sudah disediakan perusahaan untuk mereka. 

Inilah yang antara lain dikeluhkan Yamin, 50 tahun. Menurutnya, perusahaan harus menindak tegas para petani yang belum mengolah lahan. Lahan yang tidak terurus ini akan menjadi sarang hama sehingga bisa merusak ladang sekitarnya yang sudah terolah. Lahan kosong itu juga akan menjadi tempat yang nyaman untuk persembunyian tikus dan babi.

Mayoritas penduduk Sungai Baung, khususnya desa Tebing Batu yang saya datangi, bukanlah warga asli setempat. Mayoritas mereka adalah para transmigran dari pulau Jawa.  Begitu juga dengan Yamin yang sudah merantau ke desa ini sejak umur 15 tahun. 

Saat itu ia bermaksud ikut pamannya untuk mengelola lahan di sana. Akan tetapi, ia dinasehati untuk menikah dulu sebelum ikut bertransmigrasi agar kelak mendapat jatah rumah dan lahan. Jika cuma mengikuti pamannya saja, Yamin hanya akan mendapat beras sebanyak 5 kg setiap bulannya. 

Namun, apabila sudah menjadi kepala keluarga maka akan mendapat rumah dan lahan dari pemerintah, di samping tentunya jatah beras setiap bulan untuk setiap anggota keluarga.

Keberadaan pabrik APP Sinar Mas ternyata membawa banyak keberkahan bagi masyarakat Sungai Baung. Selain terbukanya banyak lapangan kerja, perusahaan juga banyak membantu masyarakat sekitar, baik dengan program-program pertanian, pendidikan, fasilitas air bersih, hingga program beasiswa untuk kuliah bagi putra-putri warga setempat.

Hal lain yang tidak kalah menarik adalah keberadaan tim pemadam api yang didirikan perusahaan guna mengamankan hutan-hutan Sungai Baung dari bahaya kebakaran.

Berbagai terobosan program di atas pada akhirnya  telah mengubah paradigma berpikir masyarakat setempat bahwa pendirian pabrik tidak melulu mendatangkan kerusakan lingkungan bagi mereka. 

Akan tetapi, apabila dikelola dengan baik dan memperhatikan kondisi masyarakat sekitar justru akan mendatangkan berkah dan manfaat bagi masyarakat setempat. 


Baca Juga: Kesatria Api