Pada suatu sore menjelang magrib, suasana mulai gelap dan cahaya senja matari mulai redup di ufuk barat. Lampu-lampu pijar mulai dinyalakan dan mulai terpancar pendar-pendar cahaya menerangi jalanan, rumah-rumah, dan pikiran dengan ide-ide baru. Begitulah kiranya fungsi dari lampu pijar untuk menerangi suatu objek.

Tulisan ini tak akan banyak omong tentang lampu, zaman Enlightenment, atau pun kejeniusan seorang Einstein. Pada tulisan ini saya mencoba memaparkan sedikit tentang hermenutika. Bagi saya hermeneutika hadir sebagai sebuah lampu pijar dalam memahami sebuah teks. Bingung? Mari disimak paparan dalam tulisan ini.

Hermeneutika dikenal sebagai “seni memahami” —  bukan memahami hati para jomblo — lebih tepatnya seni memahami teks. Secara etimologis hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti “menerjemahkan” atau “bertindak sebagai penafsir”.

Istilah hermeneutika terkait dengan Hermes, tokoh dalam mitologi Yunani yang bertindak sebagai utusan dewa-dewi untuk menyampaikan pesan Ilahi untuk manusia. Tindakan yang dilakukan oleh Hermes menjelaskan sebagian pengertian hermenuetika.

Sebelum menyampaikan pesan dewata kepada manusia, Hermes harus lebih dulu memahami dan menafsirkan pesan-pesan itu. Setelah memahami pesan-pesan itu bagi dirinya, dia baru menerjemahkan, menyatakan, dan menyuratkan maksud dan pesan-pesan itu kepada manusia. [1]

Dari kegiatan itu nampak jelas kerumitan kegiatan memahami. Pertama, pihak pemberi pesan harus memahami maksud sebuah pesan. Kedua, agar pesan dapat disampaikan, sang penyampai pesan harus membuat artikulasi yang sesuai dengan maksud pemberi pesan. Kesenjangan antara pemberi pesan, penyampai pesan, dan penerima pesan inilah yang harus dijembatani lewat kegiatan yang disebut hermeneutika.

Dalam  perkembangan selanjutnya definisi hermeneutika menurut Richard E. Palmer dibagi menjadi enam, yakni:[2]

  1. Teori penafsiran Kitab Suci (theory of biblical exegesis)
  2. Sebagai metodologi filologi umum (general philological methodology).
  3. Sebagai ilmu tentang semua pemahaman bahasa (science of all linguistic understanding).
  4. Sebagai landasan metodologis dari ilmu-ilmu kemanusiaan (methodological foundation of Geisteswissenschaften)
  5. Sebagai pemahaman eksistensial dan fenomenologi eksistensi (phenomenology of existence dan of existential understanding)
  6. sebagai sistem penafsiran (system of interpretation).

Keenam definisi tersebut bukan hanya merupakan urutan fase sejarah, melainkan pendekatan yang sangat penting di dalam problem penafsiran suatu teks. Keenam definisi tersebut, masing-masing, mewakili berbagai dimensi yang sering disoroti dalam hermeneutika. Setiap definisi membawa nuansa yang berbeda, namun dapat dipertanggungjawabkan, dari tindakan manusia menafsirkan, terutama penafsiran teks.

Pada awalnya keberadaan hermeneutika itu merupakan disiplin ilmu yang banyak digunakan oleh mereka yang berhubungan dengan kitab suci, terutama Injil. Hermeneutika diberdayakan sebagai ilmu untuk menafsirkan kehendak Tuhan kepada manusia. Model ini hanya milik kaum penafsir kitab suci, kemudian hermeneutika berkembang dalam berbagai bidang disiplin ilmu yang luas.

Kajian terhadap hermeneutika sebagai sebuah bidang keilmuan mulai marak pada abad ke- 20, pada zaman tersebut kajian hermeneutika semakin berkembang.

Hermeneutika tidak hanya mencakup kajian terhadap kitab suci saja (teks keagamaan) dan teks klasik, melainkan berkembang jauh kepada ilmu yang lain. Adapun ilmu-ilmu yang terkait erat dengan hermeneutika adalah ilmu sejarah, filsafat, hukum, kesusastraan, dan bidang ilmu yang terkait dengan pengetahuan tentang kemanusiaan.

Hermeneutika bagi Paul Ricoeur, tak pernah jauh dari interpretasi. Interpretasi yang dimaksud adalah penguraian makna dari makna yang terlihat kepada tingkat makna tersirat di dalam makna literal.

Interpretasi merupakan penggalian dan pemertahanan makna-makna awal yang tersembunyi, dengan begitu simbol dan interpretasi menjadi konsep yang saling berkaitan dalam hermeneutika, di mana interpretasi muncul karena makna jamak berada dan di dalam interpretasi simbol pluralitas makna termanifestasikan.[3]

Interpretasi atas simbol yang terdapat dalam karya sastra tetap melandaskan penafsirannya pada tiga tahapan yang dikemukakan Ricoeur (level semantik, level refleksi, dan level eksistensial).

Hermeneutika dapat ditarik ke dalam ranah sastra. Hermeneutika dalam karya sastra adalah suatu usaha menyingkap, menafsirkan atau menginterpretasikan makna yang terdapat dalam simbol-simbol bahasa sebagai bahan pokok sebuah karya sastra.

Hermeneutika dalam menafsirkan simbol yang terdapat dalam karya sastra akan melewati empat tahap, yaitu: pertama, tahap menentukan arti langsung yang primer; kedua, tahap menjelaskan arti-arti implisit dalam simbol; ketiga, tahap menentukan tema; keempat, tahap memperjelas arti-arti dalam teks.[4]

Penafsiran hermeneutika terhadap karya sastra akan bergantung pada sisi mana yang akan diungkap sebab yang terpenting dalam penafsiran hermeneutika adalah interpretasi simbol yang jelas dengan tanpa ada unsur yang dihilangkan.

Karenanya, Paul Ricoeur mengatakan bahwa hermeneutika adalah teori mengenai aturan penafsiran, yaitu penafsiran terhadap teks tertentu atau sekumpulan tanda atau simbol yang dianggap sebagai teks.

Kajian hermeneutika bertujuan untuk menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung-selubung yang menutupinya sehingga dapat mengurai makna dari simbol-simbol tersebut, dengan begitu makna-makna mulai muncul dan menerang kita.

Langkah kerja pemahaman atau interpretasi simbol dalam hermeneutika menurut Paul Ricoeur terdiri atas tiga langkah sebagai berikut:

  1. Langkah simbolik, atau pemahaman simbol ke simbol;
  2. Pemberian makna oleh simbol, serta penggalian yang cermat atas simbol;
  3. Langkah filosofis, yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik-tolaknya.[5]

Saya kira sudah jelas apa yang saya paparkan di atas. Dalam memahami sebuah teks tentunya kita harus memiliki sebuah metode untuk memperoleh makna-makna di dalamnya. Sama seperti lampu pijar, hermeneutika memberikan penerangan pada pikiran kita bagaimana caranya menginterpretasi.

Dalam dunia jurnalistik proses memberikan makna, memahami makna, dan menginterpretasi makna merupakan hal-hal yang umum. Mau tidak mau seorang wartawan akan terlibat dalam pergulatan makna dalam setiap peristiwa.

Kini semuanya terserah padamu, apa yang engkau maknai akan berpengaruh pada setiap tindakanmu. Pergulatan makna tidak akan pernah selesai sampai pada akhirnya lampu pijar itu redup dan tubuh kalian tertimbun tanah dan di balut kain kafan.


Daftar Referensi:

[1] Lih. Kurt Mueller-Vollmer, (ed.), The Hermeneutics Reader, Continuum, New York, 2006, hlm. 1

[2] Palmer, R.E, Hermeneutiks: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer. Evanston, III: Northwestern Univ. Press, 1969, hlm, 23

[3] Josef Bleicher, Hermeneutika, hlm. 53

[4] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi Model Teori dan Aplikasi, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Press, 2003, hlm. 45

[5] Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani: antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi Yogyakarta: Qalam, 2003, hlm. 36