Tanggal, 28 Juni 2021 saya mulai masuk di Kantor Pemilihan Umum (KPU) Majene guna melakukan yang namanya Praktek Kerja Lapangan (PKL). Sebelumnya aku telah pernah menghadap di kantor tersebut untuk meminta persetujuan supaya dapat diterima sebagai mahasiswa yang melakukan praktek.

Awalnya saya menghadap kepada pak Budiman, ehmm, ya hampir samalah dengan nama saya, wkwkwk. Pak Budiman selaku Kepala Biro Umum dan Logistik di KPU Majene, dan memang beliaulah yang melayani para mahasiswa jika ada yang mau PKL atau magang di kantor tersebut. Sebelum diterima secara sah, mesti ada surat pengantar dari kampus dan nantinya akan ditandatangani oleh pak sekretaris. Ya ealah, prosedurnya memang begitu.

Dalam penilaian pribadi saya pada pak Budiman, beliau merupakan sosok yang sangat suka bercanda, meskipun sudah tua tetapi selalu saja ingin bercerita mengenai kisah hidup anak muda, bahkan soal percintaan pun selalu jadi bahan tawaan. Yah, walaupun itu hanya sekedar menghibur diri yang dapat mengundang tawa. Di sisi lain beliau juga sangatlah ramah, ketika saya baru pertama menghadap, beliau langsung menyambut dengan ramah dan ceria.  

"Dari mana?" Tanyanya saat aku baru saja duduk di atas kursi yang terpampang di depannya.

"Dari mahasiswa Unsulbar Pak?" Jawabku yang selalu berusaha untuk bertutur sopan. 

"Ada Apa?" Pak Budiman kembali bertanya.

"Saya ingin konfirmasi pak, apakah di kantor ini menerima mahasiswa PKL atau tidak?" Langsung saja to the point menyampaikan maksud saya.  

Tak langsung dijawabnya, pak Budiman malah meminta surat dan mengiakan kalau saya diterima PKL di kantor tersebut.

"Berapa Orang?" Beliau kembali bertanya saat sudah menyatakan saya diterima.

"Untuk sekarang pak, sendiri. Tetapi, mungkin saja akan ada tambahannya, karena teman-teman saya sekarang juga masih mencari kantor untuk di tempati PKL."

Waktu itu saya tidak langsung pamit untuk keluar, pak Budiman justru mengajak saya bercerita. Ceritanya pun banyak macam, baik mengenai masalah pribadinya yang kebetulan pinggang belakangnya sakit karena baru saja selesai vaksin dan juga kondisi kantor dicerita. Bahkan mahasiswa-mahasiswa yang pernah PKL sebelumnya di kantor tersebut juga bahan obrolan.

Saya sendiri mendengarkan dan berusaha untuk bisa berbaur dengan ceritanya itu, walaupun kadang beliau selalu mendominasi pembicaraan. Akan tetapi, aku masih berusaha untuk tetap menjaga kesopanan sebaik mungkin. Lha kan saya yang mau PKL di kantor itu, masa' gak berusaha sopan. Tidak lama setelah itu, saya menunggu momen dan mencoba memotong pembicaraan untuk pamit ingin kembali ke Kampus.  

Dua hari setelah kejadian itu, berdasarkan jadwal dari Fakultas MIPA bahwa kami anak PKL masuk tertanggal 28 Juli 2021, tepatnya dengan hari senin. Sebelum masuk di hari itu, saya telah konfirmasi kembali pada pak Budiman melalui pesan whatsapp. Pesan yang saya sampaikan kalau saya tidaklah sendiri PKL di KPU Majene, melainkan bersama dengan Abrar yang kebetulan junior saya.  

Hari pertama aku masuk di KPU Majene agaknya sedikit canggung, namanya juga baru awal. Aku mencoba untuk akrab dengan suasana, mencoba menyapa dan tersenyum kepada setiap pagawai kantor. Hal itu saya lakukan agar dapat lebih nyaman dan mudah PKL di situ yang mampu bertahan.  

Waktu itu pun, saya banyak ngobrol juga dengan securitynya, beliau bernama pak Zulkifly. Pak Zulkifly adalah asal orang Limboro, dan kebetulan satu kecamatan dengan tempat asal saya di kampung. Beliau juga ramah dan cara bicaranya pun dapat membuat lebih cepat akrab dengannya.  

Setelah beberapa hari datang rutin ke kantor, sedikit demi sedikit mulailah banyak yang sudah akrab. Bahkan kadang nama saya justru selalu menjadi bahan candaan karena kebetulan sama dengan namanya pak Budiman. Hal itu saya merasa bahwa KPU Majene sudah menjadi bagian dari saya.  

Kondisi kantor KPU Majene untuk sekarang bukanlah musim Pemilu. Ditambah pula dengan pandemi Covid-19 yang membuat ada jadwal WFH untuk para pegawai kantor. Akhirnya suasana kantor pun tentu tidak seramai dulu, bahkan aktivitas di kantor KPU Majene sangatlah sedikit karena memang bukan musim Pemilu.

Karena kondisinya memang demikian, kami (saya dan Abrar) seakan tidak ada kerjaan yang bisa kami lakukan di kantor tersebut seperti kerja anak PKL pada umumnya. Bahkan kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk duduk-duduk santai sambil ngopi, ketimbang melakukan kerjaan kantor. Kondisi itu bukan tanpa alasan, bahkan pegawai kantor sendiri pun seakan tidak ada yang dikerja dan lebih banyak juga bersantai di kantor. Lagi-lagi kantor KPU memang kondisinya tidak sama saat musim Pemilu.

Mungkin kondisi itu juga sehingga teman saya Abrar waktu masih awal-awalnya banyak izin untuk datang ke kantor. Selain karena memang ia punya agenda ke Polewali, faktor tersebut juga sangatlah mempengaruhi, apalagi rumahnya agak jauh dari kantor. Sehingga tidak jarang juga pegawai kantor selalu menanyakan keberadaan teman saya yang jarang datang.

Meskipun demikian, bukan berarti PKL yang saya lakukan tidak ada artinya atau tak berguna. Bagi saya sendiri itu adalah suatu pengalaman, walaupun sedikit kerjaan kami di kantor saat PKL. Setidaknya mampu melihat pengalaman bagaimana sebenarnya dunia kerja dan kondisi kantor.