Mahasiswa
3 tahun lalu · 1869 view · 1 min baca · Puisi 12626122_1195344493826772_1333826741_n.jpg
Ilustrated by: Nour Hartani (Martapura)

Secangkir Kopi, Perempuan dan Cita-Cita

sebelum melahap kantuk dan merebah kedamaian dalam kolong malam
biar kuseduh secangkir kopi pada kehangatan mimpi-mimpi yang bias
pada mimpimu sebagai perempuan yang mencintai puisi dan kertas
sebagai perempuan yang kadangkala mencemburui sepasang purnama

malam ini, ingin kuseduh lagi secangkir kopi pada keinginan serupa
di dalamnya, terdapat wajahmu yang mengitar pada bagian paling dasar
tak mau pergi, tak pernah hilang, mengusir dengan percuma.

maka,  jangan katakan jika tak mampu menjalani suratan napas
optimis menghadapi, bukankah kita pandai sekali bercita-angan?
sebab, Tuhan melihat kita yang hari ini, bukan yang kemarin

 

Fasal-Fasal Kopi

Kopi, 1

semua orang tahu, secangkir kopi tidaklah pandai bicara

terlebih hingga duduk bersama memilin-sulam cerita

sebalik aroma, ia menjadi tokoh yang tak hitung pusara

pagi ini kuseduh lagi

dan namamu memanggil-manggil di dalamnya

2015

 

Kopi, 2

hubungan apa yang terjadi antara kau dan warna kopi?

tengah resah sejumlah kata dan titik keinginan debu  kota

tentang hidup yang senantiasa diperbincangkan; ladang-warung

kaukah yang mencemari udara dengan derai suasana?

2015

 

Kopi, 3

tak seperti cuaca di dalam kopi kita

yang hilang di balik rerimbun toska

seperti hujan yang berdebar antara mereka

potongan kuku jarimu tersisa di dedak paling usia

2015

 

Kedua puisi di atas akan diterbitkan dalam kumpulan puisi tunggal berjudul "Kampung Halaman; sepilihan 100 sajak Imam Budiman", Tahura Media Publisher, Banjarmasin, Maret 2016.

Artikel Terkait