Mahasiswa
2 tahun lalu · 718 view · 1 menit baca · Puisi kopirokok.jpg
anggriyulio.com

Secangkir Kopi adalah Rumah Ideologi

Semua orang tahu; sebatang rokok tidaklah pandai berdusta. Di sepasang bibir paling ujung dari seorang pendusta. Tanpa bisa berhenti membual sebelum semua aromanya hilang dari saku celana. Terlebih hingga kata yang berserakan di atas meja adalah pertanda pusat kota telah terbakar oleh kata

Para pendusta bilang; pusat kota adalah suratan romantis. Yang bercampur dengan ampas dalam adukan kenangan manis. Aku pun meminum serbuk-serbuk yang tenggelam di secangkir kopi

Dan tak ada satu pun yang aku temukan pada seribu nama di ujung subuh. Sebab tak ada lagi yang tersisa selain sajak-sajak yang berceceran di langkah kaki yang panjang dan berulang

Suara hentakan kaki tak pernah hilang dari ingatan. Barangkali sejarah telah tertipu oleh ribuan dosa. Yang termaktub dalam kisah sebatang rokok dan secangkir kopi di tepian pagi yang resah sekaligus buta

Ada yang bilang; itu cara paling konyol untuk melunakkan waktu di tepian kening bahu trotoar

Hingga kesuburan sumpah-serapah menjalar di genangan air yang kotor. Aku mengingat-ingat perihal itu. Yang ada aku salah perkiraan

Tak ada bahasa paling asing dalam raut wajah badut di alam semesta. Kecuali ucapan angan-ingin yang tidak membutuhkan penerjemah dari bahasa secangkir kopi

Dan kau kasih,
Sesekali rasakan aroma serbukan kopi
Dengan bahasa yang selaras dari hati
Seakan puisi dan kopi
Selalu menyimpan satu hati sebagai rumah ideologi.

Artikel Terkait