Bagaimana bisa mereka memenggal kepala yang kepadanya Allah janjikan menjadi pemimpin pemuda ahli surga? Bagaimana bisa mereka memukul-mukul kepala yang sudah putus dari badannya, padahal kepala itulah yang dulunya selalu diciumi Rasulullah dengab penuh kasih sayang? 

Bagaimana bisa orang-orang yang percaya kepada risalah Rasulullah saw, sedangkan mereka menghinakan ahlul bait?

Dalam sebuah riwayat, Nabi sering mencium bibir Hasan dan leher Husain, yang menimbulkan rasa ingin tahu Fatimah, ibunda kedua bocah tersebut. Ternyata Nabi melakukan hal tersebut karena beliau sudah diberi kabar oleh malaikat Jibril bahwa kelak Hasan akan mati diracun lewat mulutnya sedangkan Husain akan syahid dengab leher terputus. 

Berita itu memecah tangis orang-orang yang mendengarnya, termasuk Nabi sendiri. Yang pada akhirnya berita tersebut menjadi kenyataan.

Kisah epik yang menguras air mata kesedihan, juga kemarahan dan rasa sesal semua orang ini, menjadi bagian dari sejarah yang tidak bisa dilupakan. Kejadian ini mempunyai latar belakang yang panjang, yang sudah diawali dengan dua perang saudara sebelumnya, yakni perang jamal yang terjadi antara Aisyah r.a dan Muawiyah sebagai pemimpinnya yang dimenangkan oleh pihak Ali, dan perang shiffin, kali ini tanpa Aisyah r.a ikut serta di dalamnya tanpa ada yang menang dan kalah dari kedua belah pihak. 

Perselisihan tersebut tidak berakhir dengan selesainya perang. Sampai saat Ali r.a wafat dibunuh seorang khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam saat masih menjabat sebagai pemimpin pada waktu itu, lalu kekhalifahan dilanjutkan oleh Hasan bin Ali. 

Beberapa waktu berjalan, ternyata Muawiyyah dan mengikutnya masih menginginkan kepemimpinan mereka pegang, dan hampir saja terjadi pertumpahan darah. Namun Hasan, yang terkenal sebagai penengah itu, rela menyerahkan jabatannya kepada Muawiyah. Dia memilih mundur demi terhindarnya perang saudara kembali.

Ada empat syarat yang diajukan Hasan bin Ali yang harus dipenuhi atas diserahkannya jabatannya kepada Muawiyah. Syarat-syarat itu meliputi:

1. Kekhalifahan setelah Muawiyah harus dikembalikan kepada umat Islam, agar mereka memilih sendiri pemimpin selanjutnya.

2. Tidak boleh menghukum orang yang mendukungnya (Hasan bin Ali ) dan ayahnya dan tidak menghalangi hak-haknya.

3. Bani Umayyah harus menghentikan dan tidak mendukung sikap caci maki dan mengutuk imam Ali.

4. Pemberian yang diberikan kepadanya dan kepada saudaranya, Husain, harus banyak dan berlimpah, dengan batasan tertentu. (Hal. 77)

Dalam perkembangannya, syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi oleh Muawiyah hingga Hasan bin Ali wafat karena diracun istrinya sendiri.

Syarat utama dari serah terima jabatan tersebut juga tidak terealisasi. Saat Muawiyah wafat, kepemimpinan justru diwariskan kepada putranya, Yazid bin Muawiyah. Di tangan kekuasaannya, tragedi di Karbala terjadi.

Setelah wafatnya Muawiyah, umat kembali terbelah. Sebagian menolak berbaiat kepada Yazid. Mereka berharap perjanjian antara Muawiyah dan Hasan dipenuhi, yakni kepemimpinan ddikembalikan kepada umat Islam. Namun hal itu tinggal harapan. 

Suatu hari ada utusan dari Khufah yang menyampaikan surat. Surat itu mewakili suara mayoritas rakyat khufah yang menginginkan berbaiat kepada Husain. Husain memutuskan untuk pergi ke Khufah memenuhi undangan pendukungnya di sana. 

Hal itu menuai kontroversi. Banyak sahabat yang menghalangi dan mencegahnya mengingat bahaya yang akan dihadapi Husain. Tetapi kemantapan hati sang cucu nabi tersebut tidak goyah lagi. 

Dia bukan mau berperang, melainkan membawa misi perdamaian sehingga beliau tidak dapat menolak ketika keluarga dan beberapa sahabatnya ingin mengikuti perjalanannya. Ada 72 orang yang di dalamnya terdapat anak-anak dan perempuan.

Di pihak lain, mata-mata Yazid telah mengetahui perihal misi Husain ke Khufah. Utusan yang membawa surat dari Husain tertangkap dan dibunuh. Lalu sekitar 1000 pasukan dikirim untuk menghadang Husain dengan maksud meminta Husain berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah. 

Tentu ditolak Husain. Menyadari tidak berimbang rombongan yang mengikutinya dengan pasukan dari Yazid untuk berperang, dan memang dari awal misi yang dibawa adalah misi damai, maka Husan berniat untuk tidak melanjutkan perjalanan dan kembali ke Mekah. 

Namun hal itu tidak dibiarkan oleh pimpinan pasukan, yakni Hurr ibn Yazid At-Tamimi. Husain dan rombongan tertahan di tanah Karbala beberapa hari sampai puncak pecahnya perang pada hari ke sepuluh bulan Muharram. Bukan perang, tapi lebih tepatnya pembantaian. 

Pasukan lawan terus bertambah, sedangkan tidak ada bantuan untuk keluarga Husain. Satu demi satu kematian saudara disaksikan oleh Husain, dia melawan sekuat tenaga, sampai akhirnya sebuah anak panah menghujam tubuhnya sampai beliau roboh, lalu kaki-kaki kuda menginjaknya, dan seorang dari pasukan itu mendatangi Husain dan memenggal kepala beliau. 

Dia adalah Syimr ibn Dzil Jausyan. Kepala tersebut disimpan sebagai tanda kemenangan dan diberikan kepada Ziyad dan Yazid.

Hanya tersisa dua orang ahlul bait. Zainab binti Ali dan Ali Zainal Abidin bin Husain yang masih sangat kecil. Mereka dibawa sebagai tawanan kepada Ziyad dan Yazid.

Buku ini membuka tabir sejarah tentang syahidnya imam Husain bin Ali di tanah Karbala. Tulisan yang akan air mata pembaca menganak sungai dan mengetuk hati yang keras menjadi lembut. 

Namun ada satu hal yang kurang pas disampaikan penulis, yaitu posisi Muawiyah. Di sini tidak disebutkan bahwa Muawiyah pun sudah memberi wasiat kepada putranya, Yazid. Bahwa ketika Yazid bisa mengalahkan Husain, hendaknya dia memaafkan, bukan membunuhnya. Ini adalah poin yang menekankan bahwa Muawiyah masih menghormati ahlul bait.

Khalid Muhammad Khalid adalah seorang hafidz. Beliau lulusan Al-azhar, Mesir. Beliau meninggalkan pekerjaan sebagai pengajar dan dewan direksi di Departemen Kebudayaan lalu memilih hidup sederhana menjadi sufi untuk menjaga hati agar senantiasa dekat dengan Allah.

Sebuah nasihat dari imam Ali, bahwa sejarah akan selalu berulang, dan hendaknya kita bisa memetik hikmah dari setiap sejarah.

  • Judul: Tentara Langit di Karbala
  • Penulis: Khalid Muhammad Khalid
  • Penerbit: Mizania
  • Cetakan: ke II
  • Tebal: 227
  • ISBN: 979-8394-67-4