Beberapa Minggu yang telah lalu, aku menjadi asing pada diriku sendiri. Entah apa yang menjadi sebab dalam ruang yang kini pribadi telah terasa menjadi asing bahkan terasingkan. Jauh menjadi diri yang selalu menikmati hidup dengan moksa pada setiap jalan-jalan yang telah dilalui.

Sore itu, kala hujan dan awan pekat menemani ruang sepintas lalu bias risau dalam hati terasa. Menjaga keharmonisan dalam rumah yang kini sebatas sepi pada ruang sempit terhimpit menjerit. Aku menjadi asing pada bait-bait tulisan ku sendiri yang hanya sebatas pelampiasan hasrat sebagai penenang gundah gulana cuitan-cuitan ratapan.

Beberapa waktu ini setiap aku ingin menulis meluahkan rasaku dan kembali mencurahkan perasaan, aku gagal bahkan kalah. Rasanya tulisan-tulisan itu jauh dari kata selesai, bahkan pikirku hanya tumpukan kertas tanpa keterangan yang jelas. Risau itupun sangat terasa, jauh dari aku sebelumnya pada selembar cerita yang itu bagiku begitu nyata.

Akhir-akhir ini aku terasa dikutuk dan tak dapat memulai dalam tulisan lagi dengan kemampuan yang biasa menjadi teman sekaligus tempat curhat ku. Sangat begitu resah, tak seperti biasanya. Puisi-puisi itu kadang malang melintang dalam benak ini dan menjadi coretan-coretan hingga mewakili perasaan. Kini, menulis qoutes pun sangat berat dan sulit bagiku.

Aku teringat pada kata-kata J.K. Rowling menyatakan bahwa, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”. Tapi kini perasaan itu hadir dengan berbagai pikiran yang tak beraturan adanya. Rasanya asing pada tulisan sendiri itu yang menghantam benakku hingga rasanya sulit untuk memulai menulis kembali.

Saat ini, aku bertekad kembali untuk melanjutkan tulisan-tulisan yang sempat terbengkalai menjadi tumpukan-tumpukan kertas yang lalai. Memulai lagi untuk berekspresi dengan berbagai persepsi. Berdamai pada resah yang rasa ini patah pada cerita cinta menjadi luka. Kembali menjadi asing dalam ruang yang hanya ada bait-bait sepi menyelimuti sendiri.

Aku mulai bangkit lagi, dari semua kecewa, penolakan yang menjadi rasa sakit yang belum pernah sempat aku ceritakan kembali. Aku ingin memulai benci, namun itu sulit bagiku. Menolak kehadirannya yang datang untuk mencari pengetahuan, pengalaman, namun bukan membuat ikatan, sulit bagiku untuk membuat lingkaran tanpa siapapun tidak boleh untuk memasukinya.

Sempat aki berpikir dalam benakku, kembali menjadi asing bahkan tidak ingin lagi memulai sebuah drama rasa. Hingga akhirnya aku kalah, aku lebih memilih meluahkan semua pada lembaran kertas yang sudah lama ku tinggalkan. Aku masih disini masih pada bait-bait sajak resah dalam keputusasaan rasa. Mencari sadar lewat berkarya tanpa ada yang memahami dengan rasanya juga.

Ia bilang padaku, dengan dalih kau adalah Abang bahkan panutan. Jauh kita ibarat langit dan bumi, ibarat darat dan di laut. Namun semua itu, kau yang membuat batasan pada jarak kita. Kau berdalih dengan semua kata-kata mu hingga aku pun mengerti, bahwa semua itu adalah sebuah penolakan tanpa sedikitpun membiarkan aku untuk sebuah kesempatan.

Kali ini aku benar-benar tidak karuan, semua bayang-bayangmu menghantui diri dalam semua tulisan-tulisanku. Andai kau membiarkan diri ini masuk keruang hidupmu, mungkin kau bagian dari cerita yang menarik untuk ku tulis berulang-ulang kali dalam bait sajak-sajak ku. Namun, ekspetasi dalam benakku adalah sebuah kesalahan bagimu. Semua nyata adanya, aku adalah ruang ilmu bagimu sebatas itu.

Ku pikir semua orang ingin seseorang dalam ruang gerak karyanya menjadi motivasi untuk tidak berhenti berkarya. Iya, sama halnya seperti diriku. Menginginkan mu, namun sebuah tempat bukan hanya untuk singgah maupun berlalu bagiku. Setiap saat, setiap waktu, mendambakan dirimu menjadi pelengkap ku.

Aku tak memiliki ingatan lagi terhadap cerita-cerita, puisi-puisi yang pernah aku tulis hilang. Kepalaku sudah sangat abu-abu. Semua memoriku perlahan memudar, hilang dalam  kusut yang tiba-tiba menggeluti, kepala serasa mau pecah.

Suatu hari nanti, ingatanku kembali pada saat-saat pasrah ku. Mengulang kembali lewat cerita yang kini kau baca dengan seksama. Entah aku akan kembali seperti dulu lagi atau terkapar dengan ingatan yang sudah mati. Kuharap kau ingin menjadi alasanku untuk tetap berkarya, memulai kembali berpuisi, menuliskan cerita, bahkan untuk semua apa yang akan aku jalani sampai di penghujung cerita.

Namamu kini, alasan ku untuk memulai segala tulisan ku. Walau patah yang diterima dan rasa yang gundah dengan karamnya cinta. Namamu akan kekal abadi pada bait-bait sajak ku, walau semua yang tak sama pada apa yang harapanku.

Untuk mu yang mematahkan rasaku, terimakasih telah hadir menjadi inspirasi gundah dalam beberapa waktu-waktuku. Aku sadar bahwa segala sesuatu memiliki masanya dan mungkin ini adalah waktuku untuk kembali pada pencipta kata-kata.

Selangkah.Juang 2021