Tak ada manusia yang tak pernah merasa takut. Rasa takut selalu hadir di setiap waktu yang dijalani manusia dalam hidupnya. Kehidupan senantiasa diisi ketakutan-ketakutan dan manusia berusaha keras menghindari, menghilangkan atau setidaknya menyangkal rasa takut itu.

Seorang pengendara kendaraan bermotor takut dirazia polisi karena surat-surat berkendaranya tidak lengkap. Seorang murid takut pergi ke sekolah karena pekerjaan rumah yang harus diserahkan kepada guru belum dikerjakan. Seorang mahasiswa takut tugas makalahnya tidak selesai sebab kelulusannya tergantung tugasnya itu. Seorang pegawai takut bolos kerja karena tunjangannya bisa dipotong.

Jika rasa takut diurai satu-persatu, dapat diketahui bahwa rasa takut muncul karena tidak terpenuhinya eksistensi diri. Maka untuk menghilangkan rasa takut, penuhilah eksistensi diri.

Jika pengendara kendaraan bermotor membawa lengkap surat-surat berkendara ia tak akan merasa takut. Jika murid itu sudah mengerjakan pekerjaan rumahnya ia tak akan takut pergi ke sekolah. Jika mahasiswa menyelesaikan tugas makalahnya ia tak akan takut tidak lulus. Jika pegawai masuk kantor dengan disiplin ia tak akan takut tunjangannya dipotong.

Itu dalam skala kecil. Sekarang kita beralih kepada skala yang lebih besar. Apakah ketakutan terbesar manusia? Beberapa orang yang saya tanyakan pertanyaan ini menjawab bahwa ketakutan terbesar manusia adalah kematian. Saya sepakat.

Jika sebuah batu tiba-tiba dilemparkan kepada anda, secara refleks anda mencoba menghindari atau menangkisnya. Secara naluriah kita berupaya menjauhi rasa sakit yang merupakan bagian dari kematian atau sebut saja “kematian kecil”. Setiap hari manusia memenuhi kebutuhan perut agar tetap hidup dengan berbagai cara. Ada yang menempuh cara yang jujur dan beradab, tak jarang pula manusia menempuh cara yang berujung konflik.

Semua itu karena manusia takut mati. Namun, karena kematian terjadi di masa yang akan datang dan kita semua sadar bahwa bagaimanapun kematian akan mendatangi kita, maka kita sebenarnya menghadapi ketakutan yang lebih besar dan lebih luas lagi, yakni takut akan masa depan.

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) nampaknya adalah impian sebagian besar orang, jika tidak dikatakan semua. Setiap tahun beratus, bahkan berjuta, pelajar masuk ke perguruan tinggi. Setiap tahun pula beratus, bahkan berjuta, mahasiswa lulus perguruan tinggi dan diwisuda. Itu berarti beratus, bahkan berjuta, pula jumlah para pencari kerja baru.

Tidak bisa dinafikan bahwa di antara para sarjana ada yang memiliki idealisme tidak ingin menjadi PNS, tapi di negeri ini menjadi PNS adalah mata pencaharian impian.

Berbagai seminar bisnis dan kewirausahaan diadakan untuk menyadarkan para pencari kerja bahwa menjadi PNS bukan pilihan satu-satunya, tapi pendaftaran PNS selalu ditunggu-tunggu banyak orang. Seorang teman pernah menyeletuk bahwa toh mereka yang semula beridealisme tak ingin jadi PNS, ketika lulus sebagai pegawai pemerintah, mereka akan bungkam.

Mengapa PNS menjadi incaran para sarjana? Sebab pekerjaan sebagai PNS dianggap menjamin masa depan. Setiap bulan, pegawai pemerintah dijamin pendapatannya, belum lagi gaji ke-13, tunjangan hari raya, tunjangan daerah dan tunjangan-tunjangan lainnya.

Meski begitu, jumlah pendapatan PNS sebenarnya tidak cukup banyak dibandingkan pemasukan yang didapat wiraswasta dan para pengusaha, bahkan berbagai pemasukan yang diterima PNS itu kadang tidak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang PNS pernah mengatakan pada saya bahwa pegawai negeri jangan bermimpi menjadi orang kaya, sebab gaji yang diterimanya begitu-begitu saja jumlahnya. Mimpi menjadi orang kaya hanya milik pengusaha.

Akan tetapi, mereka yang berbisnis tidak dapat menjamin pemasukan. Bulan depan belum tentu sebanyak yang didapat pada bulan ini, bisa saja lebih banyak atau bisa saja lebih sedikit, atau bahkan tidak ada pemasukan sama sekali.

Adanya jaminan masa depan adalah keunggulan tersendiri bagi seorang PNS, meski dengan jumlah pemasukan yang tidak banyak. Selain itu, PNS juga memiliki jaminan masa depan yang lebih berarti dan menjadi pesona tersendiri, yakni jaminan pensiun. Terjaminnya masa depan adalah hasrat fundamental manusia untuk memenuhi eksistensi dirinya agar ia tidak lagi merasa takut.

Menjadi pegawai pemerintah berarti masa depan terjamin. Tapi bagaimana jika terjadi perombakan radikal tentang kebijakan kepegawaian? Bagaimana jika terjadi perubahan dasar pemerintahan? Bagaimana jika ekonomi negara anjlok? Atau bagaimana jika datang sebuah bencana besar yang memporak-porandakan negeri? Bagaimana jika terjadi perang hebat yang meluluh-lantakkan kehidupan di negeri ini?

Mungkin saya berlebihan ketika melontarkan pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi bagaimanapun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Jika kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, maka kita harus tahu bahwa kita tidak tahu sebenar-benarnya bagaimana masa depan kita. Masa depan adalah misteri yang dijalankan Tuhan, maka tak ada satu makhluk pun yang bisa menjaminnya.

Di sini sampailah kita pada pemahaman bahwa ketakutan manusia yang terbesar adalah takut terhadap masa depan. Dan ketakutan akan masa depan itu pada hakikatnya disebabkan oleh ketidaktahuan. Jadi, Ketidaktahuan adalah ketiadaan eksistensi diri.

Dengan demikian, ketidak-tahuan adalah hal yang harus diberantas agar takut tak lagi memenuhi kalbu. Para filsuf sejak masa filsafat Yunani, filsafat Barat hingga ke filsafat Timur dan filsafat Islam menyatakan pengetahuan adalah dasar dari eksistensi manusia. Lalu muncul pertanyaan selanjutnya: pengetahuan macam apa yang harus diketahui agar eksistensi diri terpenuhi?

Filsafat sufistik pada umumnya membahas berbagai hal yang objeknya manusia, mulai dari apa dan siapakah manusia, dari mana dan dari apa manusia ber-ada, sejauh mana pengetahuan manusia, sampai bagaimana seharusnya manusia berperilaku. Inilah yang dimaksud dengan mengetahui atau mengenali diri.

Dengan mengenal dirinya manusia akan menemukan Eksistensi Sejati-nya. Kalangan filsuf menyebut upaya ini dengan ma’rifah al-nafs yang mengantar manusia kepada ma’rifah Allah, pengenalan terhadap Sang Wajib al-Wujud (Eksistensi Sejati). Mereka menyatakan Eksistensi Sejati inilah yang melingkupi seluruh alam, karena hakikatnya seluruh alam semesta berasal dari pancaran cahaya-Nya (Nur).

Menarik sekali bahwa Bahasa Arab menyebut pengetahuan dengan “’ilm” yang seakar kata dengan “’alam”, sehingga mengetahui berarti menyatu dengan alam yang dilingkupi oleh Sang Cahaya. Ini kemudian membawa kepada penyatuan eksistensi manusia dengan Eksistensi Sejati.

Penyatuan diri ini melahirkan kesadaran akan keterbebasan dari belenggu ruang dan waktu. Manusia pun dengan percaya diri akan menyambut masa depan, dan akhirnya kematian, sebagai tahapan pulang menuju Hakikatnya.

Mungkin konsepsi ini terdengar begitu njelimet dan rumit, karena memang kita tak punya bahasa lain lagi untuk menggambarkannya. Bagi kalangan umum proses pengetahuan diri ini mungkin dirasa berat, seakan jalan yang ditempuh para filsuf itu terkesan begitu eksklusif. Akan tetapi, sejarah filsafat memang dipenuhi petualangan manusia mencari hakikat dirinya.

 Maka tak ada salahnya untuk berfikir (tafakkur), merenung dan mencoba memenuhi eksistensi diri, seperti halnya melengkapi surat-surat berkendara, mengerjakan pekerjaan rumah, menyelesaikan tugas makalah dan berdisiplin masuk kantor. Bukankah kita semua ingin terhindar dari rasa takut?