Mahasiswa
7 bulan lalu · 83 view · 5 min baca menit baca · Budaya 28841_78656.jpg

Sebuah Perlawanan

Ada banyak tokoh yang terlahir besar dan meninggalkan kesan. Seperti pepatah bilang, manusia mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Tetapi, tak sedikit juga manusia mati tak meninggalkan apa-apa. Hidup matinya sama saja. Bisa dikatakan, hidup sekadar hidup.

Hidup sekadarnya tidak dikhususkan pada golongan tertentu. Hukum ini berlaku bagi semua yang hidup sebagai orang yang mempunyai akal. Punya otak hanya menandakan bahwa ia sama seperti mahluk lainnya yang hidup normal. Memfungsikan akal menandakan ia berpikir dan mensyukurinya pada Tuhan semesta.

Orang yang punya akal tak ingin sekadar hidup seperti orang pada umumnya. Ia menginginkan dan merencanakan untuk lebih dari sekadar ada. Ia memilih mempunyai ciri khas. Dengan apa? Berbagai macam, sesuai dengan hasil perenungannya pada keadaan sosial. 

Salah satunya dengan menjadikan dirinya sebagai martir anti-kemapanan. Ia memilih untuk gila-bukan dalam artian sakit mental. John Lennon, Soe Hok Gie, dan Ahmad Wahib, saya pikir tiga orang ini di antara sekian yang memilih untuk berbeda dari lingkungannya.

John Lennon vokalis The Beatles yang menjadikan lagunya sebagai perlawanan. Lagunya yang berjudul imagine adalah bentuk perlawanan pada keinginan buas. Menolak kehendak binatang yang memang jadi potensi pada diri manusia. Perang adalah jalan terakhir diplomasi yang tak kunjung menemukan titik temu. Hobbes mengatakan bahwa saling memburu adalah alamiah dan jadi obsesi bagi manusia.

John Lennon menentang peperangan. Dalam bait lagunya berbunyi: imagine there's no heaven/ it's easy to tray/ no hell below us/ above us only sky/ imagine there's no countries/ isn't hard to do/ nothing to kill or die for/ and no religion too. Ada sebuah keinginan untuk hidup damai. 


Bayangkan tanpa ada surga dan neraka, negara dan agama niscaya tidak ada peperangan. Potensi peperangan kadang kala ada pada negara dan agama. Karena chauvinisme, hilanglah kemanusiaan.

Bagaimana dengan agama? Ibarat pisau, ia memiliki potensi yang ditunggangi kepentingan. Sebagai rahmat atau pengundang kiamat. 

Kau boleh bertanya, apa gunanya beragama? Orang yang memahami agamanya dangkal akan menjawab untuk mengkafir-kafirkan orang lain. Berebut klaim, siapa masuk surga dan neraka. John Lennon menolak hal ini. Seaindainya tidak ada agama, peperangan tidak akan pernah ada.

Suatu ketika ia dan Yoko Ono menulis pesan perdamaian. Penolakannya pada serangan Amerika terhadap Vietnam saat itu. Tindakan uniknya ini memancing perhatian media massa. Perhatiannya pada perdamaian adalah bentuk perlawanan. Bahwa perang tak menghasilkan apa-apa kecuali cerita nestapa.

Tokoh aktivis mahasiswa, Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib adalah mahasiswa yang memilih gila di antara orang-orang yang kadar kewarasannya berlebih.

Ada pesan menarik dari Soe Hok Gie, lebih baik diasingkan daripada tunduk pada kemunafikan. Di saat teman-temannya yang dulu berjuang demi niat suci bernama idealisme ada di tubuh pemerintahan, ia memilih tidak enak. Hidup diasingkan, melawan kemunafikan. Perlawanannya pada ketimpangan sosial dan cita-cita masyarakat adil makmur yang tak kunjung menetas.

Tiap-tiap zaman mesti ada pahlawan dan penghianat. Ahmad Wahib tak kalah pentingnya dalam perjalanan sejarah perlawanan pada kemapanan yang melenakan. Bedanya, ia lebih menekankan sasaran kritiknya pada pemahaman agama. Pergolakan Pemikiran Islam adalah catatan hariannya tentang pemahaman agama. Sebuah perlawanan dikandang pemahaman agama. Ia berani memilih jalan melawan arus demi kemajuan. Itu penting daripada membuat arus baru yang terkesan banci.

Tiga-tiganya, secara kebetulan atau tidak, melawan kemapanan di tahun yang hampir bersamaan. Mengisi ruang publik dengan wacana. Dengan seni dan gerakan. Menyentak yang tertidur. 

Masyarakat memang terkejut. Sebab, pemikiran ketiganya tidak sama dengan apa yang dipikirkan kebanyakan. 

Sadar atau tidaknya suatu masyarakat ada pada menerima tidaknya mereka pada gagasan yang digulirkan. Sebab, bisa jadi masyarakat, ketika mendapat gagasan mengejutkan, mereka hanya bilang, "Ah, itu sensasi." Seolah-olah mereka menemukan jalan bagi sebuah kebuntuan.


Orang-orang seperti John Lennon, Soe Hok Gie, dan Ahmad Wahib serupa cahaya zaman. Atau sebagai suluh untuk mencari jalan keluar dari goa ketimpangan. Tetapi, sering kali ditolak. Kenapa ditolak? Karena pada umumnya masyarakat mencintai kenyamanan meski sebenarnya perlawanan mereka ujungnya kenyamanan juga. 

Meski demikian, orang-orang yang memilih perlawanan seperti di atas tidak memedulikan apa pun komentar yang dilontarkan pada mereka. Sebab, memang demikian, masyarakat kadang kala lebih banyak menghakimi daripada menahan dulu dan mengkajinya. 

Bagi masyarakat agamis, dosa dan pahala adalah pengontrol. Bagi masyarakat kapitalis, perlawanan adalah perusakan pada kemapanan. Dan mereka semua takut tergerus iman dan kepentingannya.

Bagaimanakah dengan mahasiswanya? Cukup bangga dengan mereka. Karena caption mereka dengan kopi yang diupload di story WAnya sudah menandakan keberadaannya. Pangsa menunjukkan bangsa. 

Wong sudah zamannya, mau bagaimana lagi? Perlawanan seharusnya ada pada mahasiswa yang sering mengaku kaum intelektual. Sering menunjukkan kebesaran almamaternya dengan cukup memperlihatkan, "Ini baju saya." Kaum tembok, penikmat ac, dan semua fasilitasnya. Salah? Tidak juga. Tetapi, kadang kala kenyamanan membentuk seseorang untuk malas-malasan.

Bukankah jalan perlawanan itu berbeda tiap zamannya? Memang hal ini menuntut mereka kreatif. Tetapi esensinya tetap sama. Cita-citanya sama. Strateginya berbeda. Tapi, ketika perlawanan tidak berbentuk aksi, dalam artian tidak turun ke masyarakat, mendengarkan mereka, apalah artinya diskusi dengan buku yang tebalnya 400 sampai 700 halaman. Menguraikan masalah satu per satu sebelum akhirnya dijawab. Perlawanan tidak penting, kan?

Dari awal, saya memberi contoh John Lennon dengan dua mahasiswa-aktivis. Apa tujuannya? Pada diri John Lennon, perlawanannya dengan cara unik. Foto berdua dengan Yoko Ono di tempat tidur dengan pesan yang  ditulis di kertas untuk sebuah perdamaian. Pada diri mahasiswa-aktivis seperti Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib, jalannya agak berbeda, meski dalam beberapa hal mempunyai kesamaan.

Saya, kalian, dan mereka, semua mempunyai pilihan dengan bebas dan konsekuensi yang ditanggung masing-masing. Misalnya, kalian mempunyai perlawanan pada modernitas dengan tidak memakai shampo. Karena shampo produk modernitas. Mereka mempunyai cara perlawanan yang berbeda. Dan saya memilih perlawanan dengan bentuk tulisan. Tiap-tiap usaha berbeda, esensinya sama, yaitu perlawanan.

Pada tiap jalannya sejarah, perlawanan harus selalu ada. Ini pembicaraan perlawanan antarkelas? Barangkali iya. Perlawanan dalam ini menuntut hak kemanusiaan yang selalu dikebiri. Dengan selalu mengerahkan massa? Tidak. Tetapi, perlawanan mesti selalu ada. Manusia yang tak pernah melawan. Perlu dipertanyakan sisi kemanusiaannya.

Sedangkan mahasiswa yang tak melawan patut dipertanyakan bacaannya. Meski sebenarnya mahasiswa dan bacaannya tak selalu identik dengan perlawanan. Sebuah perlawanan, ada pada keinginan untuk selalu mempertahankan kemanusiaannya, kemerdekaan dihasilkan dengan perlawanan.


Artikel Terkait