Pagi hari telah sampai, gelap belum lagi pergi, sedang dingin belum juga beranjak. Sepertinya ia ingin abadi kali ini. Ataukah, memang luka ini yang abadi dan perasaanku yang telah beku, hingga mengintervensi detik menjadi lebih lamban. Ya, begitu saja keseharianku akhir-akhir ini.

Aku adalah sebuah sarang rindu. Padaku ia abadi atas nama seorang hawa, sebab terlalu dalam rasa yang pernah ia hadirkan. Kenangan bersamanya sudah menjadi parasit dalam ruang kosong di kepalaku. Hingga, hari-hari membikin aku menanggalkan senyum pada semesta.

Danur Permadani, itulah nama asliku, yang saat ini menjadi alamat penuh rasa nestapa pada seorang hawa. Anak dari seorang pebisnis besar, namu melarat karena kisah asmaranya. Dulu aku tinggal di daerah kalimantan, khususnya Kota Palangka Raya. Namun, karena tuntutan bisnis, keluargaku memilih pindah ke Kota Jakarta. 

Setelah kisahku dan dia menjadi kenangan, hanya fajar tempatku mengadu. Padaku ia menjawab dengan spontan, “Mati saja kau!” begitu saja setiap kali aku mengadu, membawa namanya untuk aku pertanyakan kembali, mengapa sampai seperti ini?

...

Tepat dua hari sebelum keluargaku pindah ke Kota Jakarta, aku ingin menyampaikannya pada kekasihku. Sempat pusing bagaimana cara menyapaikannya, sebab aku takut kalau dia sampai  berduka karena akan ada jarak di antara kami nantinya. 

Ada kabar dari teman kekasihku, bahwa mereka akan kumpul bersama. Bagiku ini waktu yang tepat untuk memberinya kejutan. Kemudian, aku membawa sebuah cincin berlian sebagai kejutan untuk aku pasangkan di jari manisnya, sembari menyampaikan kabar bahwa keluargaku dua hari lagi akan berpindah ke Jakarta.

Sesampainya di tempat itu, tempat dimana dia berkumpul bersama teman-teman kampusnya. Sebuah cafe serba kaca, dengan rona-rona berkilauan. Aku sempat ragu dengan apa yang terlihat di mataku waktu itu. Dari luar, nampak olehku dia sedang memeluk seorang lelaki. Hancur sekali rasanya aku waktu itu.

Lelaki yang ia peluk berada dalam posisi membelakangiku, dihitari oleh teman-temannya yang lain. Dengan jelas aku amati di antara wajah-wajah mereka sangat bahagia. Tak terkecuali wajah wanita yang ingin aku beri kejutan itu. Ya, wajah kekasihku sendiri.    

Semenjak peristiwa di hari itu, dengan terpaksa aku sudah memutuskan hubungan komunikasi dengannya. Semua akun media sosialnya aku blokir, kontaknya aku hapus dan segala bentuk kenangan dalam memori Hand Phone. Serta, setiap kali dia berkunjung kerumah, akan aku hindari! Namun sialnya, tidak se-instan itu menghapus kenangan yang membekas di kepala.    

Entah karena auranya yang begitu kuat, atau karena aku yang gemar melarat! sebab memang, di hari-hari kemarin terlalu dalam rasa yang pernah kukorbankan untuknya. Seperti pagi yang konsisten menghadirkan kelembutan, gelap yang setia menjaganya dalam lelap tidur, serta senja yang megah sebagai penutup hari-hari lelahnya. Ya, itulah ibarat dedikasi cintaku selama dua tahun dengannya.

Sang waktu memang penuh rahasia. Bahwa aku dan dia telah usai. Namun, masih terbayang rona-rona pada wajah ayunya, dikala tersipu malu saat aku candai kala berdua. Pun lembut suaranya menyapa, dikala pagi tak sanggup menyadarkan aku dari lelapnya tidur, benar-benar masih melekat. Dan dia memang masih berjelaga di antara ruas tulang rusukku yang ganjil.

...

Selamat tinggal Palangka Raya, kota penuh kenangan antara aku dan dia, di setiap sudut-sudut eksotisnya. 

Kini, keluargaku telah berpindah ke kota Jakarta. Walau kilometer sudah terlanjur membentang, serta rasa yang telah enggan tuk menyapa, menjadi alasan tanpa penjelasan yang bermuluk-muluk untuk aku melupakan dia dengan seburuk-buruknya perpisahan. Pedih memang!

Hingar bingar kota begitu terasa di telingaku, walakin terasa hampa dalam fikiranku. Di kota yang baru saja berkenalan denganku ini beberapa hari yang lalu menjadi saksi, betapa seorang lelaki yang akrab disapa Danu ini begitu nelangsa sejak pertama kali melangkahkan kaki di tubuhnya. Jakarta, ibu kota Indonesia dengan kepadatan penduduk mencapai 15.663 jiwa/kilometer(km) persegi.

Ingin aku tekankan, Keriuhan Kota Jakarta belum cukup untuk mengalihkan aku dari kisah piluh di Kota Palangkaraya dulu. “Arrggh”(pekik aku sembari menghayal depan teras rumah). Walaupun sudah lampau tetap saja gairah hidupku telah tersandra disana.

Dari sini aku amati dengan jelas, bagaimana semesta menghadirkan keriuhan ini untuk mengalihkan aku dari sosoknya. Tapi, nihil, yang ramai adalah kenangan itu sendiri. Memburai, kemudian membias pada semestaku.

...

“Danuuu, ayo, ikut bunda sebentar. ” Suara bundaku memanggil, dan aku hanya terdiam. Piluh yang berjelaga dalam dadaku membikin aku terasa malas berucap dan bertindak apa-apa.

“Bunda ingin bertemu seseorang, dia teman lama bunda. Temani bunda ya?”

“Aku malas bunda”

“Ayolah nak. Kamu kan anak bunda satu-satunya, temani bunda ya nak?” lanjut bunda membujuk, agar aku bersedia ikut membersamainya. “Bunda tidak tega melihat kamu akhir-akhir ini Danu. Dari sebelum kita pindah, sampai kita pindah kesini kamu tetap saja selalu murung nak,” Lanjut bunda.

Terus terang saja, aku tidak tega melihat bundaku terus membujuk seperti itu. Sebab aku memang dikenal sebagai anak yang penurut pada orang tua, terutama bunda. Sedari kecil aku memang dididik seperti itu. Namun, sekarang kondisiku sedang berkabung karena perpisahan. Sedang rapuh, serapuh rapuhnya.

...

Jika saja waktu bisa kuatur kembali dalam satu komando lewat jam tangan, maka, akan kujaga dia sebaik-baiknya waktu itu. Atau sekalian kuputar kembali waktunya, sampai di titik aku belum mengenalnya dan tidak akan mengenalnya sama sekali.

Tapi apa mau dikata, sang waktu telah berjaya dalam mengukir kenangan, dan tak ada yang dapat memutarnya kembali. Kita semua adalah korbannya, entah pahit atau pun juga puitis, kita terima saja dengan lapang, ada peristiwa apa dibalik sang waktu.

Satu tahun kemudian...

Aku mulai terbiasa menjalani hari-hari yang lebih baik dari sebelumnya, kenangan yang ada telah bersahabat denganku, sesekali saja ia muncul dalam benakku. Sang waktu memang menghadirkannya menjadi luka di hari kemarin, tapi sang waktu juga punya penawarnya, melalui detik demi detik, menit, jam, hari, hingga bulan-bulan pun berlalu.

Hari ini ada acara syukuran di perusahaan ayahku. Sejauh ini bisnis ayahku di Jakarta mengalami perkembangan yang pesat. Suatu hal yang patut di syukuri. Sejauh yang kupelajari dari pelajaran di kampus, memang, untuk meningkatkan semangat kerja dan motivasi karyawan perlu adanya kegiatan serupa itu.

Di lain sisi juga bertujuan untuk meningkatkan rasa kebersamaan diantara para karyawan dan juga dengan atasannya.

Singkat cerita sampai juga aku di perusahaan itu. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang Eksport/Import, dengan nilai usaha yang cukup fantastis. PT. DANUR JAYA, nama perusahaan yang juga diadopsi dari nama depanku.

Dari parkiran, tampak olehku sebuah gedung pencakar langit. Tinggi menjulang, menantang langit. Sebuah gedung yang dibangun serba kaca, dengan disain arsitektur yang modern. Ditanami pepohonan yang rimbun-rimbun di sepanjang pekarangannya, berbaris rapih, dengan pintu utama yang cukup lebar. Di depan pintu aku disambut oleh beberapa orang penjaga.

“Mari, silahkan masuk tuan. Sudah ditunggu sama Pak Rizal.” Sembari menjulurkan tangannya kedalam.      

Ya, ayahku memang pebisnis andal. Hingga saat mencapai puncak kesuksesannya seperti sekarang, konon kata ibuku mereka juga pernah mengalami kondisi yang sangat terpuruk. Bahkan untuk makan pun sangatlah susah. Tapi itu dulu, terjadi di awal-awal pernikahan mereka. Dan sekarang kondisinya benar-benar terbalik.

Sesampainya di lantai 4, tampak olehku sebuah pesta yang elite. Orang-orangnya hampir berpenampilan seragam, serba rapih. Dengan perjamuan yang macam-macam jenisnya. Masakan-masakan lokal hingga mancanegara pun juga disajikan, lengkap dengan kue-kue dan minuman yang tidak kalah variatif.

Sembari mengambil Fruit Tea (minuman teh yang dicampur dengan konsetrat jus buah) untuk membasahi tenggorokanku yang haus karena perjalanan tadi, tiba-tiba terdengar suara ayah memanggilku mendekat bersama kolega-koleganya.

“Danu... sini Nak.” Tanpa berkata apa-apa aku lantas mendekat.

“Ini, kenalin, teman ayah.” Sembari memandang senyum kepada seorang bapak-bapak koleganya

“Hi, Danu, Saya om Johan.”  

“Danu, om.” Ucapku, sembari menjulurkan tangan untuk menyambut jabat tangan om Johan.

“Nah, om Johan ini yang anaknya pernah ayah ceritakan waktu itu.” kemudian mereka berdua senyum-senyum dengan maksud yang sama.

Ayah pernah cerita tentang om Johan, tentang anak gadisnya yang kurang lebih seumuran denganku. Dia juga lulus studi sarjananya setahun yang lalu. Dan sekarang melanjutkan Magisternya di eropa. Tepatnya di Wageningen University, Belanda.

Ya. Itulah sedikit keterangan dari ayahku sewaktu menceritakan sedikit tentang anak gadis om Johan. Roman-romannya aku sudah tahu. Ayahku ingin menjodohkan aku dengannya. Tapi sewaktu ayahku bercerita tentang anak om Johan, ayahku lupa dengan namanya.

...

Beberapa saat aku amati om Johan, ia terlihat sedang mencari-cari sesuatu dengan matanya, sekejap pandangannya memburu-buru ke kiri, ke kanan, belakang hingga semua sisi horizonnya. Aku pikir dia sedang mencari seseorang. Istri atau temannya, mungkin? Ya, bisa jadi.

kemudian om Johan melambaikan tangan sembari memanggil nama seseorang, “Yasmin... Yasmin...” nama yang terdengar tidak asing di telingaku, sejenak kucoba menerka-nerka, siapa yang dipanggil oleh om Johan? Dan, aku benar-benar ingat nama itu!   

“sini dulu nak.”

“Ya, ayah. Ada apa?”

Kemudian, aku melihat seseorang yang berjalan ke arah om Johan. Seorang gadis yang begitu akrab dimataku. Aku kenal betul siapa gadis yang kini tengah berdiri di depan om Johan. Namun, matanya belum berpapasan denganku, sebab di sekitarku juga sedikit ramai oleh kolega-kolega ayahku.

Seketika aku seperti memasuki antariksa yang baru. Ada emosi yang kembali bergejolak, merambat cepat seperti kecepatan cahaya. Disertai serpihan-serpihan kenangan yang bergerak ‘nasti’ membentuk romantika tentang kisah lamaku. benar-benar! Aku seperti hilang dari tempat itu sejak dalam fikiran maupun perasaan, dan merasuki ruang kenangan bersama Yasmin!

Aku tidak lagi dapat mendengar dan menyimak dengan pasti, dialog antara anak dan ayah (om Johan dan Yasmin) itu. Yasmin adalah perempuan yang pernah hinggap lantas mengukir luka padaku! Luka yang benar-benar masih membekas padaku. Dan, sekarang dia tepat berada di depanku. Pelarian demi pelarian seolah-olah binasa dalam sejarah pelarianku melupakan dia.

Ya, dia adalah wanita yang pernah membuat aku rapuh, serapuh-rapuhnya. Wanita yang dulu ingin aku hadiahi sebuah cincin di sebuah Cafe, di Kota Palangka Raya. Kini dia tepat didepanku! Dan aku seperti beku olehnya. Sejurus kemudian matanya pun beradu dengan mataku. Kami pun beku! Diam tanpa kata! Seolah-olah abadi dalam pandang-pandangan.