2 tahun lalu · 453 view · 4 min baca menit baca · Filsafat 51840.jpg
kartunmartono.wordpress.com

Sebuah Penegasan: Apologia?

Fanatisme agama dan kemenduaan sikap liberal menjadi dua titik tekan Arlandy Ghiffari menyoal tulisan-tulisan saya dalam Kita Telah Membunuhnya!. Dan untuk Aura Asmaradana, termasuk juga untuk saya, Arlandy mempertanyakan solusi real apa yang ditawarkan guna memenangkan pertarungan aksi dan narasi yang belakangan ini memang memuncak.

Saya sama sekali tidak bisa bersepakat jika Arlandy menyebut bahwa perdebatan saya dengan Aura sebelumnya itu menemui jalan buntu. Arlandy yakin bahwa kami tidak menyentuh akar permasalahan, yang kemudian membuatnya kesal, kesal yang tak mengharap kembali.

Berujar demikian, tegas saya katakan bahwa Arlandy sudah ahistoris dalam membaca Sikap Liberal untuk Kasus HTI dan Ahok. Padahal di sub judul “Pembubaran HTI”, di sana saya menulis, “Di kesempatan yang lalu sudah saya tegaskan: tak ada yang salah dari keputusan pemerintah yang mengambil langkah pembubaran untuk ormas radikal berlabel HTI.

Arlandy jelas tak membacanya secara jeli. Artinya, Arlandy tidak membaca tulisan saya di kesempatan yang lalu yang saya maksud itu. Padahal di sana, Bubarkan HTI, PBNU Harga Mati, terang saya ungkap konteks seperti apa yang jadi sebab munculnya HTI. Juga konteks mengapa HTI jadi organisasi terlarang dan dipinta untuk bubar saja di Indonesia.

Untuk soal fanatisme agama, saya tak ingin memaksa Arlandy untuk mengakui bahwa saya tidak pernah mengklaim menjadikannya sebagai satu-satunya alasan HTI dapat menarik massa yang besar. Tapi, sebagaimana Arlandy juga yakini, fanatisme itu hanya faktor sekunder; agama hanya medium untuk menjustifikasi perlawanan dan pemberontakan.

Dengan kata lain, kondisi ekonomi dan politiklah yang membuat HTI banyak digemari. Dan itu tidak pernah saya sangkal, meski sebenarnya ada sejumlah pihak juga yang menjadikan fanatisme agama sebagai nafas satu-satunya bergabung di grup radikal perusak NKRI bernama HTI ini.

Saya rasa itu sudah lebih dari cukup untuk memaksa Arlandy memperbaiki pandangannya terhadap saya di kemudian hari. Bukan saya ingin dipandang jelek, bukan saya ingin membenarkan diri sendiri, tapi toh saya memang tidak berpandangan demikian. Singkat kata, saya tak pernah menempatkan fanatisme agama sebagai faktor utama apalagi satu-satunya seperti yang Arlandy sudah klaim.

Di kritikan Arlandy lainnya, yakni sikap liberal saya untuk kasus Ahok dan HTI, Arlandy lagi-lagi mengklaim bahwa saya bersikap mendua. Di satu sisi mendukung pembubaran HTI, di sisi lain menolak vonis penjara untuk Ahok, ini yang jadi alas Arlandy menampilkan kosa kata “kemenduaan” dalam sikap saya.

Berujar seperti itu, lagi-lagi saya katakan, Arlandy telah gagal membaca dan memahami bahan kritikannya sendiri, dalam hal ini Sikap Liberal untuk Kasus HTI dan Ahok. Berikut saya cuplik kembali salah satu paragraf saya di tulisan itu:

Saya heran mengapa banyak orang yang katanya penganut liberalisme tapi justru menganggap pembubaran HTI sebagai aksi penghianatan terhadap ide filsafat ini. Entah pemahaman saya yang berbeda dengan mereka atau tidak, tapi yang jelas, sejauh realisasi kebebasan itu mengganggu, dalam hal ini mengganggu tatanan kebangsaan Indonesia yang sudah ditetapkan final, bagi saya, itu adalah pelanggaran terhadap liberalisme.

Arlandy bisa saja tak sepakat. Tapi di sana juga sudah saya tegaskan, toh pandangan seperti itu memang berlaku secara universal; bahwa kebebasan berekspresi sah terberlakukan sejauh kebebasan itu tidak melanggar tatanan di luar dirinya.

Memang agak membingungkan. Dan ini juga sudah saya tegaskan di dalamnya. Bahwa ada tatanan keindonesiaan yang tidak boleh HTI langgar. Saya katakan, berpendapat sih boleh, tapi apakah HTI, yang mengusung khilafah, hanya menggulirkan tujuannya dalam koridor sebagai pendapat?

Saya sepakat dengan Arlandy, pembubaran HTI tidak akan lantas menghilangkan idenya berupa perjuangan penegakan sistem khilafah, seperti tidak hangusnya ide dalam tindakan pembakaran buku. Itu benar, benar sekali.

Dan saya tidak mempersoalkan itu. Terlepas idenya menyebar ke mana-mana, saya tidak ada urusan. Yang ingin saya katakan, pembubaran HTI tepat. Tapi untuk pemberangusan idenya, saya tidak yakin cara itu bisa tepat. Ya, seperti pembakaran buku yang Arlandy jadikan ilustrasi.

Soal liberalisme yang juga berkemungkinan akan dihantam dan dikerangkeng, memang ya, bisa jadi. Tapi yang saya tidak bisa terima adalah ketika Arlandy menyebut kasus penahanan Ahok sebagai bukti bahwa negara telah memainkan peran tunggalnya dalam tafsir ayat al-Quran dan definisi dari “penistaan”.

Sampai hari ini saya tetap yakin, pemerintahan Jokowi tidak sama dengan pemerintahan di era Orde Lama dan Baru. Meski kesan itu tampak dalam upaya pembubaran HTI, tapi untuk kasus penistaan agama (kasus Ahok), bedanya bisa kita lihat secara mata telanjang. Hanya orang yang krisis kepercayaan terhadap negara sajalah yang akan menganggap itu sama. Jelas, Arlandy berada di posisi yang terakhir itu.

Untuk singgungan Arlandy kepada Aura, juga secara langsung untuk saya, kembali Arlandy gagal membaca bahan kritikannya sendiri. Padahal solusi Aura dan saya jelas: Aura dengan yang transenden-nya, saya dengan liberalisme.

Untuk tawaran saya sendiri, jangan katakan bahwa tawaran itu belum pernah saya detailkan. Seperti tawaran saya ke Aura ketika ingin meninjau lebih jauh soal pandangan saya tentang Ahok dan Pilkada DKI, yang saya usulkan cukup merujuk Buku Qureta (Buqu) saya berjudul Gara-Gara Pilkada,  Arlandy juga cukup merujuk Buqu saya lainnya berjudul Perihal Kebebasan. Itu jika Arlandy memang ingin melihat lebih detail sejauhmana tawaran saya soal ide kebebasan ini sebagai solusi.

Untuk solusi Aura, saya kembali sepakat dengan Arlandy bahwa Aura masih belum tuntas menawarkan yang transenden-nya. Banyak hal yang masih kosong melompong memang dari tawarannya. Dan ini sebenarnya ingin saya kritik, bukan untuk mengusik, tapi untuk memastikan keberlanjutan keintiman saya dengannya dalam perdebatan kami sebelumnya itu.

Tapi di kesempatan ini, tak perlu kiranya saya memberi kritikan untuk Aura dulu. Saya yakin, setelah tulisan ini tayang, setelah Aura membacanya ataupun tidak sama sekali, tulisan darinya akan segera menyusul. #Berharap

Artikel Terkait