Laos memang dikenal dengan negara sejuta gajah, bersanding dengan Thailand dengan julukan Gajah Putihnya. Bukan hanya itu, sekitar abad ke-14 di Laos, terdapat Kerajaan Lan Xang yang secara terminologi berarti jutaan gajah. Berkembang pesat selama beberapa abad, menginvasi berbagai kerajaan lainnya seperti Champa. 

Sepeninggalan Raja Souligna Vongsa dalam keadaan tanpa pewaris tahta, Lan Xang terbagi menjadi dua kerajaan, yakni Champasak and Luang Prabang. Pada abad ke-18, Lan Xang seakan menyerah kepada perkembangan zaman dan kejatuhannya seperti kebanyakan kerajaan di Asia Tenggara lainnya, yakni invasi kerajaan tetangga. Dalam hal ini, Luangprabang diserbu oleh Burma dan Champasak jatuh pada kerajaan Siam.

Periode sejarah pun berlalu, membentuk sebuah zaman bernama kerja sama lebih utama ketimbang peperangan. Kini, Laos berdiri manunggal dengan kekuatan yang sepenuhnya unik. 

Berdiri di atas sejarahnya yang lalu, pelik, dan penuh tumpah darah, mereka mencoba bangkit. Tidak hanya dalam hal seputar kehidupan, namun juga dalam hal sepak bolanya—walau kebanyakan orang mengatakan bahwa sepak bola jugalah sebagian dari kehidupan—mereka, Laos.

Sejak sepak bola berkembang pesat di sini, sepak bola tidak pernah mendapatkan sebuah prestasi yang baik. Malah, banyak masalah yang mereka dapatkan sedari sepak bola. Sebut saja jual beli ilegal pemain Afrika hingga korupsi kerap mengisi headline berita alih-alih prestasi.

Terbaru, mereka berada di posisi tiga terbawah negara Asia Tenggara,tepatnya di posisi 184 FIFA. Namun, peringkat tidak bisa menggambarkan geliat. 

Peringkat adalah bagaimana keadaan klub tersebut kali ini, hari ini, dan detik ini. Bukan merupakan sebuah prediksi bagaimana keadaan tersebut bergeliat enam atau bahkan sepuluh tahun yang akan datang. 

Berpikir realistis memang harus bahwasanya, secara Timnas, Laos adalah sebuah armada yang kalah telak dengan negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Vietna, bahkan dengan Indonesia. Namun, entah sebagai catatan atau tamparan, pada tahun 2016, Laos pernah mengungguli Indonesia secara hierarkis FIFA.

Bagaimana bisa negara yang hampir menjadi lumbung gol bagi Indonesia sempat menyalip dan mengungguli? Ada seribu alasan, salah satunya adalah federasi. 

Namun, kali ini penulis tidak akan membahas tentang federasi ecek-ecek lantaran siapa pun mengetahui hal tersebut. Dalam pembahasan kali ini, terdapat sebuah opera bangkitnya sepak bola Laos sekaligus menjadi tragedi yang tidak bisa dimengerti. Ya, adalah Lane Xang United.

Dengan nama mengadopsi kejayaan masa lalu yang penuh gairah dan sempat menghabiskan sepuluh juta dolar Amerika dalam medio 2015-2016, pantas klub ini mendapat banyak perhatian para penikmat sepak bola negara seribu gajah tersebut. 

Keuangan yang sehat dengan berafiliasi dengan Nakhon Phanom di Thailand dan juga memiliki stadiun sendiri adalah sebuah gambaran betapa mapannya klub ini. Stadium tersebut bernama Lanexang Stadium dengan fasilitas lengkap seperti indoor sport center yang pisa digunakan oleh publik bahkan dapat disewa guna acara non-sepak bola seperti pernikahan.

Geliat sepak bola di Vientiane, kota di pinggir Sungai Mekong ini, dapat dikatakan sangat bergairah akan adanya fasilitas tersebut. Banyak anak yang memainkan bola ketika menjelang sore di sini. 

Ketika banyak yang menuliskan bahwa gairah sepak bola Eropa dan Thailand di ibu kota Laos ini lebih besar ketimbang sepak bola domestik, memang tidak sepenuhnya salah. Namun, Lanexang United seakan menemukan celah bahwa mereka memproduksi jersey dan segala pernak-pernik mereka secara pribadi.

Sosok dari semua itu adalah Phanthachith Inthilath, seorang pebisnis ini seakan mengangkat standar klub-klub di Laos. Pernah diwawancarai oleh WOW Magazine Society, seorang pria yang kebanyakan disebut tuan presiden oleh para penggemar Lanexang United ini mengaku bahwa sepak bola adalah salah satu mimpinya sejak kecil. 

Dan kini, ia gunakan mimpi-mimpinya tersebut untuk menggugah mimpi ribuan anak di Laos guna menyadarkan bahwa sepak bola adalah cahaya bagi mereka. Phanthachith hendak memasukkan sepak bola dalam seluruh sendi kegiatan Masyarakat Vientiane secara sempit dan Laos secara luas.

Stadium Lanexang, menurutnya, adalah sebuah simbol harapan dan mahkota bagi kota Vientiane. Stadium dengan kapasitas 10.000 penonton ini memang sebuah gerakan bisnis yang berinvestasi pada fasilitas dan perombakan dalam ranah sepak bola. 

Namun, hal ini adalah sebuah kegiatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Laos. Phanthachith mengatakan bahwa anak-anak Vientiane berhak untuk mendapatkan apa yang mereka ingin. 

Sebuah hal yang tak pernah ada dalam kehidupan mereka. Dalam hal ini, fasilitas sepak bol dengan akademi yang baik, kolam renang, pusat kebugaran yang modern, tempat latihan tertu dan terbuka, stadium yang megah dengan rumput artifisial adalah sebuah pengharapan bagi anak-anak di sini.

Phanthachith selaku pemilik klub dan juga CEO Intra Corp, sebuah perusahaan konsultan, membawa berbagai prestasi bagi Lanexang United. Selain meraih juara pada Lao Premier League (berikutnya disingkat LPL) edisi 2016, mereka juga berhasil dalam kanah regional, yakni dalam ajang Mekong Cup yang berhasil mengalahkan tim-tim kenamaan seperti Yadanarbon dari Myanmar, SHB Đà Nẵng dari Vietnam, dan Boeung Ket Angkor dari Kamboja. Hanya kalah tipis dari Buriram United dari Thailand di laga pamungkas, merupakan sebuah prestasi baik yang mampu dituliskan oleh Lanexang United.

Dengan segudang pencapaian pada 2016, Lanexang berupaya untuk mempertahankan di tahun berikutnya. Namun, semua seakan runtuh dalam beberapa waktu lantaran satu bulan sebelum kick-off liga, Lanexang United mengundurkan diri. 

Mereka tidak sendiri. Mereka bersama dengan delapan dari empat belas peserta LPL. Mereka merasa tidak ada jalan untuk meneruskan liga. 

Selain karena dikabarkan sebagai bentuk protes mereka terhadap dugaan terjadinya manipulasi pertandingan di kompetisi pada musim sebelumnya, Lanexang banyak ditinggal oleh para sponsor yang menghidupi keberlangsungan klub dan mereka ragu mengikuti kompetisi penuh dalam keadaan pincang.

Dalam kondisi ini, bukan hanya Lanexang, melainkan sepak bola Laos pada umumnya seakan menjadi titik balik kepada sebuah kegiatan sepak bola sebelumnya; penuh dengan masalah. Liga yang hanya diikuti oleh beberapa peserta saja yang bertahan, katakanlah Champasak United, FC Laos, Lao Police, Lao Toyota, National University of Laos, Savan United, Savannakhet, dan Vientiane United. 

Federasi membuat surat terbuka kepada klub siapa saja yang mau bergabung dan ini disambut dengan skeptis oleh Kaz Patafta, manajer Lanexang United pada waktu itu sekaligus mantan pemain Timnas Australia ini berujar bahwa apa yang dilakukan federasi adalah sebuah hal yang baru pertama didengar di dunia sepak bola.

Kaz Patafta mengatakan bahwa banyak liga yang menarik para sponsor dan mendapatkan hak siar bagi mereka, namun di sini berbeda karena hal tersebut sulit untuk dilakukan. Ia melanjutkan, para klub melakukan semua itu sendiri tanpa ada uluran tangan dari pemerintah. Sehingga imbasnya adalah klub-klub banyak menghabiskan uang guna kebutuhan satu musim liga. 

Mereka memiliki segenap ambisi dan tujuan yang besar, namun tidak berpikir bahwa masih ada hari esok yang harus dilewati. Sehingga yang ada banyak klub yang mondar-mandir di LPL ini dengan skala besar.

Imbasnya adalah kepada timnas. Ketika itu, Laos hendak menjalani laga kualifikasi untuk Piala Dunia 2018 dan mereka mendapatkan pelatih anyar, Steve Darby. Pria kelahiran Merseyside, Liverpool, ini seakan mengamini apa yang dikatakan oleh Kaz Patafta, sekaligus menyayangkan keputusan yang diambil oleh Lanexang United. 

Darby mengatakan bahwa para pemainnya, punggawa timnas Laos, tidak akan dalam kondisi sempurna ketika hanya menjalankan liga dengan skala kecil dan hanya mendapatkan empat hingga lima laga berat dalam setahun. Darby juga menyayangkan bahwa Lanexang United adalah lumbung pemain top bagi timnas lantaran pengalaman yang mereka peroleh di 2016.

Sasarannya adalah federasi ketika liga mengalami kelimpungan. Mereka tidak angkat bicara akan hal ini. 

Dilansir dari asianikkei, Darby mengatakan, the body is a microcosm of wider problems in the country. Yang dimaksud adalah masih ada orang-orang baik dalam federasi, namun tenggelam dalam pusaran nepotisme yang menggerogoti federasi mereka. 

Statemen ini muncul karena dua tahun sebelumnya, tepatnya pada November 2015, presiden LFF, Viphet Sihachakr dilarang berkegiatan oleh FIFA selama dua tahun setelah ia diduga menerima pembayaran tunai dari pejabat sepak bola lainnya.

Lanexang United adalah sebuah contoh dari perkembangan sepak bola Asia Tenggara, khususnya negara-negara seperti Kamboja, Timor Leste,dan Indonesia yang ingin membuat fondasi hebat dalam sepak bolanya. Bagaimana mereka menanamkan apa yang disebut dengan akar, yang kelak akan menopang tubuh mereka yang berangsur besar dan rimbun. 

Klub Indonesia kebanyakan membangun klubnya dengan modal besar untuk satu musim kompetisi. Mereka membeli pemain bintang Eropa yang usianya sudah tidak muda pula jasanya sudah tidak prima. Hal tersebut hanya berupaya untuk mendongkrak penjualan jersey dan aksesoris klub, tidak kepada prestasi mereka di papan klasemen.

Ketimbang membeli pemain dengan harga selangit, namun hanya berimbas kepada ekonomi klub saja, mengapa tidak mencontoh apa yang dilakukan oleh Phanthachith kepada Lanexang United? Yakni membangun sebuah fasilitas olahraga guna menunjang masa depan Vientiane. 

Anak-anak Vietntiane adalah harapan, sedangkan para pemain muda Lanexang United adalah asset. Sehingga, merewat mereka dan memberikan fasilitas yang baik akan berimbas baik untuk keberlangsungan masa depan klub, tidak kepada satu musim saja.

Memang seperti opera sabun ketika ada anak malang yang mencoba menata hidupnya dengan segala daya yang mereka miliki, kemudian datang ibu tiri yang menghancurkan segala mimpi tersebut dalam hitungan detik. Apa yang sudah dibangun oleh Lanexang United seakan hancur berkeping-keping. 

Sponsor lari tunggang-langgang lantaran liga sudah tidak memiliki prospek yang baik. Hal ini dikarenakan pengelolaan federasi yang buruk. Seperti tidak ada keterkaitan, namun seperti apa yang dikatakan oleh Darby bahwa federasi adalah sebuah tubuh dari keterikatan makrokosmos yang disebut sepak bola Laos yang melingkupi mikrokosmos, yakni Lanexang United dan berbagai klun di Laos lainnya.

Kini, sempatkan sebentar membicarakan Indonesia (walau malas sebenarnya). Mau dibawa ke mana sepak bola kita ketika klub-klub menghabiskan uang untuk berfoya-foya sesaat ditambah federasi yang tidak kunjung membaik? 

Klub yang membangun fondasi guna kebangkitan internal klub dan bertujuan untuk mengubah pola arah sepak bola Laos saja kini lini masa di fanspage Facebook-nya tidak lebih dari sekadar membahas acara apa saja yang ada di ruangan indoor mereka. 

Mau jadi apa ketika akademi di setiap klub bukan memoles namun malah mengambil pemain-pemain dari ‘klub kecil’ usia dini di sekitar daerahnya, membuat fasilitas untuk latihan dan federasi yang sehat dalam pengelolaan masih jauh dari harapan? Kapan berbenah? Apa mau menunggu musnah?