Harian Kompas Sabtu, 23 Maret 2019, menyajikan sosok Reky Martha Groendal. Ia rela mencurahkan hati dan pikirannya untuk anak-anak dan keluarga tidak mampu di Indonesia agar dapat bersekolah. 

Upaya yang dilakukan oleh Reky bersama dengan teman-temannya adalah memulai gerakan kecil untuk menyisihkan uang saku. Reky dengan penuh semangat menunjukkan komitmennya untuk memenuhi wilayah Indonesia dengan anak-anak yang berani menggantungkan cita-cita setinggi langit.

Upaya dan kerja keras yang digeluti oleh Reky melalui lembaga yang diikutinya membuat dirinya terus bersemangat dalam berkarya. 

Lembaga Hoshizora sedari awal berjuang menjangkau 14 (empat belas) anak jalanan di Yogyakarta. Hingga kini, sudah lebih dari 2.500 (dua ribu lima ratus) anak di berbagai daerah menjadi perhatian dan komitmen Reky sebagai pemimpin Hoshizora di Indonesia.

Reky menjelaskan bahwa semangat dari apa yang menjadi cita-cita tersebut pertama-tama bukan sekadar mengejar angka banyaknya anak yang didukung, akan tetapi lebih pada pendampingan bagi anak-anak dalam setiap perubahan perkembangannya.

Reky bersama teman-temannya berupaya melebarkan sayap dengan menjangkau teman-teman lain di kampusnya untuk membuat gerakan menyisikan uang saku makan siang sekali sebulan. Bila dihitung, sekitar 1.000 yen atau setara dengan Rp100.000 yang pada saat itu mampu menyelematkan satu anak untuk tetap bisa bersekolah.

Kini Reky bersama dengan yayasan yang digelutinya membuka jalan untuk memperoleh kerja sama dengan korporasi lain untuk membiayai lebih dari 170 anak agar bisa dibiayai sampai lulus kuliah. Yayasan ini juga berupaya menjangkau anak-anak di daerah pedalaman yang dibantu oleh para guru honorer yang dengan setia memantau anak-anak agar tetap sekolah.

Persoalan di atas ingin menjelaskan bagaimana seseorang berproses dari waktu ke waktu untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan atau cita-citanya. Manusia mengupayakan segala cara dengan segala yang dimiliki dalam dirinya untuk merealisasikan apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Fenomena di atas menunjukkan bagaimana perjuangan seseorang dalam menggapai cita-cita dengan segala tantangan yang dihadapi. Hal ini seakan-akan menyirakan suatu kualitas hidup dalam diri manusia. Sebab apa yang diupayakan bukan semata-mata demi kepentingan dirinya sendiri, melainkan bagi kebaikan orang banyak.

Melalui gambaran di atas, penulis melihat bahwa segala bentuk keputusan yang dibuat oleh manusia, baik dalam perbuatan, sikap, maupun perkataan, didasarkan pada dua pemikiran. 

Pertama, manusia melakukan kewajiban oleh karena ada suatu yang baik dari apa yang menjadi tujuan saya. Kedua, manusia melihat bahwa apa yang menjadi tujuan saya itu baik atau bernilai, maka manusia harus melakukannya.

Manusia sering kali dikaburkan dengan dua sikap semacam ini. Hal tersebut berangkat dari suatu pengandaian bahwa manusia melihat suatu kualitas di balik tujuan yang hendak ia capai, sehingga segala macam keputusan pertama-tama didasarkan pada kualitas dari tujuan tersebut.

Max Scheler-Etika Nilai

Pusat filsafat Max Scheler adalah pertama-tama terkait dengan etika. Pemikirannya terkait dengan pengalaman akan nilai bertitik tolak dari pemikiran Kant dan Nietzche. 

Kant memandang bahwa kewajiban moral bersifat mutlak. Dari sini kemudian Scheler mengambil kesimpulan bahwa suatu tindakan tidak mungkin tergantung dari tujuan atau nilai yang mau dicapai karena sifatnya yang tidak pasti atau kondisional.

Bagi Scheler, nilai merupakan suatu kualitas yang membuat apa yang bernilai menjadi bernilai. Nilai pertama-tama berciri apriori dan bukan realitas empiris. 

Nilai itu sendiri bukan sebuah bentuk, melainkan materi, tetapi sungguh sesuatu yang ada isi di dalamnya. Benar apa yang dikatakan oleh Kant bahwa moralitas dilihat sebagai sesuatu yang memuat unsur apriori dan mutlak.

Akan tetapi, letak kesalahan Kant terletak pada cara ia mengaitkan nilai itu sendiri dengan kewajiban. Sebab pada hakikatnya nilai itu sendiri mendahului segala pengalaman empiris dan tidak tergantung pada konteks tertentu.

Analisis dan Kesimpulan

Penulis melihat bahwa Max Scheler memberikan pencerahan baru bagi moralitas tindakan manusia. Dengan kata lain, manusia hendaknya bertindak atas dasar berlakunya nilai objektif dan bukan karena objek tertentu. 

Scheler hendak menegaskan bahwa nilai itu tidak bergantung pada apa pun, independen, dan bersifat objektif. Kerap kali, secara sadar ataupun tidak, kita bertindak agar secara moral dipandang baik, sehingga kita wajib melakukan hal tersebut. 

Dalam hal ini, Scheler hendak menegaskan bahwa moralitas perbuatan manusia pertama-tama harus dilihat sebagai suatu kualitas yang ada mendahului suatu kewajiban. Manusia harus bertindak sepenuhnya atas dasar kesadaran akan kualitas nilai tersebut dan bukan semata-mata karena kewajiban agar dapat dipandang baik secara moral.

Kewajiban tidak mendahului nilai, tetapi nilai yang sudah ada lebih dahulu daripada kewajiban. Inilah yang hendak ditawarkan oleh Max Scheler untuk mendorong manusia agar menyadari keseluruhan hidupnya, secara khusus terkait dengan berbagai macam pertimbangan moral yang harus dilakukan.

Manusia bertindak bukan hanya sekadar memperoleh pandangan baik dari orang lain, akan tetapi setiap tindakan manusia sungguh didasarkan pada pemahamannya secara utuh terkait nilai yang menjadi tujuannya.

Referensi:

K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Ingggris-Jerman, Jakarta, PT Gramedia, 1983