Sudah terlalu banyak orang/kelompok yang lantang mencaci dan memberikan stigma negatif terhadap Ansor dan Banser di sosial media. Beberapa pernyataan dan Istilah, seperti “Tukang bubarin pengajian”,“penyembah kuburan”, “Penjaga gereja”, “Ban-serep”, “Bantuan setan” dan masih banyak lagi cercaan yang dapat menumbuhkan rasa kebencian terhadap Ansor dan Banser Kerap dilontarkan pada masyarakat.

Apakah benar demikian? Gerakan Pemuda Ansor yang berdiri pada tanggal 24 April 1934 (10 Muharam 1353 H) adalah penerus Ansor para Nabi. KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah pemberinama ANSOR untuk organisasi kepemudaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama ini, dari namanya pun sudah terlihat langkah apa yang akan dilakukan oleh organisasi kepemudaan ini. 

Pencantuman nama ANSOR oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah tidak seperti orang/kelompokyang memberikan cacian dan cercaan secara sembarangan tanpa melihat konteks sejarah berdirinya. KH. Abdul Wahab memberikan nama ANSOR sebagai ta’afulan dan tabarrukan kepada para sahabat Ansor yang menolong perjuangan Nabi Muhamad SAW dalam membumikan ajaran Islam. Sehingga Sahabat-Sahabat Ansor dimanapun dan kapanpun akan senantiasa mencontoh prilaku sahabat Nabi Muhamad SAW, terutama dicontohkan dalam peristiwa hijrah.

Bagi saya, nama Ansor tidak sembarang nama, Nama tersebut lahir dari dialog antara kekasih Allah (waliyullah) dan para ulama dengan Tuhannya. Melalui laku spritualitas dan riyadhoh yang panjang. Didirikan untuk menjawab segala problem bangsa yaitu bagaimana Indonesia merdeka dan menjaga Aqidah Islam ahlussnah waljama’ah.

Ansor secara literal berarti penolong. Nama Ansor diambil dari teks Al-Quranul Karim yang memiliki kesucian dalam setiap huruf-hurufnya yang dilafalkan akan mengandung kebaikan. Dalam sejarahnya setiap Nabi mempunyai sahabat setia, penolong mereka dalam rangka menegakan agama Allah SWT. Seperti halnya kaum hawariyyin yg menjadi sahabat setia menjaga Nabi Isa dalam menegakan ajaran Allah SWT.

Begitupun Nabi Muhamad SAW yang memiliki sahabat setianya yaiitu kaum muhajirin dan Ansor. Sebagaimana tercantum dalam QS. Ali Imran:52: “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia : “Siapa yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakan agama) Allah?”. Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kami penolong-penolong (agama) Allah (Nahnu Anshorulloh) kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.

Saya sebagai kader Ansor tidak pernah ragu, bahwa secara teologis nama Ansor adalah nama yang diambil dari Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Hajjaj Ibn Minhal, dari Syubah, dari Adiyy Ibn Tsabit, dari al-Barra’ berkata, Nabi Muhamad SAW bersabda: “Golongan ANSOR tidak akan dicintai kecuali orang yang beriman, dan tidak akan dibenci kecuali orang yang munafik. Barangsiapa yang mencintai mereka (ANSOR) maka dia akan dicintai oleh Allah SWT, dan barang siapa yang membenci mereka (ANSOR) maka dia akan dibenci oleh Allah SWT’. (HR. Bukhari Muslim)

Saya meyakini nama ANSOR adalah pemberian dari Allah SWT. Dalam Shahih Bukhori diriwayatkan bahwa orang-orang Ansor madinah pernah bertanya kepada sahabat Anas bin Maliik RA, “Tahukah engkau, apakah nama ANSOR itu kalian (Anas dan sahabat Nabi SAW lainnya) yang memberikannya atau Allah SWT? Dijawab: Allah SWT yang menamainya”. Dalam Surah At-Taubah:100, Allah SWT berfirman: 

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan Ansor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan merekapun ridlo kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.

Energi Al-Quran dan Hadits itu pun mengalir dan menjadi ruh nama Gerakan Pemuda Ansor ini. Maka dalam cara berfikir, bergerak, dan bertingkah laku mencita-citakan diri dan menyadarkan segala segalanya sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya. Dengan demikian, disaat nama Ansor dilafalkan Secara sadar oleh kader-kadernya akan menumbuhkan kekuatan Al-Quran dan Hadits Rasulullah yang memberikan semangat dalam menolong sesama tanpa melihat identitas, menjaga para ulama/kiyai/ajengan/pewaris para nabi yang berhimpun dalam Nahdlatul Ulama.

Bukan hanya itu Gerakan Pemuda Ansor kerap menjadi penolong agar ajaran, nilai-nili, tradisi ahlussunah waljamaah senantiasa tetap terjaga dari kelompok-kelompok yang anti terhadap keluhuran ajaran Aswaja. Sehingga pondok pesantren, masjid-masjid, majelis taklim, madrasah, makam-makam, situs/pertilasan para Aulia ulama dan kiyai sebagai media pendidikan dan dakwah Aswaja terjaga dari kehancuran.

Disamping itu juga Gerakan Pemuda Ansor adalah penolong agar niilai-nilaii kebangsaan (wathoniyah) yang terwujud dalam Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah NKRI tetap aman terjaga dari rongrongan pihak-pihak yang ingin menghancururkan keutuhanan bangsa Indonesia.

Begitupun dalam menolong komitmen kerakyatan (Masholihur-ra’iyyah) berupa permasalahn ekonomi, sosial, pendidikan, sebagai perwujudan dari Nahdlatut-Tujjar dan Tasywirul Afkar dapat benar-benar terwujud dalam ruang lingkup kesejahteraan umat.

Semua langkah yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor ini sudah dilakukan dari sebelum Indonesia merdeka. Sampai akhirnya, di usia 84 Tahun ini, Gerakan Pemuda Ansor masih tetap dalam koridornya untuk mewujudkan tujuan dan cita-citanya. Walaupun, musuh dan fitnah semakin bertambah dan semakin lantang menyuarakan kebenciannya, Seperti yang dikatakan oleh Ketu Umum GP Ansor (Gus Yaqut); Hanya satu kata: Lawan!

Di Harlah Ansor yang ke 84 Tahun ini, menjadi refleksi bagi saya sebagi kader, agar tak goyah dengan cacian-cacian dan selalu kobarkan semangat perjuangan demi terjaganya kesatua persatuan NKRI dan keluhuran ajaran ahlussunah waljama’ah (Aswaja). Wallahu a'lam bi al-shawab.