"Jangan main di sungai dan hutan!" demikian pesan ibuku.

Pesan yang sering kudengar saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Biasanya, saat pulang sekolah dan sampai di rumah, ibarat alaram yang telah diseting, pesan itu akan terdengar.

Dahulu, waktu zamanku Sekolah Dasar, kelas satu dan tiga pulangnya jam 10 atau 11 siang, sementara kelas empat dan enam pulangnya jam 12 siang. Karenanya, waktu itu, anak-anak punya banyak waktu untuk istirahat di rumah, atau tepatnya anak-anak punya banyak waktu main. Sebab waktu istirahat adalah waktu bermain.

Tak seperti sekarang, Sekolah Dasar semuanya pulang sore hari. Pasti waktu main, eh maksudnya waktu istirahat anak-anak sangat sedikit. Namun, walaupun mereka pulangnya jam 12 siang, pasti akan lebih asik menghabiskan waktu istirahat di rumah dengan android-nya, daripada menguras tenaga bermain di luar rumah seperti zamanku dulu.

Tak heran anak-anak sekarang lebih hebat beraksi dalam misi PUBG (sejenis game online), membawa senjata, mendaki gunung, mengarungi sungai, dan saling serang menyerang. Namun, semua kehebatan itu hanya dalam game mereka, saat diminta lari 100 meter, kebanyakan sudah ngos-ngosan. Karakter game PUBG-nya kuat, tapi fisiknya lemah.

Beda zaman beda aktor dan keadaan. Zaman kami sudah old.

Zaman old, tak ada game online, tak ada Mobile Legend, tak ada PUBG, dan game online apapun. Namun, itulah keseruan zaman kami. Game kami sangat menarik dan lebih menantang. Tak butuh hero atau karakter game, sebab kamilah pemerannya. Kami petualang, kamilah hero game offline dunia nyata.

Petualangan membentuk kreativitas, membuat kami jadi pemberani dan tangkas. Itulah yang menjadikan kami siap dengan berbagai petualangan hidup.

***

“Pulang sekolah, kita pergi mengambil bambu untuk dibuat palapudu (mainan pistol dari bambu),” ajak Rais pada kami.

“Kira-kira, di mana tempat bambu yang bagus?” tanyaku pada teman-teman.

“Di gunung Pakojek (nama gunung) di sana ada bambu emas,” saran Wilis yang membuat kami sedikit merinding.

Memang ada banyak bambu emas di gunung itu. Tapi, gunung Pakojek angkernya minta ampun. Katanya, banyak makhluk halus, juga ada ular berkepala ayam, hingga makhluk gaib kakek-kakek memakai tolu (semacam topi jerami).

Entahlah, apakah semua itu benar atau hanya rekayasa untuk menakuti anak-anak agar tidak bermain di gunung itu?  Yang pasti, setiap kali mendengar nama gunung itu anak-anak pasti merinding.

“Gunung itu angker,” kataku menanggapi saran Wilis.

“Ah, kamu ini Ahmad penakut sekali. Tak perlu takut, kita pergi bersama. Kalau kautakut, pakai rok saja,” kata Wilis padaku dengan setengah mengejek.

“Kalian berdua bagaimana, berani tidak?” tanyaku pada Rais dan Edi.

“Aku terserah kalian saja,” jawab Rais.

“Bagaimana denganmu, Edi?” tanyaku.

“Sebenarnya aku takut, tapi tak apalah, asalkan kita pergi bersama.”

“Ok, jadi kita akan pergi di gunung Pakojek. Jam satu siang, kita berkumpul di panggung dekat sekolah,” demikian Wilis menutup rapat kami.

Ini bukan rapat resmi. Ini rapat untuk sebuah misi mengambil senjata. Senjata yang 10 tahun kemudian menjadi amat langkah di kalangan anak-anak, bahkan akan dilupakan. Senjata bambu yang kami sebut palapudu.

***

Jam satu tepat. Kami semua sudah berkumpul di tempat yang dijanjikan.

Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di gunung Pakojek. Jauh, tapi di sanalah kita dapat menemukan bambu emas untuk membuat palapudu berkualitas.

“Ahmad, kamu tak bawa parang?” tanya Edi padaku.

“Ya, aku tak sempat bawa parang, sebab takut ketahuan ibuku kalau akan pergi ke gunung. Tapi, aku bawa pisau yang cukup tajam,” kataku sambil mengeluarkan pisau yang aku sisipkan di pinggang, “ini bisa untuk memotong bambu emas.”

“Baguslah. Parang atau pisau tak hanya untuk memotong bambu, tapi juga untuk jaga-jaga bila bertemu bahaya di hutan,” jelas Edi pada kami.

“Kamu benar, Edi. Kita butuh parang dan pisau untuk berjaga-jaga, karena semua sudah punya parang dan pisau masing-masing, lebih baik kita cepat pergi,” kata Rais yang segera mengajak kami berangkat.

Kami pun segera memulai perjalanan menuju gunung Pakojek. Hingga tak terasa satu jam berlalu, kami sudah sampai di kaki gunung Pakojek. Gunung yang tinggi dengan beragam cerita yang menyeramkan. Merinding kami menatapnya, ada perasaan takut untuk mendaki gunung ini. Namun, rasa takut harus bisa dikalahkan untuk mengambil bambu emas.

Bambu emas tumbuh di puncak gunung. Kami harus naik ke puncak gunung untuk bisa menemukan bambu emas.

Sebenarnya semua bambu bisa dipakai membuat palapudu. Namun, untuk membuat palapudu hebat yang memiliki suara kuat dan tak mudah pecah, harus dibuat dari bambu emas. Bambu emas hanya tumbuh di beberapa gunung. Salah satunya tumbuh di gunung Pakojek ini.

Kami pun mulai mendaki.  Tak terasa sudah hampir sampai di puncak gunung.

“Tunggu!” Wilis tiba-tiba menyuruh kami berhenti.

Aku penasaran kenapa dia menyuruh kami berhenti, “Ada apa Wilis?”

“Kita tak boleh lewat sini, kita harus memutar.”

“Memangnya kenapa kalau kita lewat sini, ini jalan yang cepat. Kalau memutar akan semakin jauh untuk bisa sampai di puncak,” kata Rais yang kurang setuju dengan saran Wilis.

Edi terlihat hanya diam saja, menunggu penjelasan dari Wilis. “Lihatlah! Ada bekas jejak kaki babi hutan, dan coba lihat posisi bambu itu, berbentuk lingkaran besar, mungkin jejak atau sarang ular berkepala ayam. Ini jalan yang cepat. Namun, jika kita memaksa ingin lewat jalan ini, sama saja ingin cari celaka. Kita harus memutar.”

Mendengar penjelasan Wilis, kami pun menganggukkan kepala tanda bahwa kami paham maksudnya.

Penjelasannya masuk akal, lebih baik memutar untuk  keamanan kita. Keahlian membaca jejak hewan di hutan, Wilis memang jagonya. Keahliannya bukan didapat dari Pramuka, tapi karena memang dia sudah akrab dengan suasana hutan.

“Kita lewat sini,” lanjut Wilis, seraya memimpin perjalanan kami. Wilis sudah seperti pemandu jalan profesional. Kami pun mengikutinya.

Tak lama kemudian....

“Bambu emasnya, itu bambu emasnya,” teriak Edi, dia langsung berlari menuju tempat bambu emas.

Kami pun ikut berlari. Berlomba, siapa yang bisa mendapatkan bambu emas terbaik. Sebab sebuah kehormatan bagi yang mendapatkan bambu emas terbaik.

“Ini punyaku,” kata Edi dan langsung mengeluarkan parangnya untuk memotong bambu.

“Yang sana punyaku, jangan mengambilnya. Sebab aku yang melihatnya lebih dulu,” kata Rais, dia juga sudah menyiapkan parangnya untuk memotong bambu emas.

Aku dan Wilis juga sudah menemukan bambu emas yang kami inginkan. Dengan tangkas, tangan kami mulai memotong bambu emas. Tak perlu khawatir terluka. Kami sudah sangat mahir menggunakan parang maupun pisau. Kedua barang ini sudah seperti senjata kami untuk bertualang.

“Rais, apa kau sudah mendapatkan bambu emas?” tanyaku pada Rais.

“Ya, aku sudah mendapatkannya,” Rais pun menunjukkan bambu emasnya padaku, “bagaimana denganmu?”

“Aku juga sudah mendapatkannya. Bambu emasmu sangat bagus.”

“Kita semua sudah mendapatkan bambu emas. Ayo segera pulang! Tak baik berlama-lama di gunung ini,” Wilis memberi komando pada kami.

“Eh, lihat di sana, bambunya bergoyang-goyang,” kataku yang penasaran entah apa yang ada di balik bambu itu.

Yang lain juga ikut penasaran melihat bambu yang bergoyang-goyang itu. Ada apa sebenarnya di balik bambu itu.

“Krok... krok... krok....” Suara dari balik bambu yang bergoyang.

“Jangan-jangan ular berkepala ayam?” tanya Edi yang terlihat ketakutan. Sebenarnya tak hanya Edi, tapi kami semua sudah ketakutan.

Rais pun menyanggah pernyataan Edi, “Ah, bukan. Ular berkepala ayam suaranya seperti kokok ayam jago.”

“Aku tahu itu apa,” kata Wilis, “itu... itu... itu Babi Hutan.”

“Babi hutan?” tanya Rais yang terkejut.

Kami pun saling berpandangan, dan refleks secara bersamaan kami teriak, “Lariii....”

Kami berlari menuruni gunung. Kami harus berlari secepat mungkin. Batu besar dan pohon-pohon di depan mata bukan hambatan untuk berlari kencang. Seperti ninja, kami melompati batu besar, berpijak di akar pohon kelapa dan melompat.

Kami tak lagi berada di gunung Pakojek. Ini sudah agak jauh dari gunung itu. Rasanya sudah aman. Kami pun berhenti.

“Eh, tanganmu kenapa Edi?” tanya Rais.

Tangan Edi berdarah, tapi lukanya tak besar, mungkin hanya tergores ranting pohon saat berlari tadi.

“Oh, tak apa, hanya goresan kecil.”

“Capek, ya? Aku haus,” kata Wilis. Tak hanya Wilis yang kehausan, aku pun kehausan, tepatnya kami semua kehausan.

Rais pun berkata padaku, “Ahmad, bukannya ini kelapa milik nenekmu?”

Aku pun coba melihat tanda yang terukir di pohon kelapa (pemilik pohon kelapa memberikan tanda khas pada pohon kelapa mereka). Ternyata ini memang pohon kelapa nenekku, “Ya, ini punya nenekku, kenapa?”

Mendengar jawabanku Rais jadi semangat, “Kita panjat ya, kita ambil kelapa mudanya untuk diminum, kalian juga pasti kehausan.”

Aku pun menjawabnya, “Ok, tapi siapa yang akan memanjatnya?”

Edi melihat ke arah Wilis dan berkata, “Wilis saja, urusan panjat memanjat dia paling jago di antara kita.”

“Baiklah, biar aku yang panjat,” jawab Wilis yang segera memanjat pohon kelapa.

Misi kami kali ini sukses. Kami semua sudah mendapatkan bambu emas. Selanjutnya, hanya tinggal membuat palapudu. Namun, sebelum membuat palapudu, kami masih menikmati segarnya kelapa muda yang baru dipetik dari pohonnya. Kami harus memulihkan stamina yang sudah terkuras dalam misi kali ini.