Senin, 16 Juli 2001, ialah hari ketiga aku tiarap menanti mangsa. Ia merupakan pemimpin laskar jihad yang datang dari Pulau Jawa. Safar Umar Galib, namanya. Tugasku sederhana: mengirimkan peluru ke ia punya batok kepala.

Semalam air minumku habis. Tadinya kupikir aku kebelet pipis, ternyata tidak. Dari sini, dari lantai lima ruko ini, dapat kudengari tipis-tipis … si bunyi rintik. Bunyi rintik menggelitik puing jua pematang jalan. Titik demi titik—lalu di tiap lubang aspal ia pun menggenang. Sekarang ini warna genangan itu ialah abu-abu. Tak seperti berapa jam yang lalu; tak seperti berapa jam yang tadi. Sementara itu, aku punya dahaga kian menjadi-jadi.

Pada hari kedua, kemarin siang, seekor cecak mendarat di aku punya laras SPR-2. Ia diam saja di sana, dalam tiga jam terakhir, menemaniku yang hampir kehabisan air. Layaknya aku, binatang ini pastinya sedang harap-harap gelisah menanti mangsa. Ia punya alasan untuk membunuh, tentu saja. Ia sedang mencoba mempertahankan hidup. Sedangkan aku, setelah kuanalisis dengan saksama, tak punya alasan cukup.

Bapa Denisius memintaku untuk membalas kematian putrinya. Menurut kabar angin puting beliung, putrinya diperkosa lalu dibacok ramai-ramai ketika hari pembumihangusan kampung halamannya. Menurut kabar angin sapu-sapu, pembumihangusan kampung halamannya dilakukan oleh laskar jihad pimpinan Safar Umar Galib.

Angin tak bisa dimintai bukti, tentu saja. Bukti empiris, apalagi—eh, sepertinya aku kebelet pipis. Omong-omong, hanya ada dua perkara yang pasti: (1) kampung halaman Bapa Denisius telah hangus dengan bumi, dan (2) jasad putrinya tak ditemukan hingga kini. “Aku bisa gila jika Safar Umar Galib tidak mati,” tangis Bapa Denisius hati-hati.

Awalnya aku diam. Begitupun ketika Bapa Denisius menyebutkan angka delapan puluh juta, aku tetap diam. Malamnya, aku menimbang-nimbang, uang sebanyak itu sebenarnya bisa kugunakan untuk minggat dari kota ini lalu membangun ladang ganja di bantaran Sungai Nua, di aku punya kampung halaman. Tidaklah lama, hanya lima menit aku menimbang-nimbang. Setelah itu aku tidur. Besok paginya, Bapa Denisius menyebutkan angka seratus juta—dan aku tetap diam.

“Kalau kau masih berkeras hati, biar aku saja yang mencari. Akan kubunuh ia pakai tangan sendiri,” teriak Bapa Denisius seraya berlari. Selang empat hari, Bapa Denisius mati. Tubuhnya meledak bersama granat ketika baku tembak di Jalan A. Y. Patty.

Kini, di halaman depan Masjid Jami, satu demi satu pria beserban putih sambil lalu melewati lingkar bidikan. Mereka bukanlah mangsa yang sedang kunanti. Mereka tak terlalu berharga untuk mati. Namun, aku yakin, tak lama lagi Safar Umar Galib bakal muncul di lingkar bidikan. Ia bakal mati. Kendati … masih belum jua kutemukan alasan tepat kenapa aku mesti membikinnya mati.

Immanuel Kant pernah berkata, “Motif yang mendasari suatu tindakan lebih menentukan baik-buruk moralitasnya ketimbang efek yang dihasilkan.” Sekarang, apakah yang akan ia katakan pada seseorang yang tak mempunyai motif sama sekali? Apakah yang akan Kant katakan pada diri ini?

Semalam, satu pria berpeci cokelat sibuk mondar-mandir di jalan raya, ketika ujung larasku masih setia mengintip dari lubang di bawah kusen jendela. Perutku menempel sepenuhnya ke ubin. Hanya ada jaket hitam dan celana loreng yang melindungiku dari nyamuk pun dingin. Aku bernapas seirama angin.

Ke arah sini, si pria berpeci cokelat sesekali melempar pandang. Meskipun jarak antara kami hanya tujuh puluh meter, aku yakin, pria itu tak menyadari aku punya kehadiran. Gedung ini terlampau gulita. Gulita ini terlampau pekat. Aku punya degup jua teramat ketat—stabil pun. Aku memang berbakat … menjadi patung. Bisakah moralitas seseorang diukur hanya dari degup jantung?

Satu-satunya yang bisa kusamakan dengan diriku ialah sebuah mesin. Ya, aku adalah mesin. Mesin bisa melakukan pekerjaan ini dan yang lain. Namun, mesin tak bisa dinilai sebagai bermoral baik ataupun buruk. Mesin hanya bisa dinilai sebagai efektif dan tidak efektif. Dan, sebagai tentara desertir, aku sangatlah efektif.

Sudah lama kusadari bahwa segala keputusan yang kubuat dalam hidup ini merupakan rentetan reaksi kimiawi, yang sedang dan telah terjadi, di dalam otak. Kehendak … yang aku punyai sama sekali di luar aku punya kendali. Kehendak sekonyong-konyong terlempar ke alam sadar. Manusia tidaklah dikutuk untuk bebas, melainkan manusia dikutuk untuk menyangka bahwa ia bebas. Kehendak-bebas hanyalah ilusi.

Kian jauh ke dalam, argumen kehendak-bebas kian tak masuk akal. Di manakah kebebasan menghendaki apa yang aku kehendaki tanpa satu pun konflik internal? Di manakah kebebasan merasa puas akan pikiran, niat, pun tindakanku yang selanjutnya sementara ia hanyalah produk sebab-sebab sebelumnya yang tidak aku ciptakan?

Katakanlah aku meminum segelas air dan aku merasa aman-aman saja melakukannya. Aku dahaga; meminum air sangatlah sesuai dengan hasrat untuk membasahi kerongkongan. Andaikan kutenggak miras pada pagi hari, aku mungkin akan menyesal. Namun, meminum segelas air setiap saat dan kapan saja tidak akan membuatku menyesal—dan aku cukup puas dengan diri sendiri. Di mana letak kehendak bebas dalam hal ini?

Mungkin benar jika aku berhasrat melakukan sebaliknya, aku pasti akan melakukannya—tetapi yang terjadi aku malah menaati apa yang aku hasrati. Dan aku tak bisa menentukan aku punya hasrat. Kedalamanku semata-mata dipaksakan oleh jagat. Kenapa tak kuputuskan untuk meminum jus alpukat, misalnya? Mudah: tak terpikirkan olehku saja. Bisakah kulakukan sesuatu yang tak terpikirkan olehku? Tidak, tenju saja.

Kepercayaan umum tentang kehendak-bebas mempunyai dua masalah: (1) manusia tidak mampu mengubah tindakannya di masa lalu, dan (2) manusia bukanlah pencipta hasrat di masa kini. Ya, tidak salah lagi.

Sebuah percobaan akan kulakukan: Aku akan memikirkan apa pun yang aku inginkan dari sekarang. Apa pun yang aku pikirkan, tentu saja, akan menjadi sesuatu yang aku pilih untuk dipikirkan. Tiada seorang pun yang memaksaku. Tiada seorang pun yang menuntunku menggunakan kata-kata tertentu.

Maka aku bebas untuk tidak gramatikal jika aku mau dan. Aku bebas melakukan salah tyk jika aku mau. Bahkan, jika aku berniat menyisipkan angin puting beliung ke kalimat ini—eh, telah kulakukan—aku bebas untuk melakukannya.

Dari mana pula angin puting beliung tadi berasal? Kenapa tidak kusisipkan saja angin sapu-sapu ke kalimat barusan? Aku tak tahu. Sekarang aku bisa saja mengganti angin puting beliung menjadi angin sapu-sapu. Namun, tak bisa mengubah fakta bahwa berapa menit yang lalu aku lebih memilih yang pertama ketimbang yang kedua.

Apakah aku bebas mengubah masa yang telah lewat? Tidak, tentu saja. Apakah aku bebas memutuskan bahwa angin puting beliung ialah kata yang tepat ketika, pada saat bersamaan, merasa bahwa angin puting beliung bukanlah kata yang tepat? Tidak, tentu saja. Apakah aku bisa mengubah hasrat? Tidak, tentu saja. Hasratlah yang bisa mengubahku.

Eh, sekarang aku kebelet pipis.

Apakah aku bebas menahan ini rasa pipis?

Ya, aku bebas, dalam artian tak ada seorang pun yang memaksaku pipis sembari menodongkan laras ke aku punya pelipis.

Bagaimanapun, serius, aku betul-betul kebelet pipis. Bisakah kutahan ini rasa pipis barang sebentar lagi? Ya, tentu saja—dan aku pun bisa melakukannya untuk beberapa menit ke depan. Namun, aku tidak tahu kenapa aku mesti berupaya melakukan hal ini dan bukan sebaliknya. Bisakah kuhilangkan rasa pipisku pakai kekuatan kehendak-bebasku?

Baiklah, sekarang adalah waktu yang tepat. Mangsaku sudah terlihat. Aku harus berangkat. Aku kebelet pipis—dan tampaknya telah tersampaikan aku punya niat. Bahkan, tak bisa kupikirkan apa-apa lagi untuk ditambahkan ke perkara ini. Bisakah kupikirkan sesuatu yang tidak bisa aku pikirkan? Tidak bisa, tentu. Lalu, di manakah letak kehendak-bebas itu?

Dor.

Dor.

Dua letusan keluar dari ujung larasku. Letusan pertama bersarang di batok kepala Safar Umar Galib, sementara letusan kedua menerjang ia punya dada. Ia pasti mati. Tidak salah lagi.

Seiring matahari yang mulai menjorok barat, aku keluar dari ini ruko tua. Berat … langkahku. Tak ingin tampak tergesa-gesa. Senjata kupikul di bahu. Sepanjang trotoar kuhirup aroma ban terbakar, pun miras. Kandung kemihku mengeras. Di dalam sebuah puing akhirnya kukeluarkan pipis selagi aku punya laras bersandar ke pelipis. Setelah kuperhatikan dengan saksama, puing ini ternyata bekas sebuah rumah. Teras, lebih tepatnya. Aku masih pipis. Deras.