Entah bagaimana persisnya aku menyukainya. Mungkin percakapan-percakapan sederhana dengannya setelah lelah menjaring hari telah menjelma semacam endorphin, sedikit melayang banyak senyumnya.

Akan aku ceritakan…

Saat memandangku, senyumnya tertangkap mata. Bukan senyum layaknya model-model pria di majalah atau poster iklan itu tetapi cukup membuat dunia berhenti berputar beberapa detik. Membawaku pada seruang lengang yang teramat tenang.

Aku suka caranya memandang dunia, menjauhkan kerumitan mendekatkan kenyamanan. Aku suka caranya bicara yang apa adanya. Tak ada puisi-puisi. Ia romantis dengan caranya sendiri. Aku tahu suka ini tak masuk akal dan seharusnya aku tak seserius itu memikirkannya, sebab cinta tak pernah bisa serius dan masuk akal. Ah tunggu... bukan, ini bukan cinta. Aku tak seharusnya jatuh hati padanya. Tidak.

Kau tahu? menyukainya serupa menghisap rokok di malam hari bersama kopi dan si sepi, menenangkan. Jika rindu datang, sekelebat bayangannya seperti derit pintu yang ganjil, membuatku terjaga. Lantas kuingat matanya yang menyembunyikan kemurungan dan rambut panjangnya yang sering diikat dengan karet merah atau hitam.

Iya, sampai detik ini aku sendiri masih tak mengerti mengapa aku menyukainya. Kadang aku merasa perasaan-perasaanku padanya hanyalah hal-hal ganjil yang akan membawaku pada masalah. Betapa tidak, sebab yang aku tahu ia tak memiliki perasaan yang sama kepadaku.

Tetapi lima menit sebelum kuselesaikan tulisan ini ia datang lewat pesan pendek di ponselku. Katanya, "Aku tak menginginkan ini terjadi, tapi nyatanya aku mengalami. Aku kangen, Grey."


Percakapan Terakhir

"Yakin kita bisa bersama dengan keras kepala yang kita punya?"

"Tak bisa kupastikan, sebab kepastian hanya milik Tuhan."

"Haa... jawaban yang bisa kuterima, dek."

"Kenapa kita harus sama-sama?"

"Tak mengerti mengapa, tapi aku menyukaimu, sangat..."

"Sesuka apa?"

"Sesuka malam menemukan pagi dengan hangat matahari dan kembali menguatkan harap dalam genggaman."

"Kau berharap apa?"

"Bertemu Oktober yang ke seribu dari sekarang, bersamamu."

"Jika tidak bisa bertemu?"

"Entah bagaimana tak mampu kuterka. Aku hanya berharap bisa melewati waktu bersamamu. Itu saja."

Itu yang kuingat dari percakapan terakhir dengannyà setahun lalu. Sekarang dia entah kemana, tak kutemukan. Mungkin sengaja menghilang atau sibuk berburu mimpi atau sedang mabuk kata-katanya sendiri. Bodo amat.


Apakah Kau

Hey, apakah kamu masih setia menatap jendela sebelum tidur yang selalu larut malam? Menyeduh kopi hitam setelah sebelumnya meminum segelas air putih hangat yang dicampur lemon di pagi hari? Menggambar sketsa lalu memajangnya di dinding kamar, dan sesekali memainkan gitar sambil membaca puisi-puisi yang kau tulis sendiri?

Apakah kau masih kesulitan berdamai dengan keresahan yang diam-diam kau sembunyikan dan berpura-pura semua baik-baik saja?

Kau bilang hidup ini bagai gelap lorong-lorong yang untuk melewatinya tak hanya butuh cahaya tapi otak yang terus menerus bekerja dan hati yang menjadi penyeimbangnya.

Ratusan kilometer, sayang. Tak hanya butuh belasan jam perjalanan untuk bertemu atau sekadar ngopi, tapi juga butuh mood yang baik untuk menciptakan tawa dalam obrolan kita. Atau setidaknya tak meninggalkan kecewa, berat katamu. Itulah mengapa semua menjadi berbeda. Mungkin kau lelah lalu menyerah, sebab rindu begitu ribut begini begitu, mengulur-ulur waktu.

Katanya yang bisa terus hidup, tumbuh dan berkembang adalah yang bisa mengkondisikan dirinya dengan perubahan. Kini aku dan kamu tak lagi sepaham dengan keadaan. Sedang mimpi, telah remuk dalam kesedihannya sendiri.


Suatu Waktu

Serupa hidup yang penuh pilihan, ke pantai, duduk dan menenggelamkan kaki di pasirnya adalah pilihan untuk sekadar menikmati sore atau menghalau kerumitan.

Serupa menemukan sesuatu yang menenangkan tanpa terlalu banyak jika. Serupa memahami bahagia dari sisi yang berbeda. Tak perlu banyak menerka apa-apa yang sudah seharusnya dilewati.

Suatu waktu. Kupesan malam dengan separuh rembulan. Aku dan sepi asyik berbincang di meja yang tepat bersebelahan dengan jendela besar yang memperlihatkan pantai, yang membawa desau angin, yang mampu menciptakan lamunan panjang.

Suatu waktu yang lain. Ia bilang, "Tak ada yang kebetulan, Grey. Jika menyukaimu membuatmu terganggu, maafkan, itu di luar kuasaku. Percayalah, pertemuan ini adalah harapan sekaligus kepastian. Aku berharap kau terus mengingatku dan kepastian bahwa aku ada untukmu.”

Suatu waktu sebelum ia pergi. Sebuah pesan ia selipkan di bawah pintu, "Maukah kau menungguku kembali?"

Suatu waktu setelah seribu seratus hari kepergiannya, ia dihadapanku!

Katanya, "Kupenuhi janjiku, Grey. Mari bersulang, merayakan apa yang patut dirayakan, meski sebuah kehilangan." 


Narest

Menuju tengah malam ketika aku terbangun. Beberapa waktu terlewati dengan perasaan lelah. Dan hari ini mungkin puncaknya, badan sudah penuh lebam-lebam sebagai penanda sedang dalam kondisi titik terbawah, maka selepas kerja tidur adalah prioritas utama.

Di luar desau angin membawa dingin, jalanan sepi penghuni. Aku duduk di bangku teras rumah tempat ibu biasa memandang lalu lalang orang-orang. Maka kunikmati malam bersama ingatan.

Summer

Dunia hangat, seperti senyumnya. Mengapa? Tak mengerti. Tak ada alasan yang pasti. Hanya mengalir, tak tersentuh pikir. Tahun-tahun berlalu kupastikan ini tak sekedar suka, lebih dari itu. Dan tak tahu harus bagaimana kutenangkan rindu, detaknya terlalu kencang, menggebu-gebu.

Autumn

I love the autumn season, it’s when i can see the maple leaves change their color to red. Kau ingat kita pernah melewati musim itu, Narest?

Winter

Seperti hatiku, dingin ini membekukan segala. Ranting-ranting tiada berderak. Pesan-pesan pendek kita terhenti di suatu hari yang kelabu. Rancu. Aku, kamu, hanya saling melempar kesedihan dalam diam yang entah sampai kapan.

Spring

Andai semesta sepakat, inginku di sana di dekatmu. Melihat senyum dan binar matamu, sekali lagi. Andai mekarnya bunga juga memekarkan rasa, aku hanya ingin itu padamu, Narest.