Saat pertama kali saya menemukan buku ini, buku ini memiliki judul yang teramat provokatif, dan mungkin seperti yang dipikirkan oleh beberapa orang yang pertama kali menemukannya akan berpikiran sama dengan apa yang saya pikirkan.

Awalnya saya berpikir bahwa buku yang ditulis oleh Tom Nichols ini menyajikan serangkaian bukti bahwa kita perlu menyangsikan keberadaan pakar dan saya berharap dengan membaca buku ini saya dapat memiliki ‘tanda bukti’.

Bahwa pendapat pribadi kita mesti dijunjung tinggi, namun ternyata tidak. Karena sesungguhnya ini adalah judul yang teramat satire, dan begitu baik menjebak orang-orang seperti saya untuk mengambilnya dari rak buku online, buku ini adalah kejutan.

Tom Nichols menjabarkan bahwa matinya kepakaran merupakan salah satu ancaman dari matinya demokrasi. Demokrasi sebagai wadah masyarakat yang candu akan perubahan dan kemajuan memiliki tantangan tersendiri dengan adanya ruang publik yang riuh.

Apakah hak yang terbuka terhadap semua masyarakat berjalan baik sekarang ini? Salah satu hambatan adalah bagaimana demokrasi ini berkembang di mana masyarakat enggan belajar dan masyarakat yang begitu permisif dengan kekuatan uang.

Ketika kegiatan perkuliahan pada intinya dianggap hanya kegiatan membeli ijazah, lewat institusi pendidikan, sehingga adanya pembelajaran di kelas pun hanya dianggap formalitas belaka, dan dosen seakan pelayan bagi konsumennya, mahasiswa.

Dan ketika masyarakat permisif terhadap fenomena ini, seperti salah satu ungkapan dari seorang dosen yang dikutip oleh Tom Nichols, “kadang saya merasa tidak seperti seorang guru dan lebih seperti penjaga butik yang mahal.”

Perguruan tinggi sebagai wadah belajar orang-orang yang menjelang dewasa untuk terjun ke masyarakat hampir kehilangan marwahnya sebagai tempat pendidikan tinggi, dan hanya memperkuat solipsisme intelektual.

Tom Nichols pun menjabarkan dinamika yang menyebabkan kepakaran berada di ambang kepunahan yang terjadi di masyarakat, salah satunya adalah adanya fenomena “Efek Dunning-Kruger”.

Fenomena ini menjelaskan bagaimana makin bodoh Anda, makin Anda yakin bahwa Anda sebenarnya tidak bodoh yang disebabkan oleh hal penting yang sering dilupakan, yakni Metakognisi.

Metakognisi merupakan sebuah kemampuan untuk menyadari kesalahan, dengan mengambil jarak, melihat apa yang sedang Anda lakukan, dan menyadari bahwa Anda salah melakukannya. Dan keahlian metakognisi bukanlah sebuah keahlian yang sekejap saja, melainkan melalui pengalaman pendidikan yang baik.

Lalu, siapakah kita? Apakah kita adalah orang yang lelah berdialog dengan orang awam ataukah kita orang awam yang membuat lelah ahli? Bisa jadi kita adalah keduanya di berbagai kesempatan.

Hal ini diperparah dengan adanya bias konfirmasi yang merupakan fenomena lain di mana kita cenderung mencari informasi yang membenarkan apa yang kita percayai dan adanya kecenderungan untuk menolak suatu data yang menentang apa yang menurut kita merupakan sebuah kebenaran.

Lalu, bagaimana mengakses kebenaran mengenai isu publik ketika media sebagai sumber informasi dalam ruang persaingan, menggerus prinsipnya untuk menyusun berita berdasarkan apa yang harus diketahui publik, menjadi apa yang diinginkan masyarakat sebagai kliennya?

Ini menjadi masalah dalam negara demokrasi. Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Public Policy Polling kepada warga Amerika, apakah mereka setuju bahwa Amerika membom negara Agrabah, dan lebih dari separuh setuju. Masalahnya adalah bahwa Agrabah adalah negara fiktif dalam Film Alladin.

Bagaimana demokrasi dapat dibangun di atas fakta ini, sedangkan ketika masyarakat tidak memiliki pengetahuan di mana letak negara Agrabah, para wakil mereka tidak bisa tidak peduli dan harus memilih apa yang menjadi kebijakan untuk publik.

Bagaimana masyarakat kekurangan informasi ini dapat memilih dengan tepat wakilnya selain dengan sentimen-sentimen perasaan dan bias konfirmasi semata. Publik yang abai pada informasi yang valid pada akhirnya menjadi senjata politik yang kuat untuk menghancurkan demokrasi yang didambakan.

Orang awam mengeluhkan kepemimpinan pakar. Mereka ingin lebih sering untuk dilibatkan dalam berbagai masalah nasional yang rumit. Namun banyak dari mereka yang hanya marah-marah, tanpa menunaikan sebuah tugas penting, yaitu menjadi cukup bijak dalam mencerna informasi guna memilih wakil yang tepat.

Masyarakat yang malas belajar seperti ini yang pada akhirnya menjadi mangsa serangan ideologi, agama, dan populisme. Menurut Tom Nichols, jika masyarakat menyerah dengan kondisi ini, akan mengalami banyak nasib buruk, penindasan massal, kemiskinan budaya dan materi, hingga kekalahan perang.

Dengan sedikit pesimisme, Nichols memberikan sebuah tanggapan bahwa titik terang dari masyarakat yang malas belajar ini mungkin terjadi bersama sebuah bencana. Mungkinkah Pandemi COVID-19 merupakan sebuah titik terang?

Pandemi COVID-19 adalah sebuah cobaan yang membutuhkan kerja sama antara pemerintah, pakar, dan juga publik yang bijak. Hal ini bukanlah suatu hal yang mudah, terutama dengan riuhnya disinformasi, dan kemalasan publik mencari tahu bahkan di negara maju sekalipun.    

Kita bisa lihat bagaimana Amerika Serikat memimpin dalam hal jumlah korban pandemi global COVID-19 dan ketika masyarakat berunjuk rasa di jalan guna menolak lockdown karena ini sebuah ancaman individu sambil mengeluh karena mereka sesak napas menggunakan masker.  

Dan juga contoh lain di Indonesia sendiri dengan masih banyak tersebar bahwa pandemi ini adalah akal-akalan WHO, bahwa rapid test COVID-19 harus dihindari karena merupakan akal-akalan komunis dalam menumpas umat beragama, hingga aksi  jemput paksa jenazah yang telah terverifikasi positif COVID-19.

Banyak hal yang kita dapatkan untuk menjadi lebih arif dalam berperilaku sebagai warga negara dengan melihat dunia melalui perspektif Tom Nichols, mulai dari perspektif staf pengajar menghadapi tingkah mahasiswa yang meresahkan hingga keresahan pada perkembangan media massa beserta konsumennya.