Sewaktu masih sangat belia, saya kira mencintai itu hanya satu kali.  Ah waktu itu, saya belum mengenal luka. 

(Jangan bayangkan saya sudah sangat tua ya saat ini hehehe)

Ini adalah kumpulan kata tentang luka, karena akhir kisah tak selalu bahagia. 

Banyak orang ketika patah hati, entah karena dikhianati, atau persoalan-persoalan lain, berpikir bahwa ia akan mati saking terlukanya, begitu sakit, begitu perih. 

Padahal emosi sedih, marah, kecewa, sakit, terluka, sebagaimana emosi-emosi lainnya, membawa energi. Semakin terluka justru semakin kuat energinya. 

Energi ini dapat kita gunakan untuk berkarya, untuk terus menikmati hidup, bukan sekedar untuk "bertahan" hidup setelah putus cinta. Dapat pula kita gunakan untuk mengambil waktu untuk diri sendiri, yang selama ini mungkin tidak kita lakukan, karena kita cenderung berfokus pada (mantan) kekasih kita, atas nama cinta. 

Padahal mencintai diri sendiri mutlak diperlukan sebelum sungguh mampu mencintai orang lain tanpa membuat orang lain merasa megap-megap sesak nafas dengan cinta kita. 

Karena cinta yang bikin megap-megap ini  sebenarnya bukan "cinta" melainkan proyeksi dari ketakutan dan rasa tidak aman kita (insecurity).

Pada akhirnya, setelah proses "penemuan diri" ini, niscaya kita akan lebih siap untuk kembali mencintai. 

Mungkin yang sedang terluka tidak terpikir untuk menemukan cinta yang lain atau merasa tidak akan mampu mencintai orang lain lagi. Tapi percayalah, hidup ini penuh kejutan. Cinta datang ketika kita justru sedang tidak memikirkannya, ketika kita sudah berhenti menanti. 

Dan kali ini, biarlah pengalaman masa lalu, luka-luka dan kepedihan itu mengajarkan kita untuk lebih siap menerima cinta yang sesungguhnya, cinta yang tidak melelahkan, cinta yang lebih matang, cinta yang tidak egois. 

Dan juga tentunya untuk menjadi kekasih yang lebih mampu mencintai dengan cara-cara yang membuat pasangan kita merasa sungguh dicintai.

Untukmu Dalam Lukaku

Kau hancurkan hatiku
Tak hanya satu waktu
Berkali kau buat aku
Terisak dalam lukaku
Sakit, pedih, menegang kaku
Bekukan aliran darahku
Tak cukup pikirmu
Kau remukkan hidupku
Jadi serpihan, beribu-ribu
Begitu kecil tak tersentuh
Tak tahu aku
Mampukah rekatkan jadi satu

Perlahan, kau tibakan ku
Di batas itu 

Kini, nanti, semasih ada denyut nadiku
Aku membencimu
Sluruh relung jiwaku
Mengutuk dirimu
Dalam tiap hela nafasku
Aku memakimu
Penuh amarahku
Perih lukaku
Dendam membakarku

Siapa bertahta dalammu
Sampai kuasa kau mengoyakku
Hingga sumsum tulangku
Teriakkan pilu

Susah payah kugerakkan tubuhku
Bangkit, kataku
Pada kakiku
Pada serakan hatiku
Pada beling-beling hidupku
Pria sepertimu
Tak pantas miliki cintaku 

Aku Baik-baik Saja

Kau pikir cintaku kan bertahan?
dari hempasan badai di lautan?
sambaran kilat kala hujan
tak pudar walau berganti zaman?

Kau pikir cintaku begitu kuat
hadapi dirimu yang arogan
mengulur waktu, menggantung angan?
putarbalikkan keadaan
kaburkan persoalan
sewenang-wenang kau permainkan
tak kau punya kepedulian

Kau pikir aku kan bersabar
menantimu pahami rasa
menunggumu lebih dewasa
pahami yang kukata
lelah sudah jiwa nan gundah
kecewa mendera
amarah tak jua reda

Aku bukan Cinderella, wahai Pangeran
Denganmu aku bahagia
Tanpamu, aku baik-baik saja 

Dapatkah Kau Percaya

Dapatkah kau percaya
Pada dia yang sama
Tusukan yang sama
Pisau berbeda

Tertidur dengan airmata
Terjaga dengan airmata
Tetap tak terhapus luka
Teringat dan tersiksa

Menangis
Dalam pelukan yang sama
Masih membuat nyaman jiwa

Tenggelam dan muncul
Ingin lupa
Ingin percaya
Tak bisa
Ingin lepas
Berkelana
Tapi tak bisa

Di sini pangeranku
Menikamku
Lagi dan lagi
Lalu membalut lukaku
Darah tetap menetes

Kudekap ia erat-erat
Terus berusaha percaya
Entah dapatkah…

Batasku

Di batasku kini ku berdiri
Tak tahan lagi
Keangkuhan diri
Sia sudah melayani
Tiada arti mengabdi
Ketidaksempurnaan manusiawi
Kesalahan ditoleransi
Cinta, lagi, dan lagi
Berjuta maaf penuh kasih
Mintamu tenangkan hati
Tiada tanya kuberi
Kau bergeser kanan kiri
Ubah fokus, kau berlari

Usia bukan ukuran
Kedewasaan diangankan
Ku berdansa sendiri
Hari demi hari

Aku letih, sayangku
Sebelum cinta menjadi benci
Kuundur diriku pergi

Seandainya Dulu

Seandainya dulu kita bisa lebih meredam amarah
Melihat jauh ke belakang perjalanan cinta kita
Kala ku menatapmu dari kejauhan
Dalam gelap musim dingin nan kelam
Ketika suara metro terakhir berlalu dalam larutnya malam
Dan ku tenggelam dalam lamunan
Menatap sosokmu berdiri di seberang
Bertutur, menyapa, tergelak, aku tertawan
Sorot matamu gemerlap berbinar
Memanggil perempuan rapuh ini mendekat,
Membaringkan diri di dadamu yang menawarkan ketenangan
Jauh, jauh, begitu jauh semua rasa itu

Kau Arjunaku, janjikanku kebahagiaan
Kesetiaan, kejujuran, ketulusan
Dan kuserahkan padamu utuh hidupku dengan penuh kepercayaan

Tetapi dalam kenaifan hati nan muda
Kegetiran ayah penuh kecemasan
Kau hempaskan perempuan yang pernah ada
Kau kuburkan gadis nan belia dalam ketidakmengertian dan kekakuan
Prinsip dan idealisme yang tak pernah mengenal kenyataan
Tersisa lelah, sangat lelah, mengais sisa-sisa rasa yang masih ada
Di antara isak tangis, begitu kering, dalam jenuh membunuh jiwa 

Ketika akhirnya kita tak pernah paham
Bagaimana bisa tiba di titik perpisahan
Dan kita pun berucap selamat tinggal
Di musim semi kala bunga bermekaran

Kini dalam kemarahan, demi mereka yang tercinta
Kita terikat untuk selalu berjumpa
Lantas kita menuturkan sarkasme dalam ketidaksabaran
Di balik rasa sesal menggerogoti sukma

Seandainya dulu aku mampu melihat lebih jernih persoalan
Seandainya dulu aku mampu membelai rambutmu saat kau di pangkuan
Seandainya dulu aku berani mengungkapkan yang tidak kuinginkan
Seandainya dulu sosok-sosok itu mampu kubenamkan
Tetapi aku tak mampu, dan tak akan pernah mampu melakukannya sendirian

Terkadang kudengar bisik alunan melodi senja
Masih ingin kuberdansa denganmu kekasihku,
Keinginan yang tak kesampaian
Kau selalu biarkanku berdansa sendirian
Seandainya kau mengerti betapa itu sangat melelahkan 

Sesungguhnya, cintaku, kini di balik kemarahan dan dendam
Hanyalah cerita tentang kelelahan yang melumpuhkan
Mencabut keperempuananku sampai ke akar terdalam
Seandainya, seandainya saja engkau paham
Betapa luka begitu perih ketika cinta dan asa yang pernah ada dulu begitu kuat

Begitu kuat menyesakkan, begitu kuat membangkitkan
Kini kurela menanggalkan semua andai-andai
Tuk mencintai dia yang berdiri di hadapan

Normandie, 2020