Ketika Anda mendengar kabar istri Anda yang masih dalam tahap belajar mengendarai mobil, secara tidak sengaja menabrak pintu pagar car port rumah Anda yang menyebabkan pintu pagar tersebut rusak/penyok, kira-kira apa yang akan Anda lakukan? 

Bersyukur kondisi istri Anda masih baik-baik saja, sehat wal afiat. Bersyukur mobil Anda hanya penyok bagian bumper belakang saja, tinggal urusan ke kantor asuransi untuk klaim penggantian, beres deh.

Bagaimana dengan pintu pagar car port Anda yang penyok? Karena gugup atau buru-buru, mungkin Anda akan mencari tukang las terdekat dari rumah, diminta datang ke rumah untuk survei kerusakan, mengestimasi biaya perbaikan, serta lama proses pekerjaan sampai pintu pagar tersebut berfungsi normal kembali.

Dalam kondisi di atas, apakah Anda akan sempat menanyakan keahlian tukang las tersebut? Berapa lama pengalaman kerja sebagai tukang las? Pengelasan apa saja yang sudah pernah dilakukan? Sertifikat apa saja yang dimiliki yang mendukung pekerjaan sebagai tukang las? 

Karena dirasa pekerjaannya sederhana (simple, low cost, low risk, low technology, dan low impact) dan pingin kerusakannya agar segera beres, serta biaya yang semurah mungkin, Anda mungkin tidak perlu menanyakan itu semua. Yang terpenting adalah hasil pekerjaannya bagus dan pintu pagar car port bisa segera berfungsi normal kembali.

Berbeda halnya di dunia industri, konstruksi atau migas misalnya, yang mempunyai ruang lingkup pekerjaan sangat rumit (complicated, high risk, high cost, high technology dan high impact). Memilih tukang las (welder) tentu tidak sesederhana tadi. Harus dicari yang benar-benar mempunyai keahlian atau kompetensi di bidang pengelasan. 

Bila sampai pekerjaan pengelasan itu tidak dikerjakan oleh ahlinya, risikonya akan sangat besar, yaitu terjadinya cacat las (welding defect) dan bila ini tidak diantisipasi, bisa menyebabkan retakan, kebocoran sampai pecahnya pipa bila dialiri fluida bertekanan tinggi. Kerugian yang ditimbulkan bukan hanya material, tapi bisa juga kerusakan lingkungan karena paparan bahan kimia atau tumpahan minyak, bahkan juga bisa menyebabkan fatality atau korban jiwa. Belum lagi akan adanya social issue dari masyarakat di sekitar area kerja tersebut.

Kompetensi seorang welder tersebut harus bisa dibuktikan dengan sertifikat-sertifikat pendukung yang dimilikinya. Yang berwenang mengeluarkan sertifikat pun bukan dari lembaga sembarangan, misalnya Kementerian Tenaga Kerja Repubik Indonesia dan dan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). 

Untuk mendapatkan sertifikat tersebut, calon tukang las harus mengikuti pelatihan baik teori maupun praktek, serta ujian kompetensi. Keahlian tukang las juga ada level atau kelasnya, misalnya welder kelas I, welder kelas II atau welder kelas III. Tukang las dengan kualifikasi welder kelas 1 merupakan level tertinggi. Welder dengan kualifikasi ini diijinkan juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh welder kelas II dan III. 

Welder kelas II merupakan level menengah, di mana diperbolehkan melaksanakan pekerjaan yang dilakukan oleh welder kelas III tetapi dilarang melakukan pekerjaan welder kelas I. Welder kelas III merupakan welder dengan kelas terendah. Welder jenis ini tidak diperbolehkan melaksanakan pekerjaan yang dilakukan oleh welder kelas I maupun kelas II.

Di samping berdasarkan kelas tadi, welder dengan spesialisasi keahlian khusus tentu akan mempunyai pendidikan atau pelatihan dan sertifikat khusus juga. Misalnya kualifikasi pengelasan di bawah air yang biasanya sangat diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan lepas pantai (off shore) atau laut dalam (deep water).

Akan menjadi bencana lingkungan yang luar biasa bila kualitas sambungan pipa minyak atau gas dibawah laut tidak benar-benar proper dikerjakan oleh welder yang certified di bidangnya. Jangan ditanya berapa besar kerugian material yang harus ditanggung gara-gara salah dalam memilih tukang las.

Nah, paparan di atas adalah contoh tentang hal-hal teknis, yang berkaitan dengan benda atau material. Bagaimana halnya apabila yang diurus adalah manusia, seperti para ulama yang bertugas untuk merawat manusia atau ummat?

Esai ini ditulis bukan untuk membandingkan antara ulama atau penceramah dengan tukang las. Bagaimanapun juga antara ulama dan tukang las tidak akan mungkin bisa dibandingkan. 

Menurut Ustadz Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA., ilmu atau kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang ulama meliputi bermacam-macam bidang antara lain: ilmu yang terkait dengan Al-Quran, ilmu yang terkait dengan Hadits Nabawi, ilmu yang terkait dengan masalah fiqih dan ushul fiqih, ilmu yang terkait dengan Bahasa Arab, dan masih banyak lagi bidang keilmuan lainnya.

Sebagai contoh penjabaran, ilmu yang terkait dengan Al-Quran antara lain ilmu tajwid, qiraat, tafsir, asbababun-nuzul, hakikat dan majaz yang ada pada tiap ayat Quran, dan masih banyak lagi cabang ilmu lainnya. Ilmu yang terkait dengan hadits nabawi antara lain ilmu tentang sanad, rijalul hadits, teknis mentakhrij hadits, mushthalah (istilah-istilah) dan seterusnya. 

Belum lagi ilmu-ilmu yang terkait dengan fiqih dan ushul fiqih yang begitu banyak cabangnya. Jadi, bisa dibayangkan betapa beratnya untuk bisa menjadi seorang ulama yang benar-benar ulama.

Ulama tidak bisa hanya dinilai dari penampilan fisiknya saja, tapi juga ucapan dan tindakannya, karena ulama merupakan pewaris nabi yang akan menjadi teladan atau panutan bagi pengikutnya. Seorang ulama harus mempunyai dasar keilmuan yang jelas, yang bisa didapatkan dari lembaga pendidikan formal atau non formal, pondok pesantren dalam waktu yang cukup lama. 

Tidak bisa hanya berbekal belajar dari google dan youtube atau portal-portal abal-abal yang tidak jelas penanggung jawabnya. Seorang ulama diharapkan bisa menyejukkan jamaahnya dengan tutur kata yang lembut dan kasih sayang dalam menyampaikan ilmunya.

Kadang kita jumpai ulama yang tidak jelas asal-usulnya, mendadak dipanggil Ustadz atau Ustadzah, Kyai, bahkan Gus. Belajar agamanya dimana, gurunya siapa saja, kitab apa saja yang sudah dikuasai, latar belakangnya bagaimana, dsb. tapi sudah berani tampil ceramah hanya bermodalkan orasi, ujaran kebencian, menyebarkan berita bohong, paham radikalisme, mencaci maki, menganggap sesat kepada yang tidak sepemahaman, dsb.

Ini sangat berbahaya bila dijadikan dasar pembenaran bagi pengikutnya yang hanya berprinsip sami’na waatho’na (kami mendengar dan kami taat), tanpa mau berpikir atau mencari sudut pandang atau pendapat yang berbeda. Ancaman perpecahan di antara sesama umat atau sesama warga negara sangat besar sekali.

Karena adanya potensi risiko yang cukup besar diatas, Kementrian Agama membuat program sertifikasi penceramah untuk para penceramah yang memang berkompeten. Namun, ada pihak-pihak tertentu yang menolak program ini karena adanya kecurigaan bisa disalahgunakan pihak tertentu sebagai alat untuk mengontrol kehidupan keagamaan.

Menurut Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa'adi, “Sebenarnya program dai dan penceramah bersertifikat adalah program biasa yang sudah sering dilakukan oleh ormas-ormas Islam atau lembaga keagamaan lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas dai serta penceramah agama agar memiliki bekal dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. 

Maka, seorang dai dan penceramah agama, misalnya perlu dibekali ilmu psikologi massa, public speaking, metode ceramah sesuai dengan perkembangan zaman, dan juga pemahaman Islam wasathiyah atau moderasi beragama serta pemahaman wawasan kebangsaan.”

Dengan analogi tukang las di atas, Anda bisa menyimpulkan sendiri kira-kira seberapa perlu sertifikasinya. Bila menurut Anda tugas ulama hanyalah yang simple, low risk, dan low impact, mungkin gak perlu-perlu amat sih sertifikasinya. 

Namun, bila Anda merasakan, tugas ulama itu cukup complicated (menguasai berbagai cabang ilmu), high risk (resiko dunia dan akhirat), dan high impact (kemakmuran, kemajuan suatu bangsa atau malah kerusakan dan kehancuran suatu bangsa), mungkin Anda akan sangat merasa perlu program sertifikasi ulama ini.