Penulis Lepas
6 hari lalu · 466 view · 3 menit baca · Filsafat 76496_62979.jpg
Pexels

Seberapa Nyatakah Dunia Ini?

Tiga buah garis sedang berdiskusi.

Garis yang pertama bertanya, "Tahukah kalian kalau kita hidup di dunia 1 dimensi?”

"Iya, tahu,” jawab garis yang kedua.

"Bagaimana jika ada sebuah dunia 2 dimensi di luar sana, yang lebih ruwet dari dunia 1 dimensi kita ini?” tanya garis pertama lagi.

"Ah, dasar gila. Sangatlah tidak mungkin!” bantah garis ketiga.

Rupa-rupanya, selama ini ketiga garis tersebut saling bersentuhan satu sama lain, dan membentuk sebuah pola, yaitu: segitiga. Dan kini segitiga sedang mengobrol bersama segiempat juga lingkaran.

"Menurut kalian, adakah dunia yang lebih nyata dan lebih tinggi dari dunia kita ini?” tanya segitiga.

"Dunia 3 dimensi maksudmu?” segiempat menyoal balik.

"Iya.”

"Dasar sesat! Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak!” hardik lingkaran.

Pada selembar kertas folio, telah tergambar pola segitiga, segiempat, dan lingkaran. Pola-pola tersebut digambar menggunakan pensil, dan gagang pensil itu kini tengah digenggam oleh seorang bocah berumur 15, yang lagi merenung di meja belajarnya.

"Mungkinkah di luar sana ada dunia 4 dimensi yang jauh lebih kompleks dari dunia 3 dimensi ini?” batin si bocah sembari mengetuk-ngetuk ujung pensil ke pipi kanannya.

Bisakah kalian membantu si bocah menjawab pertanyaannya? Kira-kira, kayak apa rupa dunia 4 dimensi?

Seperti yang telah kita ketahui dari pelajaran matematika, yang mana dikatakan bahwa objek 1 dimensi adalah bayangan dari objek 2 dimensi, objek 2 dimensi adalah bayangan dari objek 3 dimensi, dan seterusnya, dan seterusnya.

Jika memang demikian, berarti kita manusia—yang hidup di dunia 3 dimensi—tak lebih dari bayangan semata bagi mereka yang hidup di dunia 4 dimensi, 'kan? Lantas, masihkah kita menganggap bahwa realita yang sedang kita hadapi ini sebagai nyata? Sebenarnya apa sih itu nyata?

Coba bayangkan ini, kawan. Jika kau lahir, besar, dan hidup di dalam sebuah pulau kecil lagi terisolir, akankah bayangan tentang pulau-pulau atau dunia luar—dalam hal ini, dunia yang lebih nyata—bakal terbersit di pikiranmu?

Untuk bisa lebih memahaminya, coba kita intip ulang Alegori Gua yang ditulis sekitar 2.400 tahun yang lalu, oleh salah satu pemikir terbesar dunia bernama Plato.

Jadi, dikisahkan ada sekelompok manusia yang telah ditawan di dalam gua sejak lahir, tanpa pengetahuan akan dunia luar. Mereka dirantai kaki dan leher, bertatap muka dengan sebuah dinding—tak bisa menengok ke mana-mana—sementara di belakang, ada api unggun yang tengah pancarkan cahaya lemah.

Terkadang orang-orang berlintasan di depan api, membawa binatang dan benda-benda, yang akhirnya menciptakan bayangan di dinding hadapan para tawanan—dan hanya inilah satu-satunya yang dapat mereka saksikan. 

Lantaran tak pernah melihat objek yang asli, para tawanan berpikir bahwa bayang-bayang siluet di dinding itu sebagai kenyataan yang sesungguhnya.

Tetiba, salah seorang tawanan dibebaskan lalu dibawa keluar gua untuk kali pertama. Sinar matahari menyakiti matanya, terik menampar kulitnya, hidungnya membaui asin yang bertiup dari laut, dan ia dapati segala macam yang ada di lingkungan baru itu sebagai sesuatu yang membingungkan dan tidak masuk akal.

Ia sama sekali tidak percaya ketika diberitahu bahwa segala yang ia lihat sekarang ini adalah benar-benar nyata. Baginya, satu-satunya yang nyata hanyalah bayangan. Ia masih merasa nyaman tenggelam dalam ilusi terdahulu.

Tapi lambat laun, matanya mulai menyesuaikan diri. Kini ia dapat melihat jelas pantulan diri sendiri di permukaan sungai, melihat langsung burung-burung yang lagi mengepak sayap, dan akhirnya pada matahari; yang mana adalah sumber energi utama dari segala yang pernah ia lihat.

Dia kembali ke gua untuk membawa kabar gembira, tetapi kini ia tak lagi terbiasa hidup dalam kegelapan, dan kesulitan dalam melihat bayang siluet pada dinding batu. 

Para tawanan lain berpikir bahwa perjalanan itu telah membuatnya bodoh dan gila, dan dengan keras menentang segala upaya yang coba ia lakukan untuk membebaskan mereka.

Alegori Gua Plato ini berusaha untuk menunjukkan tentang bagaimana rasanya menjadi seorang filsuf yang berusaha mendidik masyarakat. Kebanyakan orang tidak hanya merasa nyaman menjadi pribadi yang ignorant, tetapi juga memusuhi siapa pun yang bermaksud menunjukan kebenaran.

Plato berpikir bahwa coba memberitahu orang lain tentang kenyataan yang sesungguhnya, sangatlah berisiko. Karena orang kebanyakan tak mau keyakinan kolot dan sempit mereka dikontaminasi oleh hal lain. Jika mau, mereka bisa saja membunuh si pembawa kebenaran.

Jika saja suatu saat nanti datang secercah cahaya yang akhirnya melubangi dinding-dinding persepsi ignorant-mu, apakah kausudi membebaskan diri untuk berjalan menuju cahaya—meskipun harus dibayar dengan kehilangan teman juga keluarga?

Ataukah kau akan tetap bertahan, menaruh pantat di kursi ilusi yang telah diwariskan sejak turun-temurun dalam lingkungan konservatifmu?

Sebagai penutup, saya kutip tulisan Zhuangzi, seorang filsuf Cina yang lahir pada tahun 369 Sebelum Masehi.

"Dan kini aku tak tahu lagi, apakah aku adalah manusia yang bermimpi jadi kupu-kupu, ataukah aku hanyalah kupu-kupu yang tengah bermimpi jadi manusia."