1 bulan lalu · 223 view · 3 min baca menit baca · Saintek 33575_75043.jpg
medium.com

Seberapa Jauh Kita Bisa Percaya Kecerdasan Buatan?

Beberapa hari lalu, peneliti Samsung merilis Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang mampu membuat video palsu berisi wajah orang yang berbicara hanya bermodalkan sebuah foto. Para peneliti tersebut memberikan contoh video Monalisa yang sedang berbicara, padahal selama ini kita hanya melihat Monalisa yang berupa gambar lukisan.

Beberapa minggu lalu juga Snapchat merilis filter pada aplikasinya yang memungkinkan seseorang untuk mengubah wajahnya menjadi gender yang berbeda pada foto atau video. Artinya, seorang laki-laki bisa saja memfoto dirinya sendiri lalu kemudian mengedit foto tersebut sehingga dia menjadi terlihat memiliki wajah layaknya seorang perempuan.

Kecerdasan buatan merupakan teknologi yang paling banyak berkembang saat ini. AI banyak digunakan dalam berbagai hal, mulai dari mengecek kualitas barang hingga memprediksi dan menganalisis pergerakan saham dunia. Rasanya perkembangan kecerdasan buatan benar-benar tidak dapat dibendung.

Manfaat Kecerdasan Buatan dalam Berbagai Bidang

AI memang memberikan banyak solusi terhadap berbagai masalah yang membutuhkan kecepatan dan akurasi. Kebermanfaatan AI pun tidak hanya dirasakan pada satu bidang saja, melainkan banyak bidang.

Contohnya dalam bidang kesehatan. Dengan memanfaatkan penggunaan kecerdasan buatan, dokter dapat memprediksi keberadaan sel kanker pada tubuh seseorang dari hasil scan MRI. Hal ini tentunya dapat membuat dokter untuk segera mengambil tindakan dengan segera agar sel kanker dapat segera dikendalikan.


Dalam dunia industri, AI merupakan salah satu teknologi yang sangat umum digunakan. AI sudah menggantikan tugas manusia untuk melakukan quality control. Kecerdasan buatan mampu mendeteksi kesalahan dengan ketelitian hinga skala terkecil melalui sebuah gambar hasil produk.

Dan penggunaan kecerdasan buatan yang paling berkembang pesat dapat kita lihat pada industri digital. Sebut saja Google, Facebook, GOJEK, atau perusahaan aplikasi lainnya. Semua perusaahan tersebut memanfaatkan AI untuk mengolah data pengguna agar dapat memberikan saran paling tepat kepada pengguna.

Perkembangan Kecerdasan Buatan Saat Ini

AI saat ini sudah bukan lagi sesuatu yang sulit dilakukan. Banyak orang yang dapat ikut mengembangkan kecerdasan buatannya sendiri. Untuk hal-hal yang cukup sederhana, kita dapat mengikuti kelas daring di internet untuk mencoba membuat kecerdasan buatan kita sendiri.

Para peneliti di berbagai universitas dan perusahaan ternama sedang berlomba-lomba untuk menciptakan kecerdasan buatannya masing-masing. Beberapa waktu lalu, Google dalam acara Google I/O merilis AI yang mampu mengidentifikasi produk tertentu hanya dari gambar yang diambil oleh kamera HP.

Tidak hanya yang berhubungan dengan gambar, Google juga memberikan pembaruan terhadap AI mereka, yaitu Google Assistant. Aplikasi yang bisa didapatkan pada gawai dengan sistem operasi Android ini telah mampu melakukan pemesanan melalui telepon dengan bercakap-cakap langsung dengan manusia asli.

Lain halnya dengan Tesla. Perusahaan yang terkenal dengan mobil listriknya ini makin memutakhirkan teknologi self-driving car-nya. Dengan ini, mobil Tesla dapat berjalan di jalan raya tanpa perlu ada pengemudi alias si mobil sudah otomatis mengemudikan dirinya sendiri. Dan hal ini sudah sangat dekat untuk dapat direalisasikan.

Perkembangan kecerdasan buatan saat ini benar-benar tidak bisa dibendung. Bahkan rasanya saat ini kecerdasan buatan sedang dirancang agar dapat mengatasi seluruh masalah yang ada di berbagai bidang. Sebentar lagi, segala teknologi akan memiliki kecerdasan buatan di dalamnya, mulai dari hal kecil hingga hal besar.

Seberapa Besar Kecerdasan Buatan Dapat Dipercaya

Pada tahun 2017, kecerdasan buatan yang dikembangkan Google mampu mengalahkan seorang juara dunia dalam permainan Go. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan mampu melampaui kecerdasan manusia dalam bidang permainan papan. Bukan tidak mungkin apabila selanjutnya kecerdasan buatan melampaui manusia dalam hal lainnya.

Lalu seberapa besar kita dapat memberikan kepercayaan kepada kecerdasan buatan dalam mengambil alih pekerjaan kita? Apakah kita dapat benar-benar percaya bahwa mobil tanpa sopir yang kita naiki tidak akan melakukan kesalahan atau eror yang mengakibatkan kecelakaan bagi kita atau orang lain?


Kembali lagi kepada hasil peneliti dari Samsung tadi. Dengan teknologi ini, makin memungkinkan apabila selanjutnya beredar video seseorang berbicara tentang suatu hal padahal hal itu bukan kenyataan melainkan hanyalah video buatan sebuah AI. Sedangkan kita tidak dapat membedakannya karena hal itu terlihat benar-benar nyata.

Bagaimana seharusnya kecerdasan buatan ini dikembangkan sehingga masyarakat tidak khawatir akan ada AI yang memberontak dan memberikan ancaman kepada umat manusia? Kita harus menggali kembali apa alasan AI ini perlu dikembangkan. Bahwa perkembangan AI ini selayaknya perkembangan ilmu pengetahuan lainnya.

Sejatinya, perkembangan ilmu pengetahuan ditujukan untuk membantu umat manusia dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Begitu pula perkembangan kecerdasan buatan. 

Pengembangan AI perlu didasari dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami manusia. Jangan menambahkan hal lain yang kemudian akan membahayakan diri kita.

Pengembangan AI kemudian perlu dibuat regulasi yang dapat membatasinya agar selanjutnya tidak ada orang yang mengembangkan AI dengan tujuan yang akan membahayakan umat manusia. Dengan ini, kita bisa yakin bahwa apa yang kita kembangkan tidak akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari.

Artikel Terkait