67825_67542.jpg
cursoacesso.com.br
Budaya · 5 menit baca

Seberapa Hoaks Hidupmu di Zaman Now?

Kalau lagi bosan-bosannya, dan tidak tahu mau ngerjain apa, Facebook adalah solusinya. Asyik saja melihat ragam manusia di media sosial itu. Bermacam tingkah manusia di sana. Ada yang berkeluh kesah, ada yang pamer, ada yang membangun citra dengan status (sok) bijak, alim, pengetahuan yang tinggi dan apa pun yang kiranya bisa didapat melalui bantuan Google.

Memang, laju jaman dengan seabrek teknologinya membuat hidup menjadi lebih mudah. Mau kelihatan pintar di dunia maya, mudah saja. Tinggal ketik kata kunci, enter, klik, ketemu, baca-baca dikit, lalu copas! Mau debat-debatan di kolom komentar, juga oke. Tinggal masukin kata kunci, enter, klik, ketemu, baca-baca dikit, trus copas! Kuda pun meringkik!

Waktu Indonesia masih zaman old, mencari topik yang mau dipelajari mesti berburu buku. Kalau tak mampu beli yang asli dan baru, bajakannya pun jadi. Kalau tak mampu juga beli yang KW-an, solusinya fotokopi. Kalau tak mampu juga, pinjam. Kalau tidak ada yang mau minjamkan, ya sudahlah, cari buku dengan topik atau ilmu yang lain saja, mungkin kamu tak cocok kerja di air.

Beda sama sekarang. Mau tahu kajian soal syariat sampai makrifat pun tinggal enter, klik, enter, klik, scroll, klik...dapat!

Tapi berilmu tak segampang itu. Orang yang berilmu tak hanya khatam teori, tapi juga musti beraksi. Ada pengaplikasiannya dalam hidup. Bukan sekadar baca, terus tahu, kemudian selesai.

Facebook, semakin banyak pertemanan maka semakin banyak status yang bisa dilihat. Yang paling bikin tak enak hati, teks untuk foto atau video yang dibagikan di media sosial kadang ditulis seenaknya atau sesuai dengan penafsiran si empunya status. Barusan saya lihat di Facebook ada video, masih berupa thumbnail atau gambar kecilnya. 

Saya tertarik membukanya, karena di thumbnailnya nampak seorang pemuda tatoan menangis. Di depan pemuda itu duduk tentara wanita menghadap ke dia. Sepertinya itu video lokasinya kalau gak di Thailand, bisa jadi Vietnam. Pemilik akun mengartikan dan mengetik di keterangan video dengan mengejek pemuda itu. Badan aja yang tattoan, tapi di depan tentara wanita, malah mewek.

Oke, saya lagi bosan dan video itu pun sudah berhasil membuat saya penasaran, klik. Ternyata video itu tak seperti anggapan si orang yang membagikannya. Setelah saya putar, tampak tentara wanita sedang mengoles cairan lengan si pemuda yang penuh tatto, kemudian menyuntikkan sesuatu. Timbul pertanyaan, si pemuda mau dihapus tattonya atau dia memang lagi disuntik cacar. Tapi apa iya sebesar itu masih disuntik vaksin? Bisa jadi itu suntik rabies.

Kalau memang si pemuda menangis bersimbah aimata gara-gara tattonya mau dihapus mbak tentara, menurut saya itu wajar. Setiap motif tatto pasti punya cerita, cerita yang menyimpan kenangan. Seolah kalau tatto terhapus, kenangan pun menguap bersama awan. Ckckck.. Bisa jadi begitu tentang apa yang dirasakan si pemuda.

Itu satu contoh (yang tidak menarik). Contoh tentang beragam analisa, definisi dan persepi ketika ada foto atau video yang dibagikan orang-orang di dunia maya. Ketika foto atau video itu dibagikan secara berantai dari A, B, C, hingga ke Z pun kemudian bisa berubah arti. Dan hoaks pun tercipta. Lalu banyak dari kita yang percaya dan menerima saja tentang apa yang baru saja dilihat di media sosial. Melihat video bahasa Thailand, ada subtitle Indonesianya, langsung percaya saja. Kan bisa jadi ternyata yang bikin subtitle niatnya bercanda. Seiring rantai shared dari akun satu ke ribuan akun selanjutnya, bahan candaan pun bisa jadi seriusan.

Terus ada lagi. Foto ojek online lagi bonceng pocong. Foto macam begini menciptakan dua kubu, kubu serius dan bercanda. Yang serius jadi ketakutan, yang bercanda hanya bisa tertawa. Lagian kok ya mudah sekali percaya? Hasil foto dan video itu bisa setting-an. Mau dibikin seolah-olah begini, seolah-olah begitu, mudah. Tinggal setting. Jangankan perilaku atau kejadian, upload muka ke media sosial juga bisa hasil setting-an. Apalagi sekarang kostum itu nomor satu. Tinggal pakai kostum, tanpa peduli isinya, seolah sudah menjadi sesuatu.

Dan begitulah, berita palsu itu memang nyata adanya. Tapi tidak semua berita palsu dibikin oleh seseorang denga niat menyebarkan kebencian, fitnah dan sejenisnya. Kadang ada juga yang maksudnya bercanda, seperti beberapa meme kurang kreatif yang tersebar di internet. Tapi masalahnya, sudah tahu ada berita palsu yang dibikin dengan maksud bercanda, malah ditanggapi serius dan berapi-api.

Tapi bagi yang hobi bercanda, tolong juga candaannya di batas wajar. Jangan sampai menyinggung SARA (nanti si Doel marah). Soalnya SARA itu sensitif. Sudah menyangkut keyakinan dan harga diri. Berita bohong, terserah niatnya sekadar bercanda atau serius, tapi kalau sudah menyangkut SARA, itu bahaya.

Banyak juga yang sebenarnya adalah berita asli, tapi seiring rantai-rantai share, isinya pun sudah berubah jadi hoaks. Akun pertama kasih bumbu menurut analogi, persepsi dan definisinya, kemudian akun-akun berikutnya ikut membagikan dengan ditambahi lagi bumbu-bumbu yang kian pedas dan panas. Melihat ada berita pedas, yang lain ikut pula membagikan, plus ditambah bumbu opini dan sejenisnya, dan jadilah berita itu menjadi hoax yang red, hot, chili dan pepper.

Membaca tak sekadar membaca. Kalau sudah dapat tulisan yang dicari kemudian dibaca, tamat, selesai, dan kemudian mengklaim diri sudah paham. Bukan begitu menggali ilmu. Hasil survey dari studi Most Littered Nation In the World 2016, Indonesia berada di peringkat ke-60 untuk minat baca masyarakatnya. Peringkat 60 dari 61 negara. 

Lalu sekarang, dengan teknologi yang kian canggih, dan ketersediaan informasi yang luas, masyarakat pun merasakan kemudahan dalam mencari bahan bacaan melalui internet. Apapun tema, seperti yang saya bilang di atas, tinggal ketik kata kunci, enter, klik, baca-baca sedikit (dengan bahan tulisan yang ditampilkan si punya website atau blog atau portal berita belum seutuh dan sepenuhnya), lalu copas!

Membaca butuh ilmu pemahaman. Membaca pun bukan sekadar mengeja huruf-huruf. 

Dengan rendahnya minat baca dan teknik pemahaman yang sempit, terciptalah generasi yang merasa sudah menemukan, padahal masih mencari-cari. Media sosial dan mesin pencari di internet memang sudah sangat hebat. Media sosial membuat sebagian penggunanya seolah mendapatkan tempat yang bebas untuk bicara seenaknya tanpa etika, dan mesin pencari dijadikan pustaka yang dirasa sudah sangat luas, padahal sempit. Pikiran yang terbiasa sempit, susah untuk diajak terbuka. Seperti mereka yang menilai hidup hanya tentang nyata, padahal ada gaibnya.

Semua pasti ada sisi negatif positifnya. Ada efek buruk, ada efek baik untuk sebuah karya cipta. Saya pun sering menemukan quotes keren milik tokoh-tokoh ternama. Ada yang posting bahan bacaan yang penuh makna. Resep makanan, buat yang wanita (tapi kalau ini jangan sampai hoax, harga kebutuhan pokok makin mahal soalnya), foto-foto keren, indah dan memotivasi. Banyak hal positif yang bisa dibagi sebenarnya. 

Akhir kata, saya kutip dari Christoper McCandless (Into the Wild), "happiness only real when shared."

Peace!