Beredar luas ajakan atau seruan untuk melakukan boikot terhadap produk-produk dari Prancis. Ajakan ini merupakan bentuk protes berkaitan dengan adanya penerbitan kartun-kartun yang dinilai menghina Nabi Muhammad SAW dan tentu saja menghina umat Islam. Gerakan boikot ini sudah mulai di beberapa negara timur tengah dan Afrika.

Berawal dari pernyataan Presiden Prancis Emanuel Macron beberapa waktu lalu sangat kontroversial tentang Islam. Sebelumnya Macron telah menyatakan tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi di negaranya. 

Pernyataan tersebut langsung memicu kemarahan oleh negara-negara Arab dan warga muslim. Selain itu, Macron juga menyinggung Islam sebagai agama yang berada dalam situasi krisis di seluruh dunia. Bahkan, Macron berjanji akan melawan kelompok Islam yang separatis, dan menurutnya mengancam. Dia pun akan mengambil kendali beberapa komunitas muslim di Prancis.

Pernyataan-pernyataan sensitif dari Macron memang sangat disayangkan dan tidak sepatutnya diucapkan seorang pemimpin dari sebuah negara yang sangat majemuk dan sangat berpotensi menimbulkan kekacauan. Seharusnya dia bisa menjadi jembatan pemersatu dengan berupaya semaksimal mungkin menghindari potensi-potensi konflik horisontal warganya. 

Kali ini kita tidak membahas lebih jauh mengenai pernyataan Macron tersebut, tapi mencoba melihat sisi lain dari warga Prancis. Kalau kita lihat pada komposisi penduduk Prancis, lebih dari 7 juta jiwa beragama Islam (Wikipedia). Jumlah tersebut menempatkan Prancis sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di Eropa. 

Sebagian besar mereka merupakan imigran dari negara-negara di Afrika antara lain, Libya, Maroko, Aljazair, serta ada juga dari negara-negara Timur Tengah yang bermigrasi ke Eropa terutama Prancis. Prancis memang dikenal cukup terbuka bagi para pendatang terutama dari negara-negara bekas jajahannya.

Sebagian besar pendatang atau imigran tersebut bekerja sebagai buruh di berbagai industri di Prancis. Sekitar tahun 1960-an, ribuan buruh dari Timur Tengah berimigrasi secara besar-besaran ke daratan Eropa, terutama di Prancis. 

Konflik yang sering terjadi di negara-negara Timur Tengah dan Afrika menjadi penyebab terjadinya migrasi-migrasi ini. Peran buruh migran asal Afrika dan sebagian Asia membuat agama Islam berkembang dengan pesat. Mereka mendirikan komunitas atau organisasi untuk mengembangkan Islam di sana. 

Selain buruh, para pelajar dan mahasiswa dari Asia dan Afrika juga banyak yang berdatangan ke Prancis yang memang cukup terbuka untuk menuntut ilmu disana. Kedatangan para pelajar ini menjadi faktor penting yang mengambil peran besar dalam mendorong penyebaran Islam di Prancis.

Jadi, bagi yang penggemar sepak bola, tidaklah heran bila kita lihat susunan pemain tim nasional Prancis yang majemuk dan malah mayoritas bukan berwajah Eropa. Sebut saja Paul Pogba, N’Golo Kante, Kurt Zouma, Houssem Aouar, dan Wissam Ben Yedder. Bahkan ada pemain legendaris Prancis yang juga menjadi idola muslim sedunia yaitu Zinedine Zidane yang berdarah Aljazair.

Terkait dengan aksi boikot terhadap produk-produk Prancis yang sedang marak saat ini, dan bila berlansung lama, maka bisa berpotensi untuk merontokkan industri-industri di Prancis. 

Efek lebih jauhnya lagi adalah terhadap para pekerja atau buruh-buruh di sana yang mungkin bisa sampai kehilangan pekerjaan dan sumber pendapatan buat keluarganya. Dan di sana juga ada warga muslim yang jumlahnya cukup besar yang pastinya akan terdampak juga bila dunia industri di Prancis sampai rontok.

Artinya, apa yang tadinya diserukan sebagai aksi ungkapan solidaritas sesama muslim malah bisa berbalik menyengsarakan saudara-saudara muslim kita disana. Mungkin para pengusaha pemilik industri tidak begitu terpengaruh atau mendapatkan dampak juga tapi tak sebesar dampak dari para buruh atau pekerja yang sampai kehilangan pendapatannya.

Di Indonesia sendiri ada beberapa nama brand yang cukup dikenal dari Prancis di bidang kosmetik, fashion, elektronik, otomotif, dirgantara, dan mungkin retail. Di bidang industri kosmetik, terdapat pabrik L’Oreal yang merupakan pabrik terbesar di dunia yang menyerap tenaga kerja lokal sampai 800 orang. Belum lagi karyawan di jaringan distribusi dan retail pemasarannya. Jumlah yang cukup besar, dan pastinya juga banyak yang muslim.

Di bidang industri makanan dan minuman, juga ada brand Danone dari Prancis yang mempunyai lebih dari 15.000 orang karyawan di Indonesia dan pastinya mayoritas muslim juga. Saat ini harga saham Danone sedang ambruk akibat aksi boikot ini.

Jadi, kembali lagi, esai ini ditulis untuk memberikan gambaran sisi lain atau dampak lain yang ditimbulkan dari aksi boikot ini.

Kalau memang tujuan dari aksi boikot ini adalah untuk memberi efek jera terhadap Presiden Emanuel Macron, apakah tidak ada cara lain yang lebih efektif atau tepat sasaran? Sampai kapan aksi boikot ini akan dilakukan? Jangan sampai malah menjadi bumerang atau efeknya berbalik mengarah ke saudara-saudara muslim kita yang akan sengsara akibat tindakan kita sendiri.

Bagaimanapun juga keputusan atas aksi ini adalah kembali ke masing-masing orang. Namun alangkah baiknya juga dipertimbangkan dampaknya dari sudut pandang yang lain. 

Semoga polemik ini bisa segera berakhir sehingga semua bisa kembali normal dan saling menghargai antar umat beragama. Tidak ada lagi tindakan yang bisa menyinggung atau menghina agama atau keyakinan pihak lain dimana pun juga.