Belakangan terdengar berita tentang seorang anak yang nekat menghabisi nyawanya sendiri, mencari perhatian di sosial media untuk menarik simpati banyak orang, atau bahkan dengan tega melukai orang-orang di sekitarnya bahkan dirinya sendiri. 

Kejadian ini bukan sekali dua kali terjadi. Anak bisa saja melakukan percobaan bunuh diri atau melukai orang lain sejak usia 10-15 tahun. Usia yang di mana mereka mengalami masa pertumbuhan.

Hal tersebut perlu diperhatikan bagi masyarakat Indonesia, khususnya orang tua untuk lebih memperhatikan perkembangan anaknya. Memantau dan menanyakan banyak hal tentang sesuatu yang dialaminya di hari itu untuk memastikan perkembangan anak berjalan tanpa adanya gangguan. 

Kesehatan mental sendiri dapat dipahami atau diartikan sebagai kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk berperilaku baik, serta dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. 

Untuk itu, jika kesehatan mental mengalami gangguan, maka seluruh hal yang telah disebutkan sebelumnya tidak dapat terpenuhi secara sempurna. 

Istilah depresi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai gangguan kejiwaan yang terjadi pada seseorang yang ditandai dengan keadaan perasaan yang cukup berbeda. 

Para ahli menjelaskan bahwa depresi merupakan gangguan kondisi emosional yang terjadi pada seseorang secara berkepanjangan, yang mempengaruhi banyak hal dalam dirinya. 

Kedua istilah tersebut sebenarnya memiliki kemiripan arti. Tapi yang membedakan, depresi memiliki tingkat urgensi yang lebih tinggi dari gangguan kesehatan mental. 

Mereka yang mengalami depresi berat terkadang memiliki imajinasi dan halusinasi yang lebih tinggi, bisa melakukan tindakan yang membahayakan diri maupun sekitar tanpa bisa terkontrol, dan mungkin menjadi sosok yang tidak percaya dengan lingkungan sekitarnya.

Jika dilihat dari mereka yang mengalami tingkat depresi cukup tinggi, mereka menganggap bahwa lingkungan keluarga menjadi pemicu utama hal buruk terjadi padanya. 

Kebanyakan orang tua di Indonesia seolah menerapkan sistem pembelajaran kepada anak dengan cara yang keras seperti menggunakan bentakan, pukulan, atau bahkan hukuman. Rasanya tak heran jika anak muda yang mengalami hal tersebut bisa depresi. 

Seorang anak yang hanya ingin didengarkan keluh kesahnya setelah melewati harinya. Belum lagi ketika mereka ditekan oleh orang tuanya untuk menjadi sosok yang sempurna. Bisa melakukan ini dan itu agar membanggakan orang tua, tanpa melihat batas kemampuan anak. 

Bahkan terkadang orang tua seakan memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu terlepas dari mereka sudah mengetahui atau belum bahwa hal itu tidak disukai anaknya. 

Walaupun pada beberapa kesempatan ungkapan dari orang tua benar, tapi seorang anak juga butuh kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Akan sulit bagi anak untuk percaya kepada orang tua jika orang tuanya saja tidak memberikan kepercayaan pada anaknya.

Lalu muncul pertanyaan, sebenarnya penting atau tidak untuk orang tua mendengarkan keluh kesah anaknya? Mau dilihat dari sisi mana pun, memberi kesempatan untuk anak berbicara, berpendapat, dan mendengarkan keluh kesahnya itu perlu dilakukan. 

Bukan hanya menumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua, tetapi hal itu juga memberi dampak psikologis yang cukup besar bagi anak. Anak akan lebih berani, percaya diri, bahkan hingga mampu mempertanggungjawabkan apa yang sedang dirasakan atau diucapkannya. 

Orang tua tidak berada di samping sang anak selama 24 jam, tapi terkadang mereka seolah menjadi sosok yang paling paham anaknya. Terkadang mereka menganggap sepele rasa depresi yang dialami anaknya. 

Terdapat juga kalimat yang sering terucap dari mulut orang tua jika memberikan batasan kepada anaknya. Walaupun pada beberapa kesempatan ungkapan dari orang tua benar, tapi seorang anak juga butuh kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. 

Akan sulit bagi anak untuk percaya kepada orang tua jika orang tuanya saja tidak memberikan kepercayaan pada anaknya.

Tidak jarang juga di sosial media terlihat banyak anak merasa depresi dan bunuh diri. Mereka membuka diri dan menceritakan semuanya di media sosial karena kurangnya perhatian dari orang tuanya. 

Bahkan beberapa orang yang dengan senang hati membuka diri di media sosial hanya mendapat bullying dari beberapa warga Indonesia. Ujaran tersebut tentu akan sangat mengena bagi mereka meskipun hanya sedikit yang melakukannya.

Kalau sudah jadi orang tua, harus bisa berpikir dengan jernih. Jangan mudah membandingkan kehidupannya di masa lalu dengan kehidupan anak saat ini. Jangan mudah menghakimi mereka dengan berkata bahwa mereka tidak tahu apa-apa. 

Seharusnya orang tua bisa berperan sebagai sahabat terbaik dan sahabat terdekat bagi anak. Mendengarkan semua keluh kesahnya walau rasa lelah setelah bekerja masih menghantui, memahami keluh kesahnya, sering meluangkan waktu menemani anak, dan memberikan kepercayaannya.

Jika memang orang tua tidak memberikan izin kepada anaknya, mereka harus bisa menjelaskan alasannya secara baik tanpa menyakiti hati seorang anak. 

Jangan pernah paksakan mereka untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Terakhir, zamannya saja sudah berbeda, pasti sikap dan pola pikir orang-orang di lingkungan sekarang juga berbeda.