Waktu terus berputar tanpa jeda, ia selalu hadirkan kegelisahan pada penduduk bumi manusia, tetapi manusia selalu menanam benih-benih harapan dengan tujuan agar benih itu tumbuh dan menjadi pohon yang membuat manusia-manusia lainnya merasa teduh ketika duduk dibawahnya.

Tetapi tetap saja sama, permasalahan yang ada dan tiba adalah sama halnya dengan waktu yang tanpa jeda untuk berputar. Seperti deru bumi tanpa berkeputusan. 

Terlebih-lebih penduduk bumi manusia Indonesia sedang merasa was-was akan sebuah masalah yang bisa saja mengakibatkan ketidaknyamanan tinggal di rumah sendiri, karena di tengah peperangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, juga Israel yang belum berhenti membuta rakyat Palestina menderita, kini tersiar kabar baru lagi, mengenai Sri Lanka.

Negeri yang berada di sebelah selatan benua Asia ini sedang digoncang masalah, perihal hutang negara yang terbayar.

Akibat dari hal itu, rakyat Sri Lanka melakukan protes terhadap pemerintahannya karena dianggap tidak mampu menjalankan sistem. Persoalan hutang tersebutlah yang membuat warga negara Indonesia seperti saya merasa was-was.

Karena hal yang serupa bisa saja terjadi dan melanda republik ini, mengingat tentang hutang pemerintahan negara ini yang belum kunjung berkurang tetapi malah bertambah.

Kita paham kondisi sosial ekonomi yang rusak ataupun terganggu bisa saja mengakibatkan kekerasan, tidak perlu jauh membuka lembaran buku-buku sejarah dunia, karena hal yang hampir sama dengan Sri Lanka pernah terjadi di negeri ini pada masa rezim Orde Baru.

KIta tahu bahwa segala hal buruk terjadi pada era itu. Dan potensi terjadi kembali hal buruk tersebut adalah: "ada" kendati itu adalah masa lalu bagi negeri ini, tetapi Sri Lanka dan masa lalu kelam pada masa Orba membuat republik ini bersandar pada "mungkin", mungkin terjadi dan mungkin saja tidak.

Tetapi mengenai kemungkinan untuk hal itu terjadi, banyak dari kita merasa pesimis, karena melihat kepemimpinan era ini. Dimana kepemimpinan di era ini terlalu banyak janji sehingga kata "kerja" yang diucapkan sebanyak tiga kali itu tidak diketahui untuk apa fungsi atau gunanya.

Adalah sesuatu yang wajar jika pesimisme atau rasa was-was itu ada dan melanda warga negara. Karena hal itu disebabkan oleh faktor kecintaan pada negerinya sendiri (nasionalisme) "tidak menginginkan negerinya berantakan" adalah kalimat yang dapat menggambarkan pesimisme warga negara tersebut.

Sudah seharusnya peristiwa 1998 dan Sri Lanka dijadikan pelajaran oleh para pemimpin republik ini, karena mereka digaji untuk memikirkan kesejahteraan bagi yang memberi gaji (rakyat).

Dan adalah sesuatu yang sangat klise jika diantara pejabat negeri ini masih mempertahankan ide perpanjangan masa jabatan Presiden sampai tiga periode melalui big data karena big problem sudah di depan mata dan menanti penyelesaiannya.

Dari hal-hal yang telah terjadi, membuat saya teringat pada perkataan Akademisi Rocky Gerung yang mengatakan bahwa negara bubar itu bukan karena radikalisme tetapi karena faktor utang.

Dari perkataan Rocky tersebut, kita harus segera mempersiapkan suatu konsep besar demi republik ini di mana kita harus menciptakan sebuah seni untuk memilih pemimpin. 

Tentu saja konsep kuatnya adalah intelektualitas harus melampaui elektabilitas, hanya dengan cara itulah pemerintahan akal dapat tercipta.

Tentu saja kita tahu bahwa masyarakat menengah ke bawah di negeri ini sedang terjebak pada kontradiksi habis-habisan yang diciptakan oleh para pemangku kebijakan.

Bukti dari hal tersebut bisa kita lihat dari rencana-rencana para pemangku kebijakan tersebut, seperti: pemindahan ibu kota.

Dimana rencana tersebut oleh parlemen telah disahkan menjadi undang-undang dan hanya perlu pelaksanaannya saja. 

Kita tahu negeri ini punya utang yang terhitung cukup besar atau cukup banyak, lalu lahirlah pertanyaan kritis yang cenderung skeptis: "darimana dana pemindahan ibu kota tersebut?"

Apakah dengan menambah jumlah hutang atau dengan menjual aset negara yang menyebabkan negara menjadi kekurangan aset?.

Kita harus kembali lagi pada pelajaran yang telah diberikan sejarah kepada kita, 1998 dan Sri Lanka. Sudah seharusnya dua pelajaran ini menjadi alasan bagi para pemangku kebijakan di negeri ini mencari semacam problem solving atas big problem yang terjadi.

Dimana waktu yang terus berputar dengan permasalahan-permasalahan yang datang silih berganti tanpa jeda perlu dijadikan sebagai cerminan untuk menyelesaikan permasalahan, karena pada dasarnya kita diburu waktu.

Dalam rangka menyambut 17 Agustus yang tidak lama lagi, sudah sewajibnya permasalahan demi permasalahan di selesaikan, karena jika tidak, negeri ini akan malu di hadapan dunia internasional sebagai negeri yang merdeka tetapi di dalam pengisian waktu merdekanya, negeri ini memiliki sekian banyak persoalan.

Terlebih-lebih permasalahan tersebut adalah permasalahan ekonomi seperti hutang negara dan kenaikan harga-harga di tengah daya beli masyarakat yang masih rapuh.

Kita juga tahu, bahwa peradaban dan ekonomi selalu  berjalan berdampingan, dimana ekonomi rusak maka peradaban akan mengikutinya begitu juga sebaliknya.  Karena ekonomi adalah primer bagi bumi manusia.

Maka dari itu kita sebagai warga negara juga perlu memberi masukan untuk para pemangku kebijakan: Sebelum revolusi mental perlu sekiranya para pemangku kebijakan untuk melaksanakan revolusi akal.