Kabar itu begitu kabur, seperti bendera-bendera perang, dipandang dari kota yang jauh... (Puisi Pemburu Kabar oleh Triyanto Triwikromo)

Keajaiban itu terjadi beberapa depa dari ibu kota. Tak jelas pangkal ujungnya pulau-pulau raib tiba-tiba. Di Teluk Jakarta: Pulau Ubi Besar, Ubi Kecil, Pulau Nyamuk, Nyamuk Besar, Pulau Dakun, dan Pulau Anyer Kecil adalah beberapa pulau yang dulu pernah ada. Inikah kegaiban yang David Hume menyebutnya miracle is violation of the laws of nature.

Pulau simbol kerentanan, rawan korban perubahan. Eksistensinya bergantung pada belas kasihan manipulasi kaum neo-kolonial nirmoral. Jika sudah seperti ini fakta ancamannya, tak banyak pulau yang punya akal menghadapinya.

Beberapa memandang pulau sebagai kapasitas pengendali perubahan iklim. Sementara yang lain yang enggan melegitimasi, keukeuh pulau-pulau adalah daerah terpencil yang tidak relevan dalam zaman yang kian terintegrasi secara dinamis.

Pagi itu Halte Rawa Buaya, Jakarta Barat lengang. Hanya seorang pekerja menyapu lantai pelat baja. Sepuluh kilo darinya, di Pelabuhan Muara Kamal, Penjaringan, Jakarta Utara riuh penumpang. Melalui megaphone kordinator perjalanan menyuruh penumpang segera naik perahu.

September tahun lalu. Kemarau masih di puncaknya, suhu berkisar 31 derajat. Dan saya belum tahu moncong perahu mengarah ke mana. Ke pulau apa. Awalnya saya hanya membebek seorang teman. Ia ibarat ayam jago penunjuk arah angin. Pokoknya Pulau Seribu. Demikian.

Pada tiang palka seorang pemuda bersandar. I am turned into a dream. I feel nothing, or I don't know what I feel. Yet it seems to me I am happy. Remaja murung melapalkan D.H. Lawrence: The Man Who Loved Islands. 

Ia hendak menyambangi ibunya yang sebagai perawat di Pulau Untung Jawa. Matanya mengepas pada burung cangak abu yang terbang merendah. Pemuda itu ingat akan perjalanan cintanya: cinta itu burung yang indah, yang mengemis untuk ditangkap, tapi menolak untuk disakiti.

Meski namanya Pulau Seribu, jumlah pulau di sini hanya 342 pulau. Pulau-pulau terbagi dua kecamatan; Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan yang menaungi Kelurahan Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa. Dan Kecamatan Kepulauan Seribu Utara di mana terdapat Kelurahan Pulau Kelapa, Pulau Harapan, dan Pulau Panggang.

Jika ditelusuri, di planet ini ada sekitar sepuluh persen populasi yang menetap dan mencari penghidupan di pulau-pulau sempit. Dan seperempat darinya membentuk negara berdaulat (Small Island Developing States-SIDS). Beberapa pemimpin negara pulau yang pemerintahannya inovatif dalam mengelola lingkungan, berinvestasi besar pada pengembangan sumber daya manusia dan teknologi, merekalah menjadi unggul dan berhasil memengaruhi dunia.

Dan dari ratusan pulau yang ada di Pulau Seribu, hanya 11 pulau saja yang berpenghuni; Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, Pulau Panggang, Pulau Harapan, Pulau Pramuka, Pulau Tidung, Pulau Payung Besar, Pulau Pari, Pulau Untung Jawa, Pulau Lancong Besar, dan Pulau Sebira.

Pulau bermetamorfosis misteri, adakalanya menjelma kontroversi yang mengancam dan sengaja ditenggelamkan. Di antara pulau-pulau di sini, bongkahan enigma sejarah menyisakan kesimpangsiuran. Setengah abad silam, di salah satu gugus di Pulau Seribu terkubur teka-teki ajengan renta yang oleh rezim Soekarno dicap sebagai pemberontak.

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia/NII, sebagai unjuk kecewa terhadap kebijakan pemerintah pusat dan hasil Perundingan Renville yang dinilai merugikan umat muslim. Ia pun hijrah ke hutan pegunungan di wilayah Garut dan Tasikmalaya. Hingga akhirnya ditangkap, dan di Pulau Ubi Sang Imam dieksekusi.

Diyakini sebelumnya aroma pusara Kartosuwiryo terendus di Pulau Onrust. Tapi sejarah yang tidak mengandung kebohongan terlalu membosankan. Dalam Kematian Kecil Kartosoewirjo Triyanto Triwikromo memuisikan detik kematian imam pembangkang dari Malangbong itu:

...selamat datang Tuan Pencabut Nyawa, selamat datang kampung anyir penuh pasir, selamat datang arloji yang sebentar hidup menunjuk detik terakhir..., 

...tentu saja kau jangan menangis, ada perahu dan malaikat yang mengantarmu pulang ke rumah penuh ayat..

Hingga tahun 80-an, Pulau Ubi masih berpenghuni. Namun struktur pulau bukan pualam, ia rapuh pada paparan angin, gerusan zaman, pun kerakusan. Selain karena abrasi, penggalian pasir masif yang kabarnya guna membangun Bandara Soekarno-Hatta membuat pulau porak-poranda. Pulau yang dulu hijau, jadi menciut dan gersang.

Warga pulau pun kesulitan dalam mencari air bersih. Tak mungkin dapat berkehidupan, mereka eksodus ke Pulau Untung Jawa yang mungkin menjanjikan. Beberapa dari warga sukacita, sebagian lebih meratapi. Lalu, sebatang pohon tanda pusara Sang Imam daunnya menguning dan tumbang.

Kini, tak hanya Pulau Ubi Besar atau Ubi Kecil, kelangsungan pulau-pulau di Kepulauan Seribu tak pernah aman dari ancaman. Setidaknya ada 23 pulau yang rawan tenggelam. Jika tidak ada tindakan rehabilitasi atau political will akan penanganan berkelanjutan, pulau-pulau yang “ribuan” itu hanya menunggu hilang. Abrasi atau aksi kerakusan manusia di sini kian luar biasa terjadi.

Ref:

  • Triwikromo, Triyanto.2015. Kematian Kecil Kartosoewirjo; Sehimpun Puisi. Jakarta: Gramedia
  • Hay, Pete. 2006. A Phenomenology of Islands dalam Island Studies Journal, Vol. 1, No. 1