16640_23058.jpg
Politik · 3 menit baca

Sebagai Partai Allah, PAN-Gerindra-PKS Wajib Usung Jokowi Jadi Presiden

Kemarin Amien Rais bilang, PAN, Gerindra, dan PKS harus bergabung dalam kekuatan besar bernama Partai Allah. Bahkan semua yang berjuang membela agama Allah, hizbullah, dipintanya untuk jadi anggota partai baru ini.

Proklamasi Partai Allah itu disampaikan Amien Rais dalam tausiahnya. Nada itu tegas mengemuka usai dirinya mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh di Masjid Baiturrahim, Jakarta Selatan (13/4). Boleh dikata, Partai Allah adalah gerbong arus utama dalam kancah perpolitikan nasional.

“Untuk melawan siapa? Untuk melawan hizbusy syaithan,” tegas Amien.

Kalau begitu, kita tidak butuh lagi sosok pemimpin seperti Vladimir Putin, kan? Anggapan Fadli Zon bahwa kejayaan Indonesia bisa diraih lewat pemimpin bermental pemberani dan tegas seperti Presiden Rusia yang terkenal otoriter dan korup, seketika terpatahkan. Sebab Partai Allah-lah, sebagaimana diyakinkan petinggi Alumni 212 itu, yang akan memenangkan perjuangan dan memetik kejayaan, bukan dengan Putin atau siapalah yang tidak plonga-plongo.

Sempat saya berpikir, tak ada yang lebih fiktif dari Partai Allah milik Amien Rais ini. Bagaimana bisa partai baru ini memenangkan dan memetik kejayaan? Kita sudah tahu, hanya ada 16 partai yang kelak akan bertarung di Pemilu 2019. Artinya, salah satu di antara merekalah yang akan memenangkan dan memetik kejayaan itu. Di mana Partai Allah? Tidak termasuk.

Lagi pula, sependek pengetahuan saya, tak pernah itu terdengar, baik dari PAN, Gerindra, PKS, maupun dari para hizbullah mendeklarasikan Partai Allah. Tradisi kita di Indonesia, kalau seseorang atau kelompok mau berjuang dan meraih cita-cita perjuangannya, perjuangan politik berkendaraan partai, ya sudah pasti harus mendeklarasikan partainya terlebih dahulu sebelum melangkah jauh.

Pendeklarasian itu pun sudah harus dilengkapi dengan segala tetek bengek partai yang dideklarasikan. Tidak hanya soal ideologi, arah perjuangan, dan aturan-aturan mainnya yang lain, soal siapa-siapa saja yang terlibat di dalamnya, pimpinan, pengurus, hingga kader, semua sudah harus beres. Ibarat gerobak, Partai Allah butuh subjek pendorong yang jelas.

Jangan samakan Partai Allah itu tahu bulat. Mendeklarasikannya tidak bisa semendadak begitu. Atau mungkin mau seperti Soekarno, memproklamirkan kemerdekaan, tetapi cara-cara mengisi kemerdekaan baru disusun rapi di kemudian hari dalam tempo yang sesingkat-singkatnya? Pikirkan sebelum bertindak!

Sungguh tak ada yang lebih fiktif dari Partai Allah milik Amien Rais itu. Digaungkannya ke muka publik sebagai pelawan hizbusy syaithan, Partai Setan yang di dalamnya ada orang-orang anti-Allah, yang merugi dunia-akhirat, padahal lawan-lawannya itu tidak jelas juga siapa-siapa saja yang Amien maksudkan.

Jauh lebih hebat lagi, Partai Allah diyakini punya cara berpikir yang hanya untuk Allah semata. Partai Allah adalah gelombang besar, katanya, yang didikte kehendak Allah. Ia lawan dari gelombang pro-setan yang merugi, yang karenanya pasti menang.

Bagaimana mau menang kalau wujud rupa Partai Allah sendiri masih buram begitu? Racik matang-matang dululah. Jangan biarkan saya atau orang-orang lain benar menganggapnya sebagai partai fiktif. Jangan seperti cebol merindukan bulan.

Tetapi, meski saya sempat mengiranya fiktif, tak ada salahnya jika saya harus ikut percaya. Toh itu adalah keyakinan. Namanya keyakinan, ya cukup diyakini saja, dipercayai. Apalagi keyakinan manusia, tak bijak kiranya untuk berburuk sangka.

Hanya saja, ini mesti dicatat, jika benar PAN, Gerindra, dan PKS adalah Partai Allah, atau hendak bergabung di dalamnya sebagaimana seruan Amien Rais, maka siapa yang nanti akan jadi lawan Jokowi kalau begitu? Bukankah dengan bergabungnya mereka ke dalam Partai Allah milik Amien Rais berarti mewajibkan para kadernya untuk mengusung Jokowi sebagai calon presiden?

Para pembaca mungkin akan bertanya-tanya, kok PAN, Gerindra, dan PKS wajib usung Jokowi? Jokowi adalah musuh bebuyutan mereka, masa lawan mengusung lawan?

Sini, biar terang, tidak ada kesalahpahaman, dengar atau bacalah pernyataan Ketua Umum MUI kita, KH Ma’ruf Amin. Sehari setelah Amien Rais memproklamirkan partai barunya, mendikotomikan partai-partai yang ada di Indonesia jadi dua kubu, Partai Allah dan Partai Setan, beliau muncul dengan ungkapan: Jokowi adalah Presiden pilihan Allah.

“Pak Jokowi yang dipilih Allah untuk jadi Presiden. Karena itu, Allah menitipkan bangsa dan negara ini kepada bapak (Jokowi) untuk mengawal dan membangun kesejahteraan bangsa dan negara,” jelasnya.

Itu berarti, kini dan ke depan, Jokowi masih punya tanggung jawab memimpin bangsa. Karena sudah jadi titipan Allah, itu kalau kita mau mengamini kata-kata sang kiai, maka Jokowi haram hukumnya berhenti sebagai presiden sebelum negeri ini benar-benar mewujudkan hilir Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Jadi, lagi-lagi mengikut pada tradisi perpolitikan kita—meski agak kolot sebenarnya—di mana kehendak pimpinan partai harus diikuti oleh kader-kadernya, maka PKS, Gerindra, dan PAN wajib usung Jokowi jadi Presiden. Sebab partai-partai ini adalah Partai Allah, sementara Allah sendiri memilih Jokowi sebagai Presiden.

Kalau tak mau, ya pilihannya hanya seperti ini: keluar dari Partai Allah—bisa juga tetap di partai ini jadi musuh dalam selimut; maju dengan partai sendiri—bisa juga maju sebagai petarung independen; atau memilih untuk jadi golongan putih saja.

Bagaimana? Sudah terang atau masih tegang—eh, gelap maksudnya?